Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 64 ° Masih kencan


__ADS_3

Dia kembali ragu.


"Pak Banu mendekatiku hanya ingin tahu semua itu?" tanya Mili. Banu terkejut.


"Tidak. Maaf." Banu merasa bersalah. Bodoh! Aku terlalu bersemangat! umpat Banu. Memaki dirinya sendiri. "Aku bukan bermaksud seperti itu. Maafkan aku," ujar Banu seraya meraih dan menggenggam tangan Mili.


Manik mata Mili menuju ke arah tangannya yang di genggam. Ini nyata. Namun jika akhirnya tujuan Pak Banu hanyalah ingin tahu, bagaimana aku?


"Mili ...," tegur Pak Banu lembut.


"Ya," sahut Mili tersentak. Ia bagai baru bangun dari mimpi.


"Jangan pernah sekalipun berpikir aku hanya memanfaatkan mu untuk sebuah informasi. Aku serius. Aku bersungguh-sungguh," ujar Banu mempertegas. Mili diam seraya menatap Pak Banu. "Saat ini apapun yang tidak bisa aku ingat waktu itu tidaklah penting. Kita berdua sekarang inilah yang perlu di perhatikan. Namun jika memungkinkan aku bisa mengingat mu dalam cerita yang lalu, itu bonus. Jadi jangan berpikir ini jalan aku untuk meninggalkan mu."


"Maaf, saya selalu cemas."

__ADS_1


"Kamu takut kehilangan ku?" tebak Banu. Mili mengerjap. Dia yang tadinya berani menatap pria ini, kini menunduk. Merasa wajahnya merah merona.


"T-tentu saja," sahut Mili jujur.


"Kalau begitu hati kita sama. Jadi berhenti berpikir seperti itu lagi, Mili. Aku ingin tahu soal Dirga, karena jika di dalam ingatanku yang dulu ada kebenaran bahwa dia memang terlibat dalam kecelakaan itu, aku bisa memenjarakan dia," ujar Banu.


Pak Banu benar. Mili merasa bodoh. Ia sudah dilingkupi ketakutan lebih dulu.


"Sepertinya bukti di pegang Pak Dirga sendiri. Aku lupa dimana letaknya, tapi mungkin di ruangannya," ujar Mili sedikit lupa.


"Lalu ini?" tanya Mili pada salad buah dan roti bakar yang ia pesan masih ada. Untuknya yang miskin, menyisakan makanan tidaklah mungkin. Itu pemborosan.


"Kamu boleh membawanya masuk ke dalam mobil. Kita akan makan di sana," usul Banu. Lebih hangat di dalam mobil. Udaranya makin dingin. Anginnya juga agak kencang. Bisa saja turun hujan tiba-tiba," ujar Banu melihat ke atas dengan cemas.


"Bapak seperti petugas BMKG saja tahu cuaca," ujar Mili seraya tersenyum. Banu tergelak.

__ADS_1


"Ayo, aku bawakan makanan mu." Banu mengambil salad buah dan roti bakar di atas meja. Sementara Mili hanya membawa minuman saja.


Akhirnya mereka sampai di dalam mobil.


"Saya jadi malu, ternyata saya yang pesan banyak. Pak Banu hanya minum saja." Mili baru sadar. Soalnya tadi terlihat seperti milik mereka berdua, ternyata itu pesanan yang ia sebut.


"Tidak apa-apa. Kamu memang harus makan banyak biar tumbuh dengan sehat," ujar Banu berkelakar. Mili tersenyum canggung. "Pasti Haras juga akan melakukan demikian jika kencan dengan bibi ku."


"Pak Haras berkencan dengan direktur?" tanya Mili terkejut. Kepala Banu mengangguk.


"Kamu terkejut?"


"Ya," sahut Mili.


"Aku sudah lama tahu kalau Haras itu menyukai bibi. Namun dia tidak berani mengatakannya karena bibi seolah tidak ingin dekat dengan pria manapun. Bahkan tidak ada niatan untuk menikah. Jadi Haras terus saja menekan perasaannya," cerita Banu dengan nada sangat lega.

__ADS_1


..._____...


__ADS_2