
"Ayolah Direktur. Aku dan dia juga adalah orang perusahaan Mandala. Mungkin saja kunjunganku akan membawa keberuntungan untuknya. Bisa jadi dia bangun karena ada teman-temannya yang datang," kata Dirga dengan senyum meremehkan.
"Teman? Kamu teman Banu? Yang benar saja. Jangan bicara omong kosong." Cahaya mendengus.
"Aku mungkin memang bukan temannya. Aku ini rekannya di Mandala. Namun apa Direktur bisa menyangkal kalau gadis ini bukan teman Banu?" tanya Dirga dengan senyum sinis. Cahaya melebarkan mata sekilas. Dirga mengarah ke Mili!
"Kenapa tidak bisa? Apa dia juga karyawan Mandala?" tanya Cahaya seakan tidak mengenal Mili. Mungkin sengaja.
"Oh, Anda tidak kenal?" tanya Dirga balik dengan mencemooh. Cahaya hanya melirik sebentar ke Mili lalu menatap Dirga lagi.
"Sangat aneh kalau aku langsung bisa mengenal karyawan perusahaan Mandala yang begitu banyak itu." Cahaya tahu dia tidak boleh langsung mengiyakan apalagi membantah. Kalimat Cahaya masuk akal. Karena Mili bukanlah karyawannya yang punya jabatan penting di perusahaan. Apalagi dia hanya orang baru. "Apa yang kamu rencanakan?" selidik Cahaya pada Dirga.
"Tidak ada. Aku hanya ingin menjenguk Banu, juga ... mengingatkan Anda untuk segera mengambil keputusan. Harus segera di adakan rapat para eksekutif. Aku yakin kalau Anda sudah pernah berjanji akan mengadakan rapat. Karena jika tidak segera di lakukan, akan ada banyak pihak yang tidak puas akan kepemimpinan Anda." Kalimat Dirga seperti sebuah ancaman untuk Cahaya.
Cahaya diam. Dirga melirik ke arah Haras yang menatapnya tajam. Bibir pria ini tersenyum sinis. Dia tahu bahwa Haras tidak terima dia mencemooh Cahaya.
Mili bingung. Dia terjebak di antara kedua perdebatan dua orang ini. Namun dia tidak bisa bergerak.
"Terima kasih sudah mengingatkan, Dirga. Tenang saja. Aku tidak akan lupa akan janji itu. Rapat para eksekutif akan di adakan," kata Cahaya.
"Oh, baguslah Direktur. Saya harap Anda tidak mengulur-ulur waktu rapat ini. Karena perusahaan juga tidak bisa menunggu."
"Aku tahu Dirga." Cahaya sedikit menggeram.
"Emm ... Sepertinya aku tidak bisa mengunjungi Banu sekarang. Tidak apa-apa. Jika tiba waktunya nanti, aku pasti akan mengunjunginya. Permisi direktur dan ... Selamat jumpa kembali, nona." Kalimat terakhir sapaan untuk Mili. Gadis ini menunduk.
Cahaya melihat punggung Dirga yang menjauh dari pintu kamar perawatan keponakannya.
"Jadi kamu datang berdua dengan Dirga?" tanya Cahaya pada Mili yang masih berdiri disana.
__ADS_1
"T-tidak, Bu."
"Kalau tidak, kenapa dia bisa sampai di sini?" tanya Cahaya marah pada Mili.
"S-saya tidak tahu, Bu." Mili menggelengkan kepala dengan kaku.
"Tidak banyak orang yang tahu soal Banu di rawat di rumah sakit ini. Jika Dirga bisa sampai di sini, itu artinya ada mulut seseorang yang membocorkannya." Bola mata Cahaya melebar tajam.
"Maafkan saya Bu, t-tapi saya benar-benar tidak membocorkan ini pada Pak Dirga. Ini hanya kebetulan. S-saya juga baru mengenal beliau." Mili berusaha menyangkal sebisanya. Karena dia benar-benar tidak membocorkan rahasia. Dia hanya kebetulan bertemu dengan Pak Dirga di lorong ini.
"Aku tidak tahu, tapi aku harap kamu tidak lagi datang ke tempat ini, Mili," kata Cahaya membuat Mili melebarkan mata tersentak kaget." Aku akan mengabaikan kejadian ini. Mulai sekarang, anggap saja kamu tidak pernah menginjakkan kaki disini. Juga ... mulai detik ini, kamu tidak pernah mengenal Banu. Ingat itu," kata Direktur mengambil keputusan.
Mili menelan ludahnya sendiri. Tenggorokannya terasa sakit karena menahan tangis yang ingin merebak. Direktur ini tidak begitu saja percaya padanya. Ia di anggap berbohong.
"Ba-baik, Bu. Ma-maafkan saya. Saya permisi." Mili menundukkan kepala meminta maaf. Lalu berjalan menjauh dari pintu itu. Cahaya memperhatikan punggung gadis itu hingga menghilang di tikungan.
"Ya, tapi saya rasa pantas Anda melakukan itu. Karena keselamatan Pak Banu adalah yang terpenting," sahut Haras.
"Dirga sialan. Dia memberiku ancaman. Memangnya dia siapa?" umpat Cahaya kesal. "Oh, aku pusing Haras." Cahaya memijit kepalanya. Haras menahan tubuh Cahaya yang mulai limbung.
"Kita masuk ke dalam ruangan Pak Banu. Anda bisa istirahat di sana," usul Haras. Cahaya mengangguk. Lalu pria itu membimbing Cahaya masuk ke dalam ruangan dan duduk di sofa.
"Hhh ... Rapat harus segera di adakan Haras. Mereka akan membuat keributan karena aku mengulur waktu," kata Cahaya masih memijit kepalanya sendiri. "Kamu siapkan saja untuk itu Haras."
"Ya, Direktur."
**
Ini sudah dua hari setelah Pak Banu menghilang. Pak Banu benar-benar menghilang, itu membuat Mili sangat ingin bertemu.
__ADS_1
"Anda benar-benar menghilang ya, Pak. Aku masih belum terbiasa dengan ini. Jadi maaf kalau kadang aku ingin bertemu." Mili berkata sendiri dengan sedih. Dia tetap bekerja di perusahaan seperti biasa, tapi dia tidak lagi melihat direktur Cahaya setelah kejadian di rumah sakit itu. Pun mustahil menyapa dengan tenang, jikalau benar-benar bertemu nantinya. Karena ia harus bisa menjaga jarak.
Bahkan kak Raka pun jarang bertemu. Semua orang itu seperti menghilang di perusahaan ini. Ia jadi merasa sendiri.
"Kita bertemu lagi, nona," sapa sebuah suara di lorong perusahaan. Mili mendongak dan terkejut. Itu Pak Dirga. Dari mereka yang ingin di temui, kenapa justru bertemu dengan pria ini?
"Selamat siang Pak," sapa Mili sopan. Walaupun ia ingin segera kabur dari sana, karena terlanjur bertemu, ia harus bisa menempatkan diri.
"Selamat siang. Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Pak."
"Aku pikir kamu akan di keluarkan dari perusahaan karena membawa orang lain ke rumah sakit tempat Banu di rawat," kata Dirga mencela. Mili terkejut. Dia merasa di tuduh.
"Maaf. Bukan saya yang membawa Anda kesana. Kita hanya tidak sengaja bertemu di sana," sangkal Mili.
"Hahahaha ... Memangnya ada orang yang tahu kalau aku kesana sendiri? Bukannya Direktur melihat kita berdua menjenguk Banu. Hahaha ..." Dirga tertawa menyebalkan. Mili sadar, pria ini sangat berbahaya. Dia pun berusaha menghindar.
"Maaf, saya harus segera kembali ke ruangan. Permisi," kata Mili meminta undur diri. Namun setelah beberapa langkah, Mili berhenti karena mendapat pertanyaan.
"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa sampai di rumah sakit yang tidak banyak orang tahu?" tanya Pak Dirga membuat Mili tersentak. Spontan dia menoleh pada pria itu. "Kamar itu rahasia bukan? Namun kamu ... bisa dengan mudah menemukan dimana Banu di rawat. Apa aku melewatkan sesuatu hingga tidak mendapat informasi apapun tentangmu dan Banu?"
Deg, Deg, Deg.
Jantung Mili berdetak kencang. Tubuhnya tegang. Dia tahu sedang dalam keadaan tidak aman. Pria ini mulai mencurigainya. Pak Banu benar. Kemungkinan memang Pak Dirgalah yang mencelakainya.
..._____...
__ADS_1