Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 60 ° Kencan


__ADS_3

"Bukan," potong Banu.


"Bukan? Jadi direktur tidak akan marah?" tanya Raka polos.


"Itu tidak mungkin," tepis Banu. Raka tidak mengerti lagi. "Haras hanya cemas dan khawatir." Senyum Banu terlihat aneh lagi.


"Sepertinya saya tidak pintar hari ini, Pak. Senyuman Anda tidak bisa saya tebak." Raka berkata jujur. Dia penasaran dengan semua ekspresi Pak Banu.


"Oh, ya? Padahal itu sangat mudah di tebak. Seperti aku dan Mili," ujar Banu penuh misteri.


Mendengar nama Mili di sebut, Raka baru menyadari. Jika benar, apakah Haras dan Bu direktur ....


"Ya, mereka sepasang kekasih," ungkap Banu sendiri. Raka melebarkan mata. Kini ia merasa sendiri. Karena orang-orang di dekatnya sudah ada pasangan masing-masing.


"Sebaiknya aku mempersiapkan dulu semuanya sebelum menyerang Dirga. Pria itu pasti sudah menyiapkan antisipasi untuk segala kemungkinan," ujar Banu mengingatkan dirinya sendiri. Raka mengangguk setuju.


"Bukannya sebentar lagi ada rapat seluruh eksekutif lagi, Pak?" Raka mengingatkan.


"Ya. Sepertinya itu waktu yang tepat untuk mengungkap semua."


**

__ADS_1


Sesuai dengan janjinya. Banu muncul di depan toko. Tidak biasanya dia hanya menunggu di luar. Padahal biasanya ia langsung masuk dan mengajak Mili bicara tanpa peduli padahal gadis itu masih bekerja.


"Langsung pulang atau masih mau jalan-jalan?" tanya Banu yang kali ini sudah melepas seragam kebesarannya saat kerja, yaitu setelan jas. Sekarang pria ini hanya memakai celana bahan dan kaos oblong.


Mili sempat takjub pada tampilan fresh pria ini.


"Kemana?" tanya Mili masih canggung.


"Terserah. Kemana pun yang kamu mau," kata Banu siap mengantarkan.


"Maaf, saya tidak punya ide." Mili mengaku. Daripada ia harus berpikir dan memeras otak. Ini pertama kalinya dia di ajak kencan. Dia sedang kebingungan!


Mili segera masuk ke dalam mobil Pak Banu tanpa pikir panjang. Hingga akhirnya mereka tiba di taman kota.


Keduanya berjalan beriringan. Mili yang biasanya santai, kini terlihat gugup. Ia bingung harus bicara apa.


"Lemaskan bahu mu. Kita sedang kencan, bukan sedang wajib militer," canda Banu sambil menyentuh bahu Mili.


"Justru itu ...," gumam Mili seraya menipiskan bibir.


"Jadi aku membuat kamu gugup?" tanya Banu ingin tahu.

__ADS_1


"Tentu saja," jawab Mili singkat.


"Tapi yang aku lihat, kamu terlihat santai saja di depan Raka. Bahkan terlihat akrab." Banu ingat bahwa mereka pernah mempertontonkan keakraban mereka.


"Itu berbeda, Pak."


"Berbeda apanya? Aku dan Raka sama-sama lelaki. Jadi aku pikir harusnya kamu bisa bersikap santai pada aku juga kan?" tanya Banu.


Mendadak kaki Mili berhenti melangkah. Banu melirik. Ingin tahu kenapa gadis ini berhenti melangkah.


"Jika Pak Banu mau saya bersikap sama seperti saya di depan Kak Raka, itu artinya kita tidak perlu menjadi sepasang kekasih. Cukup menjadi teman saja. Saya dan Kak Raka kan hanya teman. Tidak ada perasaan cinta sama sekali, tapi jika bersama Pak Banu tentu saja saya gugup. Itu semua karena ..."


Oh?


Mili tidak jadi meneruskan kalimatnya karena Pak Banu tersenyum mendengar dirinya menjelaskan panjang dan lebar. Mili langsung mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Lanjutkan saja," kata Banu.


"Tidak perlu. Pak Banu sepertinya hanya ingin meledek saya saja." Mili tahu ia sedang dikerjai.


...___...

__ADS_1


__ADS_2