
Siang ini Mili keluar sebentar ke kantin. Ia ingin minum yang segar-segar. Dengan membawa cappucino ukuran reguler di tangannya, ia berjalan di lorong perusahaan. Kali ini Mili berjalan sendirian. Roh tampan itu tidak sedang bersamanya.
Kadang kala keberadaan Banu sungguh mengganggu, tapi ada kalanya juga di rindukan. Seperti sekarang ini. Pria ... emm ... ya sebut saja pria. Mili menengok ke kanan ke kiri mencari pria itu. Hingga tidak sengaja, dia menabrak seorang pria yang keluar dari pintu tiba-tiba.
"Ah!" pekik Mili seraya mendelik hebat saat melihat minumannya tumpah mengenai baju pria itu. "Ma-maaf. Maafkan saya." Mili panik seraya ingin membersihkan kemeja pria itu yang basah kena minumannya.
"Tidak perlu. Menjauh," tepis pria itu tidak ingin tangan Mili menyentuh tubuhnya. "Kenapa tidak hati-hati?" geram pria itu. Ternyata itu Dirga. Mili menemukannya saat mencoba mendongak menatap orang yang sedang marah itu.
Saat itu muncul Raka di balik tubuh pria ini. Rupanya Raka tengah bersamanya. Mili? Raka langsung mendekat ke arah gadis ini.
"Kak Raka ...," bisik Mili seakan meminta bantuan.
"Dia karyawan baru, Pak. Mungkin dia tidak sengaja." Raka langsung jadi tamengnya. "Mili, minta maaflah," bisik Raka. Gadis ini paham.
"Maafkan saya, Pak. Maafkan saya." Mili kembali mengangguk-anggukan kepala. Dirga membersihkan kemejanya dengan kesal.
"Membawa minuman begitu saja tidak becus," ujar Dirga marah. Wajahnya terlihat agak menakutkan karena sedang marah. Mili menunduk.
"Saya akan memberi dia nasehat untuk lebih hati-hati," kata Raka ingin Dirga melepaskan gadis ini dan pergi.
"Jangan hanya di beri nasehat. Hukum saja dia," kata Dirga seraya berjalan menjauh sambil berdecih.
"Baik, Pak." Raka menganggukkan kepala. Setelah yakin Dirga menjauh dari lorong, Raka menoleh pada Mili. "Kamu enggak apa-apa?" tanya Raka cemas.
"Enggak. Aku enggak apa-apa, Kak. Gimana ini ... Pak itu pasti marah besar," keluh Mili cemas. Dia menggigit kuku-kukunya.
"Sudah. Biarkan saja. Pak Dirga memang bertemperamen keras. Lain kali kamu harus hati-hati jika berpapasan dengannya. Sebisa mungkin jangan terlibat apapun dengannya. Pastikan kamu menjauh," nasehat Raka.
"Baik, Kak. Terima kasih. Bagaimana ini?" tunjuk Mili pada tumpahan minuman miliknya.
"Panggil saja anak cs untuk membersihkannya. Biarlah aku yang memanggilnya. Kamu kembali ke ruangan mu saja." Raka berbaik hati dan menyuruh Mili kembali.
"Tidak Kak. Enggak apa-apa. Mili panggil anak cs dulu baru ke ruangan. Terima kasih sudah mau bantuin aku tadi."
"Ya, Ya."
"Dah, kak Raka." Mili pun bergegas mencari anak cs.
***
Pulang kerja hari ini tidak seindah biasanya. Cuaca hari ini buruk. Hujan mulai turun sejak jam pulang kerja belum usai. Mili hanya bisa berdiri saja di depan gedung perusahaan. Memandangi air hujan yang turun membasahi bumi.
__ADS_1
"Belum pulang, Mil?" tanya Citra. Dia orang yang menjadi senior setelah kemunculan Mili. Usianya sama. Mungkin karena tahu bagaimana jadinya junior, jadi dia sangat baik padanya.
"Belum. Hujan. Jadi nunggu dulu. Kan naik angkot," sahut Mili.
"Oh ..."
"Kalau kamu?"
"Nunggu di jemput," sahut Citra sambil senyum.
"Pasti di jemput pacar, ya?" goda Mili. Gadis itu tersenyum.
