Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 84 ° Pulang ke rumah.


__ADS_3

"Aku ingin segera membawamu pulang ke apartemenku dan tinggal denganku," lirih Banu seraya mengecup jari-jari Mili. Mendengar ini membuat Mili mengerjap. "Baiklah." Banu melepas tangan Mili dan beranjak berdiri. "Aku akan pulang sekarang." Dia memang harus segera pergi jika ingin semua masih aman dan terkendali.


Banu memakai jasnya.


"Ah, iya. Kamu memang harus cepat pulang. Aku antar sampai pintu," ujar Mili. Banu melangkah lebih dulu menuju pintu. Kemudian Mili mengikutinya dari belakang.


"Besok aku menjemputmu," kata Banu.


"Ya, silakan."


“Karena aku tidak punya pekerjaan, aku jadi pengangguran sekarang. Mulai sekarang persiapkan dirimu untuk menyambut ku yang mungkin setiap hari mendatangimu," pesan Banu.


"Baik." Mili harus mengiyakan semua perkataan Banu agar pria ini segera pulang.


"Juga ..." Banu mendekatkan wajahnya pada Mili. Dia mengecup pipi gadis ini. "Selamat malam, Mili. Tidur yang nyenyak."


"M-malam." Mili tersenyum tipis. Banu melambaikan tangan dan pergi meninggalkan halaman rumah sewa miliknya. Setelah menutup pintu, Mili tersenyum. Dia bahagia.


 


***


 

__ADS_1


Sarapan pagi di rumah Banu.


Cahaya yang tengah menikmati makan pagi, melihat mendongak keponakannya muncul. Namun secepatnya menunduk lagi.


“Selamat pagi, Bibi," sapa Banu.


"Pagi. Ternyata akhirnya kamu mau pulang juga," ujar Cahaya seraya menyesap teh hangatnya.


"Tentu saja," sahut Banu.


"Bibi pikir kamu akan tinggal di rumah gadis itu." Ini sebuah sindiran.


"Sebenarnya aku masih ingin disana lebih lama, tapi dia mengusirku." Banu mulai duduk di kursi. Mengambil piring dan mulai mengisinya dengan makanan.


"Jika bibi tidak peduli, sebaiknya jangan mencari ku. Bisa-bisanya menyuruh Raka untuk menyuruhku pulang. Aku ini bukan anak kecil. Aku yang pengangguran ini tidak bisa di ganggu karena akan selalu sibuk dengan gadisku," kata Banu protes.


"Jadi kamu akan tinggal dengan dia?" tanya Cahaya seraya mendongak.


"Jika waktunya tiba nanti, tentu aku akan tinggal dengan dia, Bi,” sahut Banu yakin.


"Jadi sekarang dia adalah target masa depanmu?"


"Benar. Bibi sudah berjanji tidak akan ikut campur dalam hal ini,” pesan Banu mengingatkan.

__ADS_1


"Aku memang tidak akan ikut campur. Hanya saja perlu bibi ingatkan, kamu belum bisa tenang dan hanya memikirkan percintaan saja. Situasi ini masih memusingkan. Kamu dan Dirga sama-sama hanya di nonaktifkan, meskipun itu tanpa batas waktu yang di tentukan. Jadi situasi ini belum benar-benar di anggap damai, Banu."


"Aku tahu, Bibi. Jadi jangan cemaskan aku. Bibi pikirkan saja kalian berdua."


"Apa maksudmu?" Bibi mengerutkan kening.


"Haras belum melamar bibi?" tanya Banu mengejutkan Cahaya.


"A-apa yang kau tanyakan, Banu?" tegur Cahaya dengan gugup. Bahkan wajah beliau merah.


"Bibi tidak terpikir untuk hanya menjalin hubungan sementara saja kan?" selidik Banu.


"Aku tak tahu apa yang kamu bicarakan." Cahaya berusaha mengalihkan pandangan.


"Cobalah untuk memikirkan sebuah pernikahan. Karena Haras pasti akan melamar Bibi suatu hari nanti." Banu mulia menunduk untuk menyuapkan makanan pada mulutnya.


Menikah? Banu benar. Sudah lama aku tidak memikirkan pernikahan. Sebaiknya aku membuka hati untuk siap menerima itu juga. Karena bagaimana pun akhir dari sebuah perjalanan cinta adalah menikah.


"Apa benar ... Haras bilang akan me-melamar ku?" tanya Cahaya ingin tahu. Banu yang fokus makan mendongak.


"Benar," sahut Banu.


..._____...

__ADS_1


 


__ADS_2