Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 50 ° Untuk tahu mengapa aku gelisah


__ADS_3

Mili masih kesal.


Karena hujan deras dan mobil Pak Banu kemungkinan jauh, Mili terpaksa mempersilakan pria ini mampir ke rumahnya.


Mili berjalan agak cepat di depan Banu. Dia meletakkan tas begitu saja di atas sofa.


Sementara itu Banu berjalan lambat sembari melihat ke sekitar dalam rumah. Perasaan yang ia rasakan masih sama seperti pertama kali ia takjub dengan rumah ini.


Masih ada rasa rindu yang belum di temukan untuk siapa.


"Aku boleh duduk di sofa?" tanya Banu yang begitu tertarik dengan sofa butut tapi bersih itu.


"Silakan." Mili meminta Banu duduk. Ia melirik pria ini sembari berjalan ke belakang. Ke arah dapur.


Apakah dia akan ingat? tanya Mili saat terpisah dari Banu.


Selang beberapa menit, Mili muncul dengan membawa nampan.


"Silakan." Mili menyerahkan teh hangat pada Banu dengan ekspresi wajah datar. Banu menatap wajah Mili yang begitu dekat.


"Terima kasih. Maafkan aku tidak mencegah bibi mendatangi mu seperti itu," ujar Banu.

__ADS_1


"Maaf tidak akan membuat ibu Cahaya berhenti untuk salah paham," koreksi Mili. Dia yakin itu.


Apalagi perempuan itu sampai mengatakan soal padangan Banu yang tepat. Seakan-akan Mili mendekat untuk menjadi kekasih pria itu.


"Tidak. Dia harus paham dan mengerti kalau bukan kamu yang mendekatiku, tapi aku yang mendekati mu ...," tutur Banu membuat Mili takjub sebentar.


Namun dia ingat perkara apa yang membuat pria ini mendekatinya.


"Ya. Anda tidak ingin saya kabur dan tidak membayar biaya ganti rugi mobil itu." Mili tahu dengan benar alasan Banu selalu berkeliaran di sekitarnya.


"Bukan itu," tepis Banu ingin meluruskan.


"Tidak. Hanya saja, aku jadi ingin tahu tentang dirimu. Kamu. Gadis dengan penuh keanehan," kata Banu yang langsung masuk ke dalam sanubari Mili hingga membuatnya berdebar.


Mili membuang muka ke arah yang lain. Hujan di luar begitu deras. Bahkan petir masih menyambar. Suasana malam ini agak mencekam karena hujan yang lebat.


"Saya tidak mengerti," kata Mili setelah mencoba menenangkan debaran di dadanya.


"Kamu tidak perlu mengerti. Cukup terima aku yang sekarang sedang mendekati mu," desak Banu.


"Mendekatiku untuk apa?" tanya Mili ingin tahu lebih dalam.

__ADS_1


"Untuk tahu, sebenarnya apa yang membuatku gelisah saat melihatmu. Juga untuk tahu, kenapa aku merasa rindu pada rumah ini? Apa dan siapa yang ku rindukan?"


Mili menelan ludah. Air matanya hampir saja tumpah kalau tak segera tersenyum menetralisir perasaan rindu yang juga dirasakannya.


"Anda aneh." Hanya itu dari bibir Mili yang meluncur untuk menanggapi kegilaan Pak Banu.


"Terserah apapun yang kamu katakan tentangku. Aku ingin lebih mengenalmu, Mili." Banu sudah bertekad.


Ingin rasanya Mili langsung memeluk pria ini karena ada debaran bahagia karena kata-katanya barusan.


Mungkin takdir setuju untuk Pak Banu mengingatku kembali, semoga.


Di lain tempat.


"Jadi Banu dan gadis itu memang punya hubungan istimewa ya ..." gumam Dirga seraya tersenyum. Bola matanya tak teralihkan dari foto yang baru saja terkirim. oleh orang suruhannya.


Ternyata yang di rasakan Mili benar. Ada yang mengikutinya. Kecurigaan Mili lenyap karena ada Pak Banu yang berada di belakangnya dan mengaku sedang mengikutinya. Padahal memang ada orang lain yang sedang menguntitnya.


Apa yang akan di rencanakan Dirga?


..._____...

__ADS_1


__ADS_2