Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 81 ° Di rumah Mili


__ADS_3

"T-tidak. Pak Banu bukan orang yang seperti itu. Jadi saya yakin Pak Banu tidak akan melakukan hal curang yang memalukan itu," sahut Mili tegas. Banu menghela napas lega seraya menatap Mili.


"Aku takjub, kamu bisa begitu saja percaya padaku," kata Banu sungguh-sungguh. Ia senang. Tidak mudah mempercayai orang yang baru di kenal. Apalagi saat itu dia bukan dalam wujud manusia. Ataukah arwah lebih bisa di percaya daripada manusia? “Padahal saat itu aku hanya arwah kan ...”


"Entahlah. Saat itu semuanya memang tidak masuk akal," sahut Mili. Jika di ingat lagi, kejadian itu bagai mimpi untuknya.


"Oh, iya. Kamu pasti lapar. Sebaiknya kita menyiapkan makan malam," ujar Banu.


"Tidak. Saya tidak lapar," sahut Mili cepat. Jujur Mili merasa lapar karena baru pulang kerja. Namun lemari pendinginnya tidak ada isinya, jadi ia menahan diri.


Ia akan malu kalau menjawab iya, tapi isi kulkas kosong. Karena tidak ada bahan yang bisa di masak. Uang bulan ini juga pas-pasan. Dia harus menahan diri. Jadi dia berbohong bilang tidak lapar.


"Benarkah? Bukannya pulang kerja sering makan dulu?" kata Banu seakan tahu sesuatu. Itu kebiasaan Mili. Gadis ini mengerjap. "Aku harus makan saat pulang kerja. Jadi pikiran ku tenang dan aku bisa tidur. Lalu esok hari bekerja keras lagi. Semangat Mili." Banu seperti sedang membaca sebuah teks.


Awalnya Mili tidak mengerti, tapi kemudian dia merasa tidak asing dengan kalimat yang di katakan Banu barusan. Ah! Mili ingat. Itu kata-kata penyemangat yang ia sematkan di pintu kulkas mini-nya.


"Pak Banu tahu soal itu?" tanya Mili terkejut. Banu tersenyum. Sepertinya ia bukan istirahat di rumah ini. Pak Banu pasti sudah melakukan sesuatu tadi.


"Kamu ganti baju saja dulu," kata Pak Banu menyentuh pundak Mili.

__ADS_1


"Lalu Pak Banu?" tanya Mili.


"Tentu saja tetap menunggu di sini. Kenapa? Kamu ingin aku menemanimu ganti baju?" tanya Banu bercanda.


"Tentu saja tidak!" kata Mili sewot.


"Hahaha ..." Banu malah tertawa.


"Baiklah. Aku ganti baju dulu." Mili berjalan menjauh dari Banu dan membuka pintu kamar. Lalu menutupnya rapat.


Ponsel Mili berbunyi. Ia mendekat ke arah tas kerja yang ia pakai. Itu Raka. Mili mengerjap. Kenapa dia menelepon ku?


"Halo, Mili. Maaf mengganggu mu malam-malam. Kamu belum tidur kan?"


"Belum."


"Syukurlah. Takut aku mengganggumu."


"Enggak kok. Aku juga baru pulang kerja Kak. Ada apa?" tanya Mili.

__ADS_1


"Apa Pak Banu bersama mu?" tanya Raka.


"Pak Banu?” Bola mata Mili melirik ke pintu. “Yaa ... dia ada di belakang. Aku panggilkan dulu ya ..."


"Tidak."


Mili sudah melangkah ke pintu dan membukanya, tapi Raka menolak. Mili mengerjap. "Jadi ... "


"Kalau memang Pak Banu bersamamu, tidak apa-apa. Karena itu artinya ada orang yang sedang bersamanya."


"Ada apa Kak?" Mili makin ingin tahu.


"Pak Banu enggak cerita?"


"Enggak. Pak Banu hanya bilang mau ijin tidak kembali ke kantor sore tadi. Hanya itu," jawab Mili seraya mengingat lagi apa yang di katakan Pak Banu padanya. "Memangnya ada apa sebenarnya Kak?"


"Pak Banu di nonaktifkan dari perusahaan,” ungkap Raka.


"Benarkah? Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Mili terkejut sekaligus cemas. Pertanyaan yang keluar dari bibirnya beruntun.

__ADS_1


...______...


__ADS_2