"Pacar kamu kemana? Kok naik angkot?" tanya Citra balik.
"Enggak ada." Mili tersenyum sambil menggelengkan kepala.
"Wahh sayang sekali. Kamu kan manis. Kenapa enggak punya pacar?"
"Buat para pria, mungkin aku bikin kesal karena isinya cari uang mulu. Enggak ada waktu buat kencan," ungkap Mili.
"Berarti pria itu bukan pria sejati. Kalau tahu kita sedang berjuang, bukannya harus di kasih semangat? Kalau dia yang sedang berjuang, gantian kita yang kasih semangat. Harusnya kan gitu." Citra mengatakan dari sudut pandangnya.
"Benar. Mereka bukan pria sejati." Mili setuju.
"Enggak apa-apa. Kamu pulang aja."
"Ya, udah. Aku pulang ya."
"Oke." Akhirnya Mili sendiri lagi. Hujan masih sama. Deras. Pandangannya beredar ke sekitar. Tidak ada keberadaan pria itu. Jika orang lain memilih kabur saat melihat roh, tapi Mili justru ingin bertemu. "Pak Banu enggak ada. Memangnya dia ada kesibukan apa sampai enggak muncul hari ini?" cibir Mili sendiri. "Bodohnya aku menunggu roh yang enggak jelas gimana kehidupannya. Memangnya sudah enggak manusia berjenis kelamin pria lagi di dunia ini, sampai aku harus menunggu pria itu?" dengus Mili.
Gadis ini menghela napas. Kenyataanya dia memang sedang menunggu roh tampan itu.
"Aku di sini sedang berkhayal menunggu Anda, Pak," lirih Mili.
"Belum pulang Mili?" tanya seseorang. Mili menoleh.
"Kak Raka. Iya. Aku belum pulang." Mili tersenyum.
"Kenapa?"
"Itu ... Hujan."
__ADS_1
"Emmm ... Mau ikut aku? Aku akan mengantarmu sampai ke rumah," tawar Raka. Seperti biasa. Pria ini selalu baik padanya. Dia kakak kelas dua tingkat di atasnya dulu.
"Enggak perlu. Aku bisa pulang sendiri nanti. Kalau hujan reda," tolak Mili. Pria ini mendongak. melihat ke atas langit.
"Langit putih, padahal ini petang. Sepertinya hujan akan lama. Kalau kamu tetap menunggu di sini, aku rasa sampai malam. Jadi lebih baik ikut aku." Raka masih bersikeras mengajak Mili.
Gadis ini diam.
"Aku tidak akan bilang pada Hilda. Aku tahu bagaimana kalian di sekolah dulu." Raka tersenyum.
"Emm ..."
"Aku akan ambil mobil. Kamu tunggu di sini." Raka tersenyum dan menuju area parkir yang tidak terkena hujan di belakang. Dia memilih mode memaksa.
**
Mili senang akhirnya bisa pulang, tapi dia jadi canggung karena satu mobil dengan pria ini. Awalnya dia ingin duduk di belakang, tapi Raka langsung bilang ... "Aku bukan sopir, Mili. Jadi lebih baik kamu duduk di depan."
Alhasil, gadis ini duduk di samping Raka.
"Gimana kerja di Mandala?"
"Ya ... Gitu. Jadwal padat. Padahal aku bukan karyawan yang punya jabatan. Gimana kalau Kak Raka ya ... pasti sibuk sekali. Kan Kak Raka sekretarisnya direktur Banu," kata Mili membuat Raka terkejut.
"Kamu tahu aku bagian apa?"
"Hah?" tanya Mili terkejut.
"Ternyata kamu mencari tahu tentangku, ya? Aku kan belum pernah kasih tahu, aku kerja di bagian apa," kata Raka sambil tersenyum.
Mili tersadar akan kesalahannya.
"Eh, tidak. Aku lihat kakak kenal dengan Pak Dirga, jadi ... "
"Kamu juga kenal Pak Dirga? Bukannya kamu baru masuk ya ..." Raka terkejut.
Lagi-lagi Mili justru membuka sendiri informasi apa saja yang ia punya.
"Itu dari Citra. Temanku satu bagian." Mili mencari alasan.
"Begitu ya ..." Raka menganggukkan kepala.
__ADS_1
..._____...