Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 94 ° Meja makan yang hangat


__ADS_3

"Lihatlah dia Mili. Banu tidak akan takut padaku karena dia bertekad memperjuangkan mu. Jadi kamu jangan takut kepadaku," ujar Cahaya seraya melirik pada Banu. Pria ini mengangguk.


"Benar. Bagaimana pun jika aku sudah serius, kalian berdua akan menjadi saudara juga pada akhirnya," kata Banu dengan senyuman penuh cinta pada Mili.


"Maaf. Ini pertama kalinya saya datang ke rumah ini dan berbicara dengan Anda Bu direktur," kata Mili masih memakai sikap formal.


"Panggil saja aku Bibi. Kalau kamu kekasih Banu, itu berarti kamu juga keponakanku," ujar Cahaya membuka hati untuk gadis ini. Kalimat ini membuat hatinya berbunga-bunga dan hangat.


"Terima kasih, Bi-bibi ..." Mili berusaha mengganti cara panggilan yang terdengar formal tadi. Rupanya Cahaya sudah melupakan kisah lama yang tidak menyenangkan itu.


"Benar begitu. Dia itu Bibi kita," ujar Banu setuju.


"Sebaiknya kita segera makan. Aku yakin Mili juga pasti lapar karena baru pulang kerja," ujar Haras seraya membawa masakan dari meja dapur. Kemudian semuanya mulai menikmati makan malam dengan baik. "Nikmatilah Mili. Juga habiskan semuanya. Aku sudah memasak untuk kalian."


"Ini hasil masakan Pak Haras?" tanya Mili terkejut.

__ADS_1


"Benar. Apa itu enak?" tanya Haras antusias.


"Enak. Sudah seperti chef restoran terkenal," ujar Mili tidak berbohong. Banu mengangguk setuju sambil mengunyah dengan pelan.


"Selain dia adalah sekretaris ku yang handal dia juga punya bakat lain, yaitu memasak." Cahaya bangga menjelaskan tentang calon suaminya. Ia menyentuh garis pipi pria itu dengan penuh sayang.


Mereka terlihat begitu mesra. Hingga Mili yang melihat mereka langsung tersipu. Dia menunduk dan fokus pada makanan yang ada di depannya. "Jangan lihat mereka terus," kata Mili meminta Banu untuk tidak melihat ke depan.


"Kenapa?"


"Mereka sedang bermesraan," bisik Mili. Banu tersenyum.


"Kalian akan meresmikan hubungan kalian segera?" tanya Bibi mengejutkan. Mili hanya mengerjapkan mata. Lalu melihat ke samping. Dia butuh Banu yang bicara. Karena tentang itu tidak bisa di putuskan olehnya. Sebagai pihak wanita, dia hanya bisa menunggu.


"Ya. Apa itu akan berbenturan dengan waktu pernikahan bibi?" tanya Banu.

__ADS_1


Direktur akan menikah? tanya Mili dalam hati. Dia terkejut.


"Ya. Aku dan Haras akan menikah, tapi saat itu kamu juga bisa mengumumkan pertunangan kalian," kata Cahaya yang sepertinya sudah mengatur semuanya sedemikian rupa.


"Itu ide yang bagus, Bibi. Bagaimana Mili?" tanya Banu. Mili hanya tersenyum bingung.


"Terserah kamu saja," ujar Mili menahan degup jantungnya yang bertalu. Dia dan Banu belum pernah membahas ini sebelumnya, jadi sekarang Mili hanya bisa bicara seperlunya saja.


"Aku tahu kamu pasti merestui mereka," bisik Haras. Cahaya tersenyum.


"Aku tidak boleh egois. Jika aku bahagia, mereka juga pantas bahagia kan?" Haras tersenyum mendengar kalimat Cahaya.


"Sebentar lagi kita akan menjadi saudara Mili. Jadi sebaiknya biasakan dirimu menjadi bagian dari kami. Jangan bersikap kaku lagi," nasehat Haras.


"Benar. Bibi tidak akan memarahi mu lagi karena dekat denganku," kelakar Banu. Semua tertawa.

__ADS_1


Aku akan menjadi bagian dari mereka? Ini sungguh bagai mimpi. Dari bertemu arwah CEO yang tampan, hingga aku benar-benar menjadi kekasihnya di dunia nyata, semuanya terasa bagai mimpi.


...______...


__ADS_2