Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 99. Tahlilan hari ketiga meninggalnya Papi.


__ADS_3

Hari ini tepat tiga hari sejak kepergian papi. Azril dan Mami telah sepakat mengadakan tahlilan di sebuah panti asuhan.


Albirru dan keluarganya ikut membantu persiapan dan ia juga memberikan makanan penutup.


Sehabis solat Ashar berjamaah tahlilan di mulai. Yang dipimpin Abi dan Albirru.


Setelah pembacaan surat yasin, dan tahlil anak-anak di panti asuhan diminta untuk menyantap hidangan yang telah Azril siapkan.


Tak lupa Azril menyiapkan bingkisan buat anak-anak tersebut. Yang terdiri dari sajadah, Al-quran dan tasbih.



Ketika akan pulang, satu persatu anak-anak panti asuhan yang menyalami Azril diberinya amplop.


Dari panti asuhan Azril mengajak Albirru dan keluarganya mampir ke rumah jika ingin bermain dengan Raja dan Ratu karena besok pagi mereka sudah harus kembali ke Jakarta.


"Dad, itu tadi apa. Sekolah ...."tanya Raja saat berada dalam mobil. Azril yang memangku Raja memandang putranya itu dan tersenyum sebelum memberikan jawaban.


"Sayang, itu bukan sekolah."


"Apa, Dad?"


"Itu tempat tinggal untuk anak-anak yang tak memiliki Daddy dan Bunda."


"Kemana Daddy dan Bunda nya?"


"Daddy dan Bunda mereka telah meninggal seperti Opa kemarin. Yang telah dikuburkan."


"Aku tak mau Daddy dan Bunda meninggal. Aku tak mau tinggal di sana." Raja memeluk Azril erat sambil menangis.


"Sayang, doakan Daddy dan Bunda sehat selalu serta dipanjangkan umurnya."


"Kapan kita berdoa itu, Dad."


"Setiap habis solat."


"Kalau gitu aku mau solat terus, biar bisa doakan Daddy dan Bunda panjang umur." Raja mengecup kedua pipi Azril berulang kali.


Zeya yang memangku Ratu, tersenyum melihatnya. Bahagia melihat anak-anaknya yang begitu menyayangi Azril.


Sampai dirumah, Raja dan Ratu telah tertidur. Albirru dan keluarganya tak jadi mampir. Ia akan kembali besok mengantar kepulangan mereka ke Jakarta.


...............

__ADS_1


Pagi harinya semua telah siap-siap untuk keberangkatan menuju bandara. Mami menemui penjaga rumah, dan menitipkan rumah. Ia memberikan amplop sebagai ucapan terima kasih. Gaji mereka Azril yang bayar.


Setelah menunggu beberapa saat kedatangan Albirru dan keluarga tak juga muncul, Azril dan Zeya memutuskan untuk berangkat saja.


Semua telah masuk ke dalam mobil. Dan akan segera melaju menuju bandara Sultan Syarif Qasim yang berada di simpang Tiga kota Pekanbaru.



Sekitar setengah jam perjalanan sampailah mereka di bandara. Pesawat setengah jam lagi akan terbang. Azril dan Zeya segera menuju ruang tunggu.


Saat akan menaiki eskalator menuju ruang tunggu, Azril mendengar namanya dipanggil.


Azril berhenti dan memandang ke asal suara. Tampak Albirru berjalan tergesa diikuti Zahra.


"Al, maaf kami langsung berangkat,karena kami pikir kamu tak jadi mengantar keberangkatan. Kami takut telat," ucap Azril.


"Tadi Umi tiba-tiba pusing dan muntah. Makanya kami telat datang."


"Sekarang bagaimana keadaannya Umi, Mas?" tanya Zeya.


"Udah agak mendingan. Tapi Abi meminta Umi istirahat, jangan ikut. Thalita yang menjaga Umi."


"Zahra ... sampaikan salam dariku untuk Abi, Umi dan Thalita."


"Baik, Mbak." Zeya memeluk Zahra.


"Aamiin. Aku doakan kehamilan Mbak sehat hingga hari kelahiran baby nantinya."


"Aamiin , terima kasih ya."


"Raja, Ratu, salam sama Ayah dan Tante."


Albirru berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan si kembar.


"Raja, Ratu, maafkan Ayah yang tak bisa setiap saat ada bersamamu. Tapi Ayah tau kamu telah memiliki Daddy yang hebat, jadi Ayah tak pernah kuatir. Kamu dan Ratu pasti akan menjadi anak-anak yang hebat juga." Albirru memeluk kedua anaknya. Tampak air mata menetes dari sudut matanya.


"Kenapa Ayah menangis," ucap Ratu


"Kata Daddy laki-laki tak boleh cengeng," ujar Raja.


"Ayah menangis bukan karena cengeng, tapi bahagia. Ayah senang melihat Raja dan Ratu menjadi anak yang sehat juga pintar."


"Aku dan Ratu pamit dulu."

__ADS_1


Raja mengecup pipi Albirru begitu juga Ratu. Albirru kembali memeluk erat anak-anaknya, seolah enggan melepaskan. Tangisnya pecah.


"Jangan nakal, dengarkan ucapan Daddy dan Bunda. Ini jajan buat Raja dan Ratu." gumam Albirru disela tangisnya. Ia memberikan Raja dan Ratu amplop.


"Ini untuk aku dan Ratu."


"Iya, nak. Hati-hati di jalan. Ayah pasti merindukan kalian."


"Baik, Ayah. Semoga Ayah sehat dan panjang umur. Kata Daddy aku harus mendoakan itu agar tidak meninggal seperti Opa."


"Aamiin, semoga kamu dan Ratu juga selalu sehat dan panjang umur. Ayah akan usahakan segera ke Jakarta agar bisa bertemu Raja dan Ratu lagi."


"Aku berngkat lagi. Tante aku dan Ratu pamit." Raja dan Ratu menyalami Zahra.


"Raja dan Ratu anak pintar. Semua ini pasti karena Daddy dan Bunda yang mendidik kalian dengan sangat baik."


"Daddy dan Bunda memang hebat," ucap Ratu.


"Doakan Tante sehat, agar kita bisa bertemu lagi."


"Baik, Tante. Da.. da... "


"Al, kami pamit." Azril menyalami Albirru.


"Terima kasih karena telah menjadi Daddy yang sangat membanggakan bagi anak-anakku."


"Jangan berterima kasih, bagiku Raja dan Ratu itu juga anakku."


Mami dan Zeya kembali memeluk Zahra. Setelah itu mereka semua menaiki eskalator menuju ruang tunggu. Terdengar panggilan buat penumpang yang menuju Jakarta untuk segera menaiki pesawat.


Albirru memandangi kepergian anak-anaknya hingga hilang dari pandangannya. Tampak air mata masih menetes dari matanya.


Andaikan waktu bisa berputar kembali, aku pasti tak akan melepaskan Zeya. Mungkin aku pria paling bahagia karