Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 39 ° Rencana


__ADS_3

Di sebuah ruang kerja yang letaknya paling terisolasi di gedung perusahaan. Itu adalah ruangan Presdir.


Di sana tampak seorang pria sedang bicara serius dengan seorang wanita. "Jadi Banu selama ini datang ke tempat kerja gadis itu?" Cahaya yang mendapat informasi dari Haras terkejut.


"Ya. Begitu informasi yang saya dapat."


"Bagaimana bisa Banu bertemu dengannya?" tanya Cahaya heran.


"Saya rasa karena Raka adalah teman gadis itu," jelas Haras.


"Jadi Raka sengaja mempertemukan mereka?"


"Saya belum memastikan itu."


Cahaya termenung. "Ternyata benar gadis itu sangat dekat dengan Banu. Jadi siapa sebenarnya gadis itu? Jika memang Banu dekat dengannya aku ingin tahu tentang keluarganya." Cahaya memilih tenang.


Haras melirik Cahaya yang tengah melihat ke komputer di depannya. Dia belum mengatakan apa-apa.


Cahaya yang merasa Haras hanya diam, kini menoleh pada pria itu. "Kenapa diam? Katakan sesuatu. Siapa gadis itu sebenarnya."

__ADS_1


"Dia seorang gadis yatim piatu yang tinggal di rumah sewa," jawab Haras setelah beberapa detik diam.


"Apartemen?" tanya Cahaya meluruskan.


"Bukan. Hanya sebuah rumah sewa di pemukiman yang kecil, Presdir."


Cahaya terkejut. "Rumah sewa yang kecil?Benarkah?" Bola mata perempuan ini melebar. "Jadi dia bukan dari keluarga pengusaha atau semacamnya?" Cahaya terkejut.


"Ya. Seperti yang Anda bilang." Haras terasa berat saat mengatakannya.


Tangan Cahaya terlepas dari keyboard komputer. Dia begitu terkejut dengan fakta itu. Tangannya menyentuh bibirnya dengan gelisah.


"Bisa kamu atur pertemuan aku dengan gadis itu?" tanya Cahaya.


"Aku harus menemuinya," tegas Cahaya. Haras gelisah.


"Anda tidak memastikan dulu hubungan gadis ini dengan Pak Banu?" Haras mengingatkan.


"Tidak perlu, Haras. Kamu tahu kan bagaimana Banu? Dia tidak begitu tertarik dengan wanita. Semua hidupnya dia curahkan pada perusahaan. Namun sekarang, apa yang aku dengar? Dia sering menemui seorang gadis?" Cahaya menghela napas. "Wanita itu pasti mempengaruhi Banu. Ini tidak boleh terjadi. Karena Banu harus menikah dengan wanita yang bisa mendukung dirinya di dalam perusahaan. Bukan perempuan biasa."

__ADS_1


Haras sangat mengerti apa yang di katakan Cahaya. Namun dia merasa itu tidak adil bagi gadis itu. Apa daya dirinya yang hanya seorang bawahan.


"Baik Bu. Saya akan melihat jadwal kerja gadis itu,"


**


Banu termenung sambil berbaring dan menatap langit-langit kamar.


"Arwah? Dia mengenalku karena arwahku datang padanya?" Banu mengerutkan keningnya. "Dari semua alasan, kenapa dia justru memberi alasan yang konyol?" Banu menautkan alisnya sedang berpikir.


"Aku rindu rumah itu. Seakan aku pernah tinggal dan menetap di sana," ujar Banu. "Jika begitu, aku akan cari tahu sendiri apa sebenarnya hubungan kita. Jika sudah tahu, mungkin aku bisa tenang dan tidak lagi bermimpi berjalan-jalan di sekitar tempat itu."


Banu menyemangati dirinya. Ia menekankan pada dirinya sendiri untuk mencari tahu. Tangannya yang memegang ponsel, menggerakkan layar untuk melihat nomor ponsel milik Mili.


"Apa yang di lakukannya, ya?" tanya Banu teringat Mili. Tanpa sadar jarinya menyentuh tombol panggil. Banu melebarkan mata. Dia terkejut sendiri. "Kenapa aku meneleponnya?"


Banu panik. Ia ingin menutup teleponnya. Namun suara Mili terdengar di sana.


"Halo," sapa Mili di seberang. Banu diam. "Halo, Pak Banu." Banu masih diam. "Saya akan tutup telepon kalau Anda tidak mau bicara."

__ADS_1


"Ya, Mili."


...____...


__ADS_2