
Banu sudah menduga. Meskipun sudah ada banyak bukti yang menunjukkan kesalahannya, tim pengawas tidak bisa mengabaikan begitu saja semua prestasi Banu dalam menjalankan perusahaan. Jika terpaksa mereka memecat Banu dari jabatannya atau mendepak dari kursi CEO, setidaknya mereka perlu mendengarkan lebih dulu pembelaan dari Banu.
Bukan tidak tegas. Yang mereka hadapi adalah Banu yang selama ini menjadi pion penting di dalam perusahaan.
Dia mencoba bertaruh dengan sikap tim pengawas yang seperti itu.
"Pasti Anda punya alasan. Jadi silakan bicara," ujar pengawas memberi kesempatan pada Banu.
"Bisakah? Dengan semua bukti yang ada, besar kemungkinan saya tidak bisa menyangkal. Semua orang pasti tidak terima saya masih bisa membantah tuduhan. Padahal jelas-jelas bukti kesalahan saya ada," ujar Banu seraya melihat ke arah Dirga. Pria itu pasti punya hal lain untuk menjebaknya.
"Emm ... Bukti memang sudah ada di tangan kami, tapi kami belum buktikan keasliannya," kata pengawas seraya melihat ke arah laporan tadi. Kemudian mendongak dan melanjutkan bicara. “Jadi keputusan apa yang kita ambil masih belum jelas.”
__ADS_1
Banu tersenyum lagi mendengar kalimat pengawas. Pria ini tahu bahwa mereka bukan orang bodoh yang menganggukkan kepala langsung setuju tatkala ada hal semacam ini.
"Benar. Meski sudah ada bukti di tangan Anda, tapi belum bisa di buktikan keasliannya. Itu memang benar.” Banu mengangguk-anggukkan kepala setuju tentang hal itu. Ini juga di lakukan dengan tekanan pada kalimat ini. Ia ingin semua orang yang sengaja ingin menyerangnya paham, tidak semudah itu menggulingkan dia dari tempatnya sekarang. “Bisa saja bukti itu hanyalah sebuah rekayasa," imbuh Banu seraya melemparkan tatapannya yang kini menjadi tajam pada semua orang.
Mereka melebarkan mata terkejut. Jika tadi mereka sudah merasa menang karena Banu tidak membantah. Kini mereka diliputi rasa gentar ketika sorot mata pria ini tampak akan memakan hidup-hidup semua orang yang menyerangnya tadi.
Dirga mengatupkan rahang dengan ketat. Senyuman yang tadi selalu ada di atas bibir Banu, kini berubah dengan sorot mata bengis.
Jadi ... Banu tidak akan diam saja bukan? Cahaya sangat berharap.
Pak Banu yang seperti itu tidak akan tinggal diam di injak-injak oleh mereka. Dia hanya menunggu waktu yang pas, batin Haras. Kita lihat saja nanti, gebrakan apa yang sejak tadi di sembunyikan oleh Pak Banu.
__ADS_1
Pak Banu akan menguak perkara itu sekarang? Hilda yang menjadi mata-mata dadakan soal keburukan divisinya, langsung tidak tenang. Ia gelisah. Hilda berharap apa yang sudah ia korbankan akan membawa hasil baik pada Pak Banu. Jika tidak, ia akan celaka.
"Apa yang Anda maksud dengan rekayasa, Pak Banu?" tanya Dirga langsung terpancing.
"Anda bertanya soal rekayasa pada saya? Baik. Saya akan memberi contoh. Rekayasa itu seperti laporan keuangan yang diserahkan divisi Anda pada saya," kata Banu membelokkan pembahasan soal dirinya, dengan pembicaraan tentang divisi Dirga dengan tenang.
"Divisi ku?" Kening Dirga mengerut. Semua mata mengerjap lalu melebar. Tidak menyangka kali ini ada pembahasan tentang Dirga.
Masing-masing dari mereka mulai menggaruk dagu, mengepalkan jari-jari dan mengusap keningnya seakan berkeringat begitu banyak. Mereka gelisah.
..._____...
__ADS_1