Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 47 ° Mengerti


__ADS_3

“Cukup aku saja yang memikirkan itu, Bi. Lebih baik bibi memikirkan hidup Bibi sendiri.” Suara Banu tidak se-kasar tadi. Dia mencoba memahami pemikiran bibinya.


“Banu! Setelah kamu di rawat oleh bibi, kenapa kamu bisa bicara seperti itu?” Cahaya marah.


Banu menghela napas. Dia tidak ikut marah. Pria ini mengerti.


“Aku mengatakan ini karena aku peduli pada Bibi. Selama ini bibi terus membimbingku. Sampai-sampai bibi sendiri tidak memikirkan hidup bibi. Terima kasih sekali sudah melakukan banyak hal untukku, tapi untuk kali ini ... biarkan aku sendiri yang melakukannya. Aku tahu perusahaan begitu penting bagi bibi. Itu sama untukku.“


"Hanya Mofa yang bisa membuat kamu bertahan di posisi ini dengan aman, Banu," kata Cahaya masih mendesak.


"Jangan membuat aku dan Mofa terjebak dalam pernikahan yang tidak di inginkan. Bibi tidak tahu kalau dia juga tidak setuju."


"B-benarkah?" Cahaya terkejut. "Tapi gadis itu ..."


"Mungkin Mofa hanya berpura-pura. Karena dia takut di coret dalam daftar keluarga jika menolak," jelas Banu membuat Cahaya tertegun.

__ADS_1


"Bibi tidak percaya ..."


"Cukup di sini Bibi. Biar aku melangkah dengan kemampuan ku sendiri. Biar aku mengatur sendiri hidupku. Baik untuk perusahaan atau untuk diriku sendiri," kata Banu lembut.


Setelah mengatakan itu, Banu berjalan menjauh dari meja. Namun sebelum pintu itu terbuka, Banu mengentikan langkahnya.


"Oh, ya. Jika membahas sebuah pernikahan, sepetinya bukan aku yang harus memikirkannya. Bibi juga wajib memikirkannya. Semua teman bibi yang seumuran sudah menikah, lalu bagaimana dengan bibi?"


"A-apa yang kau tanyakan?"


"Bibi juga sudah seharusnya memikirkan pendamping."


"Semua harus menikah. Karena saat sudah tua nanti, dengan pasanganlah kita akan menghabiskan waktu-waktu itu."


"Jangan sok berkata bijak, Banu." Cahaya menegur keponakannya.

__ADS_1


"Hmmm kenapa? Bibi tidak ingin menikah?" Banu tersenyum. "Hhh ... kasihan sekali orang itu. Padahal dia selalu menunggu bibi membuka hati. Sepertinya dia juga akan sendirian di masa tua seperti bibi kalau bibi tidak segera berpikir tentang pendamping."


"A-pa maksudmu?"


"Bibi tahu yang aku maksud. Dia pria yang selalu menemani bibi kemanapun bibi berada. Dia tahu segalanya lebih dari yang aku, keponakan bibi sendiri belum tentu tahu," kata Banu sambil tersenyum.


"Siapa? Siapa yang kamu maksud?" Ternyata Cahaya tidak bisa langsung mengerti. Perempuan ini sungguh bebal rupanya soal seperti ini.


Banu jadi kasihan pada bibi juga pada dirinya. Dari sini dia tahu, kenapa dirinya lama tidak memikirkan seorang pendamping. Rupanya itu karena bibi yang menanamkan itu sejak merawatnya.


Sepertinya aku harus membantu, batin Banu.


"Haras. Berterima kasihlah pada pria itu. Dia pria yang baik. Aku pergi dulu, Bi. Jangan lupa apa yang aku katakan barusan. Pikirkanlah." Banu tersenyum.


Sungguh mengejutkan saat dia membuka pintu, ada Haras di depan pintu. Sepertinya pria ini sudah tadi ada di sini.

__ADS_1


"Hai Haras. Terima kasih sudah menjaga bibi ku. Karena dia cukup rapuh meskipun terlihat kuat dari luar. Oh, sepertinya aku tidak perlu mengatakannya padamu. Karena aku yakin kamu lebih tahu bagaimana bibi ku daripada aku sendiri. Lalu ..." Banu meletakkan tangannya pada pundak Haras. "Katakanlah dengan jujur sebelum dia mengeras bagai batu. Bibi ku butuh pendamping seperti mu."


..._____...


__ADS_2