Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 7 ° Musuh di dalam perusahaan


__ADS_3

Di luar rumah. Banu melipat tangan menunggu Mili yang baru saja keluar dari mobil. Hujan mulai reda. Hanya tinggal gerimis kecil saja. Tidak akan berarti saat jatuh di tubuh kita.


"Terima kasih, Kak tumpangannya," kata Mili.


"Jadi kamu tinggal di sini?" Raka melihat ke sekitar.


"Ya. Setelah nenek meninggal, aku pindah ke sini."


"Kamu ... tinggal sendirian?" tanya Raka terkejut. Mili mengangguk. "Baiklah. Segera masuk. Udara dingin sekali."


"Ya. Da-da ... Kakak!" Mili melambaikan tangan.


"Kalian berpacaran?" tegur Banu mengejutkan.


"Ya, ampun Bapak." Mili memegangi dadanya karena kaget.


"Kamu pikir aku tidak ada?"


"Bukannya sejak tadi pagi, Pak Banu enggak ada. Saat makan siang pun Pak Banu enggak muncul. Jadi wajarlah saya pikir Bapak enggak ada."


"Kalau aku tidak ada, kamu akan terus bersama Raka?"


"Ya, enggak. Ini pertanyaan apa sih, Pak?" tanya Mili heran. Banu seperti mau marah-marah terus.


"Tidak. Hanya saja kamu jangan terlalu dekat dengan banyak orang dari perusahaan Mandala. Kita tidak tahu siapa yang bisa di percaya dan tidak. Aku yakin banyak orang yang ingin menjatuhkan aku."


Mili berjalan masuk ke jalan rumahnya yang menurun.


"Itu Pak Dirga kan? Bapak curiga sama Pak Dirga kan?" Entah kenapa kunci pintu susah sekali di gerakkan. Sulit sekali. Banu yang tahu itu menggunakan kekuatannya untuk membantu Mili membuka pintu. "Terima kasih." Mili masuk rumah setelah membuka sepatu dan meletakkan di rak sebelah pintu.


"Ya, tapi selain Dirga, bisa saja beberapa orang di perusahaan adalah anteknya. Kamu harus hati-hati Mili." Banu mengikuti.


Mili ingat bahwa dia sempat kelepasan bicara soal Banu.


"Ya, saya sudah hati-hati. Saat kita bareng, kita hanya membicarakan diri kita saja." Mili berusaha menutupi kecerobohannya tadi.


"Kenapa kalian bicara tentang kalian saja? Apa tidak ada hal lain yang di bicarakan?" gerutu Pak Banu.


"Diam di tempat, Pak." Mili menahan tubuh pria itu. Dimana tangan gadis ini tepat berada di atas dada Banu. Mili melebarkan mata saat melihat dada pria ini bidang sekali. Memang terlihat gagah di balik setelan jas yang selalu dipakainya.


"Kenapa? Karena kamu enggak mau aku tanya-tanya soal Raka?" tuduh Banu dengan mata menatap lurus ke arah gadis ini.

__ADS_1


"Bukan."


"Apa? Kamu menyembunyikan sesuatu dariku?"


"Hhh ... Saya ini mau ganti baju, Pak. Bapak tidak boleh masuk kamar saya," ujar Mili geram.


"Oh. Kenapa repot-repot tutup pintu? Aku bisa masuk tanpa membuka pintu," kata Banu santai membuat Mili melebarkan mata.


"Bapak tidak boleh mengintip! Bapak enggak boleh masuk kamar saya tanpa ijin apapun yang terjadi!" teriak Mili dengan wajah merah.


"Memangnya apa yang bisa kulihat jika aku mengintip ... Sepertinya tidak ada yang istimewa," kata Banu bola mata menatap tubuh Mili dari atas ke bawah. Seperti meremehkan.


Mili mengerutkan keningnya. Tatap matanya menjadi tajam. "Apapun itu. Tidak istimewa sekalipun, tapi jika saya telan*jang di depan Anda sekarang juga, saya yakin Anda akan menyerang saya," kata Mili marah dan kesal. Brak!! Mili menutup pintu dengan sangat keras.


Blush.


Banu memerah. Wajahnya yang pucat langsung bagai kepiting rebus. Mendadak pikiran nakal menari-nari di benaknya. Ia sampai harus menutup sebagian wajahnya, karena malu mendadak.


"Aku gila. Aku gila. Kenapa jadi membayangkan yang tidak-tidak. Ternyata tinggal satu atap dengan wanita itu membahayakan," keluh Banu sambil menggaruk kepalanya frustasi. Beberapa detik kemudian, dia menatap pintu kamar itu. "Atau sebenarnya hanya dia yang membuat aku gila?" tanya Banu lirih pada hatinya.


Selalu saja begini. Setiap selesai berdebat atau mengatakan hal baru pada Banu, Mili selalu mengakhirinya dengan menggerutu di dalam kamar.


 


**


 


Rumah sakit, siang hari.


Keadaan tubuh Banu masih sama. Semua selang atau kabel yang mengarah ke sebuah peralatan medis untuk memantau kondisinya secara lebih detail, masih terhubung dengan tubuhnya. Kondisinya tidak ada yang berubah.


Pintu terbuka perlahan. Ternyata itu bukan Cahaya. Itu seorang pria. Langkahnya tegap menuju ranjang.


"Selamat siang, Banu," sapa Dirga pada tubuh tidak berdaya milik pria ini. Dirga berdiri tepat di samping ranjang. Ia menatap Banu dengan tatapan tajam menusuk. "Matahari masih bersinar cerah. Namun aku yakin kamu tidak bisa merasakannya indahnya siang ini karena tidak ada hujan turun seperti kemarin."


Dirga mendekat ke peralatan medis yang menunjang Banu untuk terus hidup meskipun dalam keadaan koma.


"Aku ingin tahu apa reaksi orang-orang jika alat-alat ini aku cabut?" Tangan Dirga merayap di alat-alat itu. Tubuh Banu masih tidak bergerak sama sekali. Dirga menyeringai. "Tidak. Tidak. Aku tidak perlu turun tangan sejauh ini. Aku cukup diam memperhatikan, orang-orang ku yang akan menyelesaikannya."


Tangan Dirga menjauh dari kabel penyokong kehidupan Banu.

__ADS_1


"Dengan keadaan koma, aku yakin semua pemilik saham pasti akan menuntut dirimu turun dari tahta CEO. Karena mereka tentu tidak ingin membuatmu terganggu dari tidur panjang mu. Kau harus tetap di sini. Biar aku saja yang akan naik menggantikan mu, Banu." Dirga menyentuh pipi Banu dan menepuknya pelan. "Aku akan kembali ke perusahaan. Terima kasih untuk obrolannya. Bocah kecil itu, beraninya ingin berdiri di depanku dengan sombong," dengus Dirga.


Dirga melangkah menuju pintu. Membuka pintu seraya memberi kode pada penjaga di depan pintu. Mereka membungkuk hormat


 


...*****...


 


"Mili!" panggil seseorang. Langkah Mili terhenti dan menengok ke belakang.


"Kak Raka." Mereka bertemu Mili di lorong.


"Kamu tidak terkena flu kan? Kemarin kan kena hujan," tanya Raka.


"Enggak kok. Aku baik-baik saja."


"Syukurlah. Itu bukan es kan?" tunjuk Raka pada minuman di tangan Mili. Gadis ini menggeleng.


"Bukan ini cappucino hangat."


"Kamu suka sekali cappucino ya?" tanya Rak. Mili tersenyum. "Kalau ada waktu, apa aku boleh datang ke rumah kamu?" tanya Raka.


"Kakak mau berkunjung ke rumah?" tanya Mili takjub.


"Iya. Enggak boleh ya?"


"B-bukan begitu. Kalau soal pekerjaan mungkin bisa dibicarakan di kantor saja." Mili tersenyum meminta Raka maklum.


"Oh, tidak. Aku tidak ingin bicara soal pekerjaan. Di sini sudah seharian membicarakan pekerjaan, kenapa harus membicarakan itu lagi di rumah ... " Raka tersenyum juga.


"Lalu, Kak Raka ke rumahku ada keperluan apa?" tanya Mili bingung.


"Hanya main saja. Bertamu."


Banu yang mengikuti Mili menatap mereka lurus-lurus. "Raka makin gencar mendekati Mili. Aku harus bertindak."


...______...


__ADS_1


__ADS_2