Arwah CEO Tampan

Arwah CEO Tampan
Bab. 37 ° Kenapa aku seperti ini?


__ADS_3

Mendapat pertanyaan itu, Mili kesulitan menjawab. Namun ia harus bisa menjawab.


"Mungkin. Saya tidak tahu," jawab Mili. Banu terdiam. Dia menatap Mili yang menunduk untuk menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.


"Mungkin?" Banu tidak puas. Itu jawaban yang ambigu.


Banu melihat ke sekeliling lagi. Dia masih merasakan hal yang sama. Rindu, bahagia, sekaligus sedih. Namun dia tidak mengerti. Jika dia tidak pernah datang ke rumah ini, apa yang ia rindukan dan membuatnya seperti ingat hal yang bahagia?


"Bapak bisa istirahat di sofa itu, jika masih disini. Saya masuk ke dalam saja," ucap Mili setelah berhasil menguatkan diri untuk bicara. Gadis itu langsung membuka pintu kamarnya tanpa menunggu persetujuan dari Banu.


Ia pun melempar tubuhnya di atas ranjang dan menangis sejadi-jadinya di bawah bantal.


***


Esok hari.


Malam itu Banu pulang ke rumah setelah yakin Mili aman. Dia tidak berpamitan. Karena sepertinya Mili sudah tertidur.


Perasaan aneh yang ia rasakan saat berada di rumah gadis itu masih menyisakan banyak tanya pada dirinya.


Di kantor pun Banu kadang termenung melihat foto dalam KTP. Dia sungguh tidak mengerti sama sekali kenapa ia bisa bisa punya perasaan sentimentil pada rumah gadis itu jika dia tidak pernah menginjakkan kaki di sana.


Ia mendongak menatap Raka yang duduk di depannya.


"Raka, apa benar aku tidak mengenal Mili sebelumnya?" tanya Banu tidak menggunakan basa-basi apapun. Ini membuat Raka terkejut setengah mati. Apalagi pertanyaan itu begitu sensitif.


Pria ini tidak langsung menjawab. Dia mengambil napas dulu. "Ada apa, Pak?" tanya Raka harus mencari tahu dulu akar dari pertanyaan itu. "Apa Bapak bertemu Mili lagi?" selidik Raka.


"Tidak. Aku hanya ingin bertanya." Banu tidak jujur. Ia merasa masih tidak ingin orang-orang tahu bahwa dia pernah menemui Mili berulang kali.


Jawaban ini tentu tidak langsung di percaya oleh Raka. Dia yakin pasti Pak Banu pernah bertemu Mili.


"Jawab saja," tukas Banu tidak sabar. Raka tidak bisa menunda lagi untuk menjawab.


"Mungkin saja, Pak. Karena dia mantan karyawan perusahaan ini. Jadi saya pikir wajar kalau Anda pernah bertemu dengannya di suatu tempat," jelas Raka masuk akal.


Jika melihat ini, dia ingin mengatakan perihal arwah itu. Namun itu tidak mungkin karena tidak masuk akal. Ia bisa di anggap gila.


"Dia pernah bekerja di sini?" tanya Banu terkejut.


"Benar Pak." Raka mengangguk. Fakta ini mengejutkan. "Aku ingin berkas miliknya berada di atas mejaku." Banu memberi perintah seraya berdiri. Dia memakai jas kerjanya.


"Bapak mau kemana?" tanya Raka.


"Aku ada urusan penting. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Jadi jangan ikut. Duduk." Banu memberi kode pada Raka untuk kembali duduk.

__ADS_1


Raka yang tadinya berdiri, kini kembali duduk di soaf. Banu bergegas menuju pintu keluar. Raka menatap punggung pria itu hingga menghilang setelah pintu tertutup.


"Apa ini akhirnya Pak Banu akan ingat Mili? Hhh ... jika begitu, tidak ada kesempatan ku untuk mendekatinya." Raka menghela napas.


Pria ini kembali berkutat dengan pekerjaannya. Dia masih duduk di sofa dengan semua berkas yang sedang di periksanya.


"Iya, aku harus ke ruangan HRD. Mencari berkas karyawan milik Mili." Raka hampir saja lupa perintah Banu sebelum pria itu menghilang.


Raka membereskan berkas yang ada di meja. Menata dengan rapi. Setelah itu, Raka berjalan menuju pintu. Tepat saat ia membuka pintu dan ingin menutupnya kembali, Presdir Cahaya datang.


Raka membungkuk memberi hormat.


"Kamu mau keluar?" tanya Cahaya.


"Iya."


"Apa di dalam kosong?" Beliau merasa tidak ada tanda ada seseorang di dalam ruangan.


"Benar Bu."


"Kemana Banu?" tanya Cahaya dengan mata sedikit menyipit.


"Maaf saya tidak tahu." Raka menunduk.


"Maaf, Bu. Pak Banu hanya bilang itu adalah hal penting. Namun sepertinya itu bukan pekerjaan," jelas Raka.


"Bukan pekerjaan?" Cahaya diam sedang berpikir.


"Iya, Bu."


Cahaya terdiam sejenak.


"Ada hal lain yang ingin saya bantu?" tanya Raka sebelum ia beranjak pergi.


"Tidak. Kamu bisa bekerja kembali. Terima kasih," ujar Cahaya.


"Kalau begitu saya permisi." Raka membungkukkan badan memberi hormat dan pergi.


"Apa Banu menemui Mova?" tanya Cahaya pada Haras.


"Mungkin saja Bu. Atau itu kepentingan pribadi Pak Banu lainnya." Haras berpendapat.


"Cari tahu kemana keponakanku pergi. Tidak biasanya dia meninggalkan kursi kerja untuk sebuah hal pribadi. Banu pria yang begitu loyal pada pekerjaan," perintah Cahaya.


"Baik, Presdir." Haras mengangguk.

__ADS_1


**


Siang ini, Banu ke Bougenville patisserie. Lagi. Untuk kesekian kalinya.


"Pria tampan dengan black card itu selalu ke sini Mili," kata senior memberi tahu.


"Hmm." Mili tidak ingin menjawab. Dia hanya sungkan untuk tidak menanggapi seniornya yang bicara.


Sebenarnya dia sudah tahu itu. Bahkan dia sempat terkejut dengan kemunculan pria tinggi itu di sini. Mili tidak menduganya.


Mili ingin mengabaikan.


"Apa benar kamu tidak mengenalnya? Dia sering kesini dan membeli banyak roti, lho," kata senior menyelidiki.


"Tidak," jawab Mili singkat.


"Benarkah?"


"Untuk pria dengan black card seperti dia, mana mungkin mengenalku yang hanya punya rumah sewa sempit. Itu mustahil," lirih Mili dengan setengah mendengus.


Ini juga sebagai penegasan pada dirinya sendiri bahwa di kehidupan nyata, dia dan Pak Banu adalah dua dunia berbeda. Jadi dia tidak boleh banyak berharap.


Banu hanya memesan kopi dan roti hangat dengan rasa yang sama untuk di konsumsi di tempat.


Mili berjalan sendirian di trotoar. Meskipun sedikit cemas akan kemunculan Dirga, ia harus tetap melewati jalan ini seperti biasanya.


Sesaat, Mili merasakan ada seseorang di belakangnya. Awalnya ia pikir itu hanya orang lewat. Namun saat dia mencoba mempercepat langkah. Ternyata langkah di belakangnya juga ikut cepat.


Apa itu Pak Dirga? Mili melangkah dengan was-was.


Dia meremas bawaannya dan bersiap menghajar orang itu jika macam-macam. Ia menunggu orang itu mendekat padanya, lalu ... Bruk! Mili memukul orang itu dengan tas yang berisi barang bawaannya.


"Ouhgh!" keluh orang itu. "Hei, ini aku! Banu!" teriak orang itu.


Mili langsung menghentikan pukulannya dan mengerjapkan mata.


"Pak Banu?!" Mili terkejut.


"Ugh ... Apa yang kau lakukan?" tanya Banu geram.


"M-maaf! Maafkan saya." Mili membungkukkan badan merasa bersalah. Lalu ia berdiri tegak. "Kenapa Anda mengikuti saya?" tanya Mili sadar bahwa dia melakukan hal wajar karena pria ini sendiri yang menyebabkan dia menyerang.


"Oh, itu ..." Sambil masih meringis karena pukulan tas Mili, Banu menggaruk pelipisnya. Sepertinya dia tidak punya alasan apapun tentang hal ini. Banu begitu saja mengikuti Mili pulang.


...______...

__ADS_1


__ADS_2