
"Oh, Banu. Darimana kamu? Aku dengar kamu pulang lebih awal. Apa ada masalah?" tanya Cahaya melihat Banu muncul di rumah setelah matahari menggelap.
"Tidak. Aku hanya ingin mengunjungi suatu tempat," kata Banu berbohong. Dia tidak ingin bibinya tahu bahwa otaknya penat dan sempat frustasi. Pria ini tidak ingin bibinya terlihat khawatir dengan keadaannya.
"Suatu tempat? Apa itu?" tanya Cahaya seraya mendekat.
"Ee ... Toko roti! Aku ingin mengunjungi toko roti." Banu menemukan ide untuk menjawab. Dia menunjukkan kotak kue di dalam plastik pada bibinya.
"Toko roti?" Cahaya heran dan juga sempat terkejut. Banu baru saja bangun dari koma yang panjang. Kenapa tiba-tiba ingin mengunjungi toko roti? Dia juga sempat berpikir kalau Banu mencari Mili. Namun dugaannya salah.
"Ya. Aku ingin membelikan untuk bibi. Bukan roti spesial, hanya saja aku sedikit menyukainya." Banu berbohong lagi. Dia bukan ingin membeli roti untuk bibinya. Hanya iseng karena tertarik tanpa sebab untuk membeli roti di sana. "Ini untuk bibi."
"Wahh ... terima kasih, Banu." Bibi Cahaya menerima tas bening itu dengan wajah gembira. "Mandi dan cepat makan malam."
"Baik, Bi."
**
Siang hari.
"Kenapa aku kembali ke tempat ini?" tanya Banu pada dirinya sendiri heran. Ia menyadari bahwa tempat ini sama seperti yang kemarin ia datangi. Tempat asing yang jauh dari rumah dan juga kantornya.
Sebuah tempat yang menurutnya aneh untuk di datangi. Sebuah area yang sebenarnya tidak ada spot bagus untuk di datangi lagi. Karena tempat ini hanya sebuah pemukiman biasa.
"Apa ada yang tertinggal sampai aku harus kembali ke sini?" tanya Banu pada dirinya sendiri. Dia tidak mengerti. Namun ia mencoba turun dari mobil. Melihat ke sekitar. Dia yakin bahwa tempat ini asing baginya. "Aku yakin tempat ini tidak ada hubungannya denganku. Namun kenapa aku kembali?"
Banu menggelengkan kepalanya heran. Kemudian kaki Banu berjalan menjauh dari mobil. Namun ia tidak menemukan sesuatu yang membuatnya mengenal tempat ini.
"Ah, mungkin aku sedang kelelahan karena baru saja bangun dari koma langsung bekerja keras. Aku butuh sesuatu yang menenangkan." Banu menghela napas. Ia memilih kembali masuk mobil. Bruk! Karena tidak melihat, Banu menabrak seseorang yang saja keluar dari gang.
"Aduh ..." Gadis itu menunduk seraya mengaduh. Rupanya Banu menyodok lengan gadis ini.
"Oh, maaf. Kamu tidak apa-apa?" tanya Banu khawatir.
__ADS_1
"Mm, ya. Saya tidak ... " Mata gadis ini melebar saat mendongak. "Pak Banu ...," sebut gadis ini mengejutkan.
"Ha?" Banu mengerjap.
Mili langsung menunduk lagi saat pria ini kebingungan mendengar namanya di sebut.
Benarkah dia Pak Banu? Benarkah? Apa aku hanya salah lihat?
"Kamu ... menyebut namaku?" tanya Banu yang mendengar bahwa gadis ini menyebut namanya.
Benar. Pria ini benar Pak Banu. Jadi beliau sudah bangun dari koma?
Mili mendongak. Banu ingin bertanya lagi karena gadis ini tahu namanya. Namun yang ia temukan adalah mata gadis ini berkaca-kaca. Gadis ini sedang menahan tangis. Mili tidak sanggup menahan air mata yang mengalir itu karena haru dan bahagia.
Banu terkejut. "Apa aku menyakitimu tadi?" Banu pikir bahwa ia menabrak gadis ini begitu keras sampai menimbulkan tangisan.
"Aku Mili Pak. Akhirnya Bapak bangun dari koma. Syukurlah." Mili menangis dan langsung memeluk erat pria ini. Banu makin kebingungan.
