
Ternyata Haras tidak membiarkan Raka masuk ke ruang perawatan Banu sendiri. Dia masih mengawal Raka dan Mili. Raka paham itu. Dia tidak protes.
Mili tidak menduga kalau dia akhirnya di pertemukan dengan tubuh asli Pak Banu. Roh elit yang kini tinggal di dalam rumahnya dan menghantuinya dengan ketampanannya.
Tubuhnya tegang saat sudah berdiri tepat di depan pintu kamar perawatan. Pintu kamar terbuka perlahan. Dari sini, mulai terlihat sosok tubuh seorang pria di atas ranjang. Namun wajahnya masih belum jelas wajahnya.
Namun Haras membiarkan mereka masuk berdua. Dia cukup mengantarkan mereka saja.
Degup jantung Mili berdetak kencang. Ini pertama kalinya ia melihat wajah Pak Banu.
"Selamat malam Pak Banu," sapa Raka pada tubuh yang terbaring itu. Mili melebarkan mata sambil menutup mulutnya karena tertegun. Tampak wajah tampan pria ini yang terlihat pucat.
Mata Mili tampak berkaca-kaca tanpa sadar. Ia bergerak perlahan menghampiri sisi ranjang rumah sakit.
Halo Pak Banu, sapa Mili dalam batinnya.
Bola matanya beredar melihat ke sekitar. Dimana banyak selang yang terhubung pada tubuh Pak Banu. Mungkin tubuhnya memang terlihat baik-baik saja, tapi melihat banyak selang yang tersambung pada mesin medis, itu menandakan bahwa ada yang salah pada tubuh pria ini.
"P-pak Banu ...," sebut Mili lirih. Karena ia tidak sanggup lagi bicara banyak. Ia mendekat dan menyentuh ujung jari pria yang terbaring pucat itu. Hangat. Tubuh Pak Banu hangat. Berbeda ketika ia menyentuh tubuh rohnya. Mereka orang yang sama tapi dalam keadaan yang berbeda.
"Aku memang tampak menyedihkan bukan?"
Mendengar suara seorang pria lagi, Mili menoleh. Ternyata suara itu berasal dari Pak Banu yang berdiri di sebelahnya. Mili menggelengkan kepala seraya menahan buliran air mata yang menggenang di matanya tidak jatuh membasahi pipinya.
"Tidak Pak," sahut Mili setelah berhasil menahan tangis. Raka mengerjapkan mata terkejut mendengar jawaban ini. Dia menatap Mili dengan heran. Karena ia tidak mengatakan apa-apa.
"Jangan menghiburku. Aku tahu apa yang kamu pikirkan ...." Pak Banu tersenyum mendengar Mili menyembunyikan bola matanya yang berkaca-kaca.
"Kenapa muncul di sini?" tanya Mili tanpa berhenti menatap tubuh Pak Banu yang terbaring.
"Kamu bertanya padaku?" tanya Raka masih heran.
Namun saat Mili justru menghadap ke arah lain, dia paham bahwa Mili bukan bicara dengannya, melainkan bicara pada seseorang yang tak kasat mata di ruangan ini.
__ADS_1
"Aku pikir Bapak bersantai di rumah," kata Mili.
Raka berdecih karena sekilas merinding di tengkuknya. Dia sadar bahwa Mili bukan sedang bicara dengannya. Gadis ini sedang bicara dengan roh Pak Banu.
"Aku tidak bisa bersantai karena aku mendengar kamu sedang berkencan dengan Raka," terang Pak Banu melirik pria yang berdiri Tidak jauh darinya. Mili menoleh pada Raka dengan heran.
"Saya bukan sedang kencan dengan Kak Raka, Pak. Saya ini sedang menjenguk Bapak," sangkal Mili sambil menggeram. Dia malu.
"Jadi kamu ingin sekali bertemu dengan tubuhku?" tanya Banu sambil tersenyum hangat pada Mili.
"B-bukan begitu ..."
Raka merasa aneh dengan Mili yang terlihat bermonolog. Namun sepertinya dia harus terbiasa. Karena gadis itu sudah menjelaskan bahwa dia bisa melihat roh. Jadi kemungkinan sekarang gadis itu tengah bicara dengan Pak Banu.
"Apa ... kamu sedang bicara dengan roh Pak Banu?" tanya Raka lambat. Mili dan Pak Banu menoleh bersamaan.
"Ya," sahut Mili seraya menatap ke depan. Ke arah Pak Banu yang masih melihat ke Raka.
"Boleh aku ikut bicara?" tanya Raka merasa ingin tahu dan juga gila secara bersamaan. Mili tersenyum melihatnya.
"Kenapa aku mau bicara dengannya?" sungut Pak Banu yang sebenarnya tidak ingin bicara dengan Raka. Mili tergelak.
"Halo, Pak Banu. Saya Raka. Maaf saya tidak bisa menolong Bapak saat kecelakaan itu terjadi. Padahal hari itu seharusnya saya bersama Anda, tapi karena ada keperluan keluarga, saya meninggalkan Anda membawa mobil sendirian," ucap Raka dengan wajah menyesal.
Mili tertegun. Dia tidak tahu kalau Raka merasa bersalah karena itu. Ternyata dia sangat ingin bertemu dengan Pak Banu karena rasa bersalah. Mili menoleh pada Pak Banu.
Banu diam sejenak.
"Jangan merasa bersalah seperti itu. Semua cerita ini adalah takdir. Tidak ada yang bisa mengganti cerita ini selain mengikutinya. Mungkin ini takdirku. Ini jalanku. Termasuk harus bertemu denganmu Mili," kata Pak Banu seraya menatap Mili dengan hangat. "Aku tidak menyesal seperti ini karena akhirnya aku mengenalmu."
Raka melirik ke arah Mili yang masih menatap ke udara di sampingnya. Dimana ada roh Pak Banu di sana.
"Apa Pak Banu sudah pergi?" tanya Raka ragu. Mili tidak menjawab. "Mili?" tegur Raka lembut.
__ADS_1
Mili menggeleng lambat-lambat. "Pak Banu masih berdiri tegak di depanku," kata Mili membuat Raka merinding sekilas. Ia melihat tatapan Mili lurus ke sampingnya. Seperti benar-benar ada orang disana.
Mata mereka beradu.
Drrt ... Ponsel Raka berbunyi. Ia menjauh. Memberi kode pada Mili untuk menerima telepon di luar kamar. Namun Mili tidak merespon. Dia masih menatap Pak Banu yang mendekat padanya.
"Aku mungkin sedih karena harus terbaring lama di rumah sakit. Namun aku juga merasa bersyukur. Dengan adanya kisah ini, aku bertemu denganmu." Pak Banu berdiri sangat dekat dengannya.
Tangan pria ini mulai terulur dan menyentuh garis wajah Mili. Tubuh Mili seperti bergetar mendapat sentuhan dingin itu.
"Ku katakan sekali lagi, aku mencintaimu Mili," ungkap Pak Banu lembut. Wajahnya mendekat dan mulai mencium bibir Mili perlahan.
Dingin. Bibir pria ini sangat dingin, tapi kenapa aku merasa hangat karena ciumannya? Ini gila. Ini tidak masuk akal, tapi kenapa aku berdebar dan merasa senang?
Banu melepas pagutannya dari bibir gadis ini. Lalu mengusap bibir Mili yang tampak memerah karena ciumannya. Degup jantung Mili berdebar tidak karuan.
"Aku mendengar debaran itu," celetuk Pak Banu membuat wajah Mili merah.
"Kenapa mengatakannya? Seharusnya Pak Banu pura-pura tidak mendengarnya kan?" sungut Mili malu. Ia menunduk menyembunyikan wajahnya.
"Hahaha ... Sedikit berisik, tapi aku suka," ungkap Banu jujur. Mili tersenyum senang. Banu memeluk tubuh Mili. "Aku berharap bisa secepatnya kembali ke tubuhku
"Argghh ..." Tiba-tiba Banu mengerang kesakitan.
"Pak Banu," teriak Mili terkejut. Roh Pak Banu memegangi dadanya erat. "Ada apa?" Mili cemas.
"Dadaku sakit," jawab Pak Banu sambil merintih menahan rasa sakit yang menyerang dadanya. "Uggh ..." erang Banu sekali lagi.
"Sebaiknya Pak Banu segera pulang ke rumah. Aku juga akan pulang," kata Mili memberi perintah.
"Kamu tidak ingin melihat lebih lama tubuhku?" canda Banu.
..._____...
__ADS_1