
"Saya hanya bertemu dengan Anda, direktur. Tidak dengan wanita yang lain," ujar Haras menegaskan.
"Itulah. Aku terkejut kalau kamu bilang sekarang sedang jatuh cinta." Cahaya tersenyum. Dugaannya benar.
Kenapa masih belum sadar juga? keluh Haras.
"Jadi siapa dia? Siapa orang yang beruntung mendapatkan cintamu yang tulus?" tanya Cahaya. "Kalau memang kamu tidak punya waktu, mungkin dia karyawan perusahaan Mandala?"
Hhh ... Haras menghela napas samar. Dia harus tenang dan sabar.
"Saya mencintai Anda, direktur," ungkap Haras akhirnya.
...____...
Banu sendiri sedang dalam perjalanan ke Bougenville patisserie. Dia ingin segera menemui gadis itu. Namun sayang, sesampainya di sana, toko sudah kosong.
Lampu belum mati sepenuhnya, tapi tanda-tanda keberadaan Mili tidak ada. Banu tidak patah semangat. Ia melihat ke pintu belakang. Dimana dia dulu ganti pakaian saat tekena siraman air oleh Mili.
Muncul seorang perempuan. Dia senior Mili.
"Permisi, apa Mili sudah pulang?" tanya Banu.
__ADS_1
"Oh, Anda pelanggan kami yang setia," kata senior mengenali Pak Banu.
"Ya." Banu tersenyum. Anggap saja begitu.
"Mencari Mili? Dia sudah pulang. Baru saja. Sepertinya masih dekat." Senior menunjuk jalan ke rumah Mili.
"Baik. Terima kasih."
Banu tidak membuang waktu untuk mengejar Mili. Benar kata senior tadi, Mili masih tidak jauh dari belokan masuk ke pemukiman.
Namun Banu tidak langsung menyapa Mili. Ia membiarkan gadis itu tengah menikmati musik dari earphone yang terpasang di telinganya.
Kali ini dia terlihat riang dan santai. Jadi Banu ragu untuk mengusik kesenangan itu. Dia memilih untuk menikmati pemandangan ini.
"Sepertinya aku di ikuti seseorang, tapi ... Tidak ada. Ini sudah malam. Tidak biasanya aku merasa horor seperti ini. Sebaiknya jalannya di percepat saja." Mili melepas earphone dan berjalan dengan agak cepat.
Karena fokus pada jalannya yang cepat, Mili tidak menyadari bahwa Banu juga mengikutinya sampai depan rumah.
"Mili," tegur Banu pelan. Mili menoleh dengan cepat.
"P-pak Banu?" Bola mata gadis ini melebar. Dia sangat terkejut melihat kemunculan pria ini di sini. "Kenapa Pak Banu ada di sini?" Mili melihat ke sekitar. "Jangan bilang tadi yang mengikutinya adalah Anda."
__ADS_1
"Maaf. Aku memang mengikuti mu." Banu mengaku. Toh tujuannya memang untuk bertemu Mili.
"Untuk apa? Bukankah Bu Cahaya sudah menegaskan padaku kalau kita berdua tidak boleh dekat. Jadi saya mohon Anda untuk cepat pergi dari sini. Kedatangan Anda ini akan membuat Bu Cahaya mendatangiku lagi karena salah paham," kata Mili kesal.
"Maafkan aku Mili. Maafkan juga bibi ku. Jadi tolong dengarkan aku," pinta Banu.
"Saya maafkan Anda berdua, tapi tolong ...."
Duarr!
Belum selesai kalimat Mili, tiba-tiba petir menyambar mengenai sebuah pohon di jalan depan. Hujan turun mendadak dengan deras. Padahal tadi tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Namun sekarang air tumpah ruah dari langit.
Banu dan Mili spontan bergerak ke teras rumah untuk menghindari hujan. Karena dengan cepat mereka berteduh, pakaian mereka selamat dari basah kuyup.
Mili diam menatap pria ini.
"Masuklah Pak." Mili berdecih di dalam hati.
"Kamu mengijinkan aku masuk?" tanya Banu terkejut.
"Ini bukan pertama kalinya Anda masuk rumah saya bukan?" tanya Mili tanpa menoleh.
__ADS_1
...____...