Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 62 ° Cemburu


__ADS_3

"Ah, iya," sahut Mili cepat.


"Kamu terus saja menatap Mofa dengan tatapan serius, itu membuatku cemas," kata Banu yang melihat kalau Mili terus saja menatap Mofa dengan tatapan ingin tahu.


"Apa? Tidak ada yang perlu di cemaskan," kilah Mili.


"Aku tahu kamu berpikir keras tentang siapa Mofa."


Mili diam. Dia ketahuan.


"Saya tidak perlu tahu," sahut Mili berniat menutupi kecemasannya tadi. Namun itu justru membuatnya terlihat sangat cemas.


"Harus. Kamu harus tahu." Banu langsung menahan langkah gadis ini. Ia merebut tangan Mili untuk di genggamnya lagi.


Mili menatap sebentar, lalu menunduk.


"Karena aku tidak mau kamu berpikiran yang aneh-aneh. Jadi aku berterus terang," ujar Banu. "Aku dan Mofa sepakat untuk menolak perjodohan. Kita tidak tertarik satu sama lain."


"Tapi perempuan tadi cantik," kata Mili seraya membuang muka ke arah lain.

__ADS_1


"Entah bagaimana pun pandangan orang tentang Mofa, aku tidak tertarik." Banu menarik jari-jari tangan Mili dan mengecupnya. Bola mata Mili melebar sekejap melihat perlakuan pria ini. "Aku lebih tertarik dengan mu. Maka dari itu aku ada disini."


"Y, ya. T-terima kasih." Mili jadi gugup. Banu tersenyum. "Kita ... kita sebaiknya jalan lagi." Mili menunjuk jalan di depan.


Banu mengangguk. "Oke." Mereka akhirnya melanjutkan jalan-jalan romantis mereka. "Ternyata kamu pencemburu, ya," ujar Banu tetap melihat lurus ke depan dengan bibir tersungging senyum.


"Saya tidak tahu," jawab Mili tidak nyambung. Namun tetap saja membuat Banu senang.


"Ya. Tidak apa-apa, kamu tidak tahu. Yang penting aku yang tahu." Banu melirik. Mili mendengus samar. Dia terlalu terbawa emosi tadi. Hingga akhirnya Pak Banu tahu soal dia yang memang cemburu pada perempuan bernama Mofa.


Kalau lawannya adalah perempuan cantik dan pastinya punya kedudukan yang sama dengan Pak Banu, tentu Mili yang hanya orang biasa ketar-ketir kan? Itu normal.


"Apakah kamu juga cemburu seperti ini dulu?" tanya Banu menggali memori tentang mereka dulu.


"Dulu tidak ada yang bisa menyentuh Pak Banu kecuali saya," kata Mili mulai mengingat lagi cerita waktu itu.


"Oh, ya? Berarti kamu spesial?"


"Saya tidak tahu, tapi menurut saya, Pak banulah yang istimewa."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Saya ... harus mengatakannya lagi?" tanya Mili ragu.


"Ya. Katakan saja."


"Dulu kan pak Banu hanya sebuah arwah. Sebuah kebetulan saja saya yang bisa melihat Pak Banu seutuhnya. Jadi tidak ada wanita manapun yang bisa menyentuh Pak Banu," terang Mili.


Banu terdiam. Lalu ia menatap Mili. Tampaknya ada sesuatu yang membuat Pak Banu berpikir.


"Ada apa, Pak?" tanya Mili ingin tahu. Ekspresi wajah Pak Banu terlihat serius.


"Terlepas dari mustahilnya aku menemui kamu ketika menjadi arwah, tapi jika memang benar aku menemui kamu saat itu ... apa tujuan sebenarnya aku pada saat itu?" tanya Pak Banu.


Mili mengerjap.


"Maksud Bapak?"


"Oke, dalam keadaan koma jiwaku mungkin saja berputar-putar. Lalu aku datang menemui kamu. Namun apa sebenarnya yang aku inginkan dari mu saat itu? Kita tidak mengenal satu sama lain sebelumnya kan?"

__ADS_1


Mili mengerjapkan matanya lagi. Lalu ia menghela napas.


..._____...


__ADS_2