"Tunggu ... " Banu melepaskan pelukan dan menjauhkan tubuh Mili darinya. "Kenapa kamu memelukku tiba-tiba?" tanya Banu dengan rahang yang mengeras. Dia marah. "Jangan bersikap kurang ajar."
"Mili? Mili siapa? Dari wajahmu saja aku tidak kenal, apalagi nama kamu. Sepertinya kamu salah. Aku harus pergi." Pak Banu beranjak pergi.
"Tunggu, Pak." Mili menahan tangan Pak Banu. "Apakah Bapak sedang berpura-pura? Apa Bapak benar tidak kenal saya. Ini tidak lucu. Padahal kita pernah berciuman di atap waktu itu."
"Lepaskan tanganku," geram Banu seraya melepaskan tangan Mili dengan kasar. Manik mata Mili tertegun melihat tangannya yang di tepis Pak Banu. "Maaf tadi membuatmu sakit, tapi melihat tingkah mu seperti ini aku merasa rugi sudah mengkhawatirkan kamu tadi. Bisakah aku pergi sekarang?" tanya Banu dingin.
Tangan Mili mengambang. Dia mencoba mencerna kalimat Pak Banu seraya menghapus air mata.
"Dan soal kita ciuman itu, aku rasa itu memang bukan hal yang lucu. Berkhayal mu sungguh memuakkan. Bisakah kamu lebih pandai bersandiwara sampai aku yakin? Ck! Menyebalkan." Banu meninggalkan tempat itu dengan geraman yang terdengar lirih dari bibirnya.
Mili tetap tertegun di tempatnya, hingga Banu kembali masuk ke dalam mobil.
Ada apa? Apa ini? Kenapa Pak Banu begitu kasar? Apa dia lupa padaku? Benarkah? Tak terasa air matanya jatuh berderai. Mili merasakan hatinya sakit.
__ADS_1
"Mili," panggil seorang pria. Mili terperanjat kaget. Dia langsung menghapus air mata itu dengan cepat. Saat mendongak. Raka muncul di sana.
"Kak Raka."
"Akhirnya aku bisa menemukanmu." Raka terlihat lega berhasil menemukan gadis ini. "Sepertinya hari ini aku beruntung."
"Apa Pak Banu sudah bangun dari koma, Kak?" tanya Mili tanpa basa-basi.
"Ah, Pak Banu?" Raka terkejut pertanyaan pertama yang di lontarkan gadis ini adalah Banu.
"Ya. Apa Pak Banu memang sudah bangun dari koma?"
"Emm, i-iya. Pak Banu memang sudah bangun dari koma." Raka tersendat saat menjawabnya.
"Kakak pasti tahu benar keadaan Pak Banu sekarang, jadi apakah Pak Banu masih bisa mengingatku atau tidak?" todong Mili membuat Raka melebarkan mata.
"A-pa maksudmu?"
"Katakan saja Kak. Aku ingin tahu," kata Mili serius. Raka melirik cengkeraman tangan Mili pada lengannya. Gadis ini tidak main-main.
"Kenapa menanyakan itu? Itu pertanyaan aneh Mili." Raka tergelak panik. Ia tidak menduga pertanyaan kedua yang di lontarkan Mili adalah hal itu. Hal dimana Raka sendiri terkejut dan tertegun saat Pak Banu mengatakan tidak mengenal nama Mili sama sekali.
"Aku bertemu dengannya. Aku bertemu Pak Banu," desis Mili. Raka melebarkan mata.
"Pak Banu kesini?" Raka menoleh ke kanan dan kiri. "Lalu, apa ... yang dikatakan Pak Banu padamu?"
"Pak Banu tidak mengenaliku. Pak Banu tidak mengenali ku sama sekali, Kak Raka," jelas Mili seraya menunjukkan wajahnya yang terluka.
Raka terdiam. Berarti benar dugaan ku.
"Mungkin Pak Banu lelah jadi kurang jelas melihat wajahmu. Pak Banu langsung sibuk bekerja setelah koma. Bukankah itu wajar, Mili?" Raka berusaha meyakinkan.
"Entahlah. Yang aku yakin adalah Pak Banu tidak mengingatku. Dia melupakan aku. Entah tidak ingat atau sengaja melupakan aku, aku tidak tahu." Mata itu berkaca-kaca. Mili sudah ingin menangis, tapi ia berusaha untuk menahannya.
__ADS_1
...____...