Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 45 ° Perihal jodoh


__ADS_3

Pulang dari makan siang.


Rencana Banu untuk menemui Mili di toko roti gagal. Itu saja sudah membuatnya kesal. Di tambah lagi, makan siang tadi ternyata membicarakan soal perjodohan lagi. Banu lelah jika membicarakan itu.


Meskipun saat ini dia tidak punya kekasih, tapi di jodohkan itu sungguh menyebalkan.


Kepala Banu bersandar pada sofa. Dia merasa lelah jiwa dan raga. Lalu ia mencoba memejamkan mata untuk memenangkan diri.


Tok! Tok!


Pintu ruangannya di ketuk seseorang. Namun sebelum menunggu Banu mengijinkan, pintu terbuka. Jika begitu, kemungkinan itu adalah Raka.


Ternyata benar. Pria itu muncul dari balik pintu.


"Ada apa?" tanya Banu.


"Ada jadwal pertemuan dengan pihak ..." Raka tidak jadi meneruskan kalimatnya. Ternyata Banu hanya membuka mata sebentar. Setelah tahu itu Raka, dia memejamkan mata lagi. "Apa saya batalkan saja semua jadwal hari ini? Sepertinya Anda kurang sehat." Raka melihat wajah pucat.


"Ya, boleh. Geser ke belakang satu hari saja," kata Banu. Sepertinya pria ini benar-benar lelah.


"Baik Pak." Raka mengangguk dan hendak pergi.

__ADS_1


"Apa kamu pernah di jodohkan Raka?" tanya Banu mencegah langkah Raka untuk keluar ruangan. Dia menoleh pada Banu yang masih memejamkan mata.


"Tidak pernah, Pak." Raka menjeda. "Apa itu Anda?" tanya Raka. Ia ingat soal Pak Banu yang bakal di jodohkan.


Kali ini Banu membuka mata. "Ya. Aku di jodohkan oleh Presdir."


Dugaan Mili benar!


Raka menganggukkan kepala menanggapi cerita atasannya.


"Jadi Anda setuju atau tidak?" tanya Raka karena sepertinya Banu ingin mencurahkan isi hati tentang ini.


"Apa ada seseorang yang membuat Anda menolak ide itu?" tanya Raka hati-hati. Ia ingin memastikan sesuatu. "Mungkin saat ini Anda sedang dekat dengan perempuan lainnya."


"Kamu tahu aku sangat jarang punya teman wanita. Apalagi yang di bilang dekat," kata Banu. Raka menganggukkan kepala menanggapi. "Namun ada seseorang yang sekarang tengah mengusikku."


"Mengusik? Dia mengganggu Anda?" tanya Raka.


"Ya," jawab Banu sambil tersenyum. Kesan marah tidak ada dalam cara bicaranya. Padahal dia mengaku kalau ada seseorang yang sedang mengganggunya.


"Kenapa Anda terlihat bahagia saat ada seseorang mengusik Anda?" tanya Raka mulai mendalam topik pembicaraannya. Banu diam. Ini membuat was-was.

__ADS_1


Apa aku mulai lancang? Semoga aku selamat, mohon Raka.


"Karena meskipun dia mengusikku, aku justru ingin terus menemuinya. Aku ingin lebih dekat dengannya," kata Banu mengaku.


Ini menakjubkan bagi Raka. Pria ini mengakui kalau tertarik apa orang yang mengganggunya itu.


"Jadi orang yang mengusik Anda itu seorang wanita ..." Raka menangkap sesuatu yang ia ketahui. Banu tidak menjawab."Apa dia Mili?" tanya Raka akhirnya.


Banu menoleh pada Raka dengan cepat.


"Apa di wajahku terlihat nama Mili sampai kamu bisa menebak?" Banu heran.


"Semua orang tahu bahwa Anda sedang dekat dengan gadis itu. Bahkan Presdir pun mengetahuinya," kata Raka mulai bisa mengaitkan perihal mereka.


"Presdir? Apa maksud mu menyebut bibi ku di sini?" tanya Banu merasa tersinggung.


"Maaf sebelumnya saya mengaitkan presdir dalam perbincangan kita. Namun sepertinya Anda tidak tahu tentang itu jadi merasa aneh saat saya mengatakannya," jelas Raka.


"Apa? Apa yang tidak aku ketahui?" tanya Banu antusias. Bahkan dia memperbaiki posisi duduknya agar nyaman. "Katakan padaku Raka."


......................

__ADS_1


__ADS_2