
"Kita sudah sampai, Pak,” ujar Mili seraya menunjuk gang untuk menuju rumahnya sudah terlihat. Kegelisahan Banu lenyap. Kaki mereka berjalan masuk ke dalam gang. Jalanan mulai agak sepi. Wajar saja, ini sudah hampir jam setengah sebelas malam. Mungkin di jalan raya masih ramai, tapi ini di dalam pemukiman.
"Apa aku dulu sering jalan-jalan seperti ini dengan mu?" tanya Banu masih ingin tahu seperti apa dirinya dulu, ketika menemukan diri Mili dalam keadaan masih menjadi arwah.
"Tidak.” Kepala Mili menggeleng.
“Apa kita tidak pernah berkencan?”
“Tidak.”
“Pak Banu seringkali menghilang dan muncul dengan tiba-tiba. Jadi waktu untuk jalan berdua seperti sekarang, tidak ada. Bapak sibuk dengan kesibukan Pak Banu sendiri begitu juga aku,” jelas Mili.
Sedikit ada kebohongan di sini. Memang benar mereka hampir tidak pernah berjalan berdua dengan Pak Banu, tapi soal dia yang sibuk dengan kehidupannya sendiri itu salah. Karena seringkali dirinya memikirkan pria itu datang dan muncul tiba-tiba di depan mata.
"Aku seperti orang jahat." Banu mengerutkan alisnya memikirkan bagaimana dirinya waktu itu. Mili menoleh merasa kata-kata itu asing.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Mili heran.
“Karena jalan dengan bergandengan tangan ini saja tidak pernah. Kencan juga tidak. Kita berdua sibuk. Bukankah berarti aku jahat? Karena jika memang aku jarang mengajakmu kencan ... seharusnya kamu tidak perlu mengingatku. Juga jangan mau menjadi kekasihku waktu itu.” Pak Banu menasihati Mili.
Ini membuat gadis ini tergelak. Bukannya kenapa, yang sedang di nasihati adalah dirinya yang sedang menjalin hubungan aneh dengan Pak Banu sendiri.
Mungkin jika Pak Banu meminta untuk tidak mengingatnya ketika hubungan mereka berdua seperti layaknya orang asing, bola mata Mili akan berkaca-kaca karena sedih. Namun karena mereka berdua sekarang adalah sepasang kekasih, nasihat itu menjadi hanya sebuah candaan saja.
"Bukan jahat," sanggah Mili. Akhirnya mereka sampai rumah sewa milik Mili. Mereka sudah tiba di depan pintu. "Pak Kuncinya," kata Mili mengingatkan.
"Ayo, masuk," ajak Mili. “Ah percuma. Pak Banu tadi kan sudah masuk lebih dulu ke rumah ini.” Mili lupa kalau Pak Banu sudah datang ke sini lebih dulu tadi."
“Tidak apa. Karena sekarang aku datang dengan pemilik rumah, jadi aku perlu ijin juga dari kamu,” kata Banu. Kaki Banu masuk setelah Mili lebih dulu melangkah ke dalam rumah. "Kalau bukan jahat, berarti apa? Kamu yang terlalu baik?" tanya Banu masih meneruskan obrolan mereka tadi.
"Tidak. Saya bukan orang baik. Hanya saja waktu itu saya memaklumi kalau Pak Banu menghilang dan muncul dengan tiba-tiba," jelas Mili.
__ADS_1
"Kenapa?"
"Karena Bapak dan saya kan memang berbeda. Bapak bisa pergi dengan cepat seperti teleport waktu itu.” Mili bercerita tentang Banu.
"Teleport? Hmmm ... Lalu, apa kamu tidak cemas waktu itu?"
"Kenapa?" tanya Mili heran. Lebih heran ketika Pak Banu menunjukkan mata berbinar. Ada apa?
"Bukankah aku bisa langsung masuk ke kamar tidur mu atau kamar mandi tanpa membuka pintu?"
Mendadak wajah Mili merah. Ia malu. Dia bisa membayangkan apa yang di bicarakan Pak Banu sekarang. Dia paham arah pembicaraan Pak Banu.
..._____...
__ADS_1