Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 74 ° Tolong fokus


__ADS_3

"Ya. Laporan itu tidak sama dengan yang sebenarnya."


Banyak mata melebar seketika. Mereka terkejut soal laporan keuangan yang berbeda ini mulai dikuak.


"Apa yang Anda maksud Pak Banu? Kita sedang membicarakan soal kantor cabang yang tidak berkembang, bukan soal laporan Divisi Pak Dirga," ujar tim pengawas


"Saya mengatakan ini dikarenakan, ini juga adalah kasus yang hampir sama. Kenapa? Karena keduanya mungkin sama-sama di rekayasa," ujar Banu. Kali ini dia tidak akan memakai trik lagi. Dia akan terus mendesak dengan bukti yang sudah ia pegang.


Meskipun sama-sama memegang bukti, tapi dia yakin buktinya lebih akurat dan jujur dibandingkan dengan bukti tentang dirinya yang di pegang oleh Dirga. Karena bagaimanapun, bukti yang ada pada Dirga bukan yang sebenarnya.


Brengsek! Dia akan menyerang ku balik? Dirga menggeram dalam diam. Sungguh mengejutkan. Dia yang tadinya menguak perkara ketidakbecusan seorang Banu, kini menjadi orang yang akan di bahas untuk membicarakan masalah divisinya.

__ADS_1


"Saya juga akan menunjukkan pada kalian bukti yang saya pegang. Jadi apa yang saya katakan bukanlah omong kosong belaka." Mendengar Banu akan menunjukkan bukti, mereka langsung sedikit panik. Karena banyak orang yang ada di ruang meeting ini adalah antek Dirga. Itu artinya, tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan bonus lebih dari penggelapan dana oleh Dirga.


"Tolong, sekretaris Raka. Anda bisa tunjukkan semua bukti yang ada pada kita," perintah Banu pada Raka. Bahu orang-orang itu menegang.


"Siap, Pak." Raka mulai berdiri dan hendak berjalan menuju layar proyektor. Namun sebuah suara tegas dan sedikit marah, membuat kakinya berhenti.


"Berhenti sekretaris Raka!” teriak Dirga pada Raka hingga membuat pria itu urung melangkah. Lalu Dirga mengalihkan pandangan pada Banu. “Pak Banu! Kita sedang membicarakan kelalaian Anda. Kenapa Anda malah membicarakan saya?!" Suara Dirga terdengar tinggi. Banu menatap pria ini lurus. "Pengawas yang terhormat. Kenapa membiarkan pihak yang bersalah mengatur semua ini? Bukankah seharusnya kita fokus pada kesalahan CEO kita ini dan mulai menjatuhkan hukuman?" tanya Banu.


Karena bisa saja keadaan menjadi terbalik, dia ikut mengkritik pengawas yang terkesan tidak tegas.


Brengsek! Aku tidak bisa mengatakan apa-apa lagi soal ini. Bukti apa yang akan ia katakan? Tidak mungkin itu dana penggelapan. Dirga gelisah.

__ADS_1


"Maafkan Saya." Dirga memilih mundur untuk mendesak mereka terus membicarakan soal Banu. Ia akhirnya kembali duduk di kursinya lagi.


Aku yakin kamu pasti panik sekarang, Dirga.


"Silakan Pak Banu." Pengawas mempersilakan Banu untuk melanjutkan.


"Terima kasih. Silakan tunjukkan apa yang sudah kita kumpulkan, sekretaris Raka," kata Banu pada Raka.


"Baik Pak."


Di setiap kursi, tubuh mereka menegang. Menunggu dengan gelisah Raka yang bersiap menunjukkan bukti yang sudah ia kumpulkan. Perlahan layar proyektor menyala ....

__ADS_1


..._____...


 


__ADS_2