
Perlahan tangan Banu mulai membuka resleting belakang gaun itu. Degup jantung Mili berdetak kencang ketika tangan Banu menyentuh kulit punggungnya yang polos. Napas Mili tercekat ketika Banu justru mendaratkan ciuman di punggungnya.
"Banu ..." lirih Mili menahan geli dan senyar menggelitik aneh pada tubuhnya. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Mili berusaha untuk melihat ke belakang. Namun Banu menahan punggung Mili untuk berbalik. Lalu kecupan selanjutnya berlabuh. "Sayang ..." lirih Mili lagi. Ia melihat ke sekitar. Takut karyawan itu melihat apa yang di lakukan Banu.
Srek! Seakan tahu apa yang di khawatirkan Mili, Banu menarik tirai itu hingga menutup sepenuhnya. Ini bukan membuat Mili tenang, ia makin panik. Banu mengecup punggung Mili yang terbuka. Lalu tersenyum karena gadis ini menggeliat.
Banu menjauh dari punggung dan kini menarik dagu Mili dengan lembut. Lalu mendekatkan wajahnya pada bibir Mili. Banu mengecup bibir itu dengan sedikit rakus. Mau tak mau Mili menerima ciuman dahsyat itu.
Karyawan yang datang membawa gaun lain muncul. Awalnya dia menoleh ke kanan kiri mencari Banu. Namun kemudian ia sadar bahwa pria itu ada di balik tirai. Terlihat dari sepatu yang terlihat di bawah tirai.
Banu mengusap bibir Mili yang merah karena ciumannya. Mili mengambil napas banyak-banyak karena bekapan ciuman Banu. Lalu gadis ini mendelik karena perbuatan pria ini barusan. Banu terkekeh.
"Tuan, gaun yang Anda minta sudah saya bawa," kata karyawan itu karena mendengar suara Banu.
"Ya," sahut Banu.
__ADS_1
"Sudah sana. Aku mau ganti baju," usir Mili tidak ingin di tipu lagi.
"Oke." Lalu pria itu keluar dari balik tirai. "Sepertinya aku pilih gaun yang di pakai saja," ujar Banu membuat dia agak kecewa. Namun tentu tidak ia tunjukkan pada Rupanya Banu hanya iseng saja. Dia sengaja mengusir karyawan itu secara halus, untuk meninggalkan Mili sendiri. Jadi dia bisa mencium punggung polos dan bibir gadis itu.
"Kamu bisa membungkus gaun itu setelah ia selesai mengganti bajunya," imbuh Banu.
"Baik, Tuan," ujar karyawan itu. Tak lama Mili muncul sudah ganti baju.
"Kita jadi ambil gaun yang ini kan?" Mili bertanya lagi takut keliru.
****
Lelah karena beberapa hari pesta pernikahan Banu dan Mili di gelar, tidak bisa menghilangkan rasa bahagia karena akhirnya dia dan Mili menikah.
Matahari sudah naik, tapi Banu masih memeluk tubuh Mili yang polos di atas tempat tidur. Setelah melewati malam pertama yang begitu dahsyat, mereka terlihat kelelahan.
__ADS_1
"Ngg ..." Mili menggumam dalam tidurnya. Banu langsung membuka mata bagai panther yang siap menerkam.
"Sayang ... Kamu sudah bangun?" tanya Banu yang ternyata tidak memejamkan mata dengan benar. Dia hanya menutup mata menunggu Mili bangun. Karena ia masih ingin menyalurkan hasratnya yang masih menyala.
Bibir Banu menyusuri garis wajah istrinya. Mengecupi wajah istrinya demi membuat perempuan ini terbangun. Karena godaan itu, Mili membuka matanya perlahan.
"Kamu sudah bangun?" tanya Mili.
Banu menarik dagu Mili lembut kemudian mengecup bibir istrinya. Mendekatkan tubuhnya pada istrinya dan berbisik mesra.
"Aku ingin lagi."
Bola mata Mili melebar. "Lagi?" tanya Mili melebarkan matanya.
"Ya," ujar Banu sambil tetap memesrai istrinya. Mili tidak mungkin mengatakan tidak. Ini pertama kalinya mereka menjadi suami istri.
__ADS_1
...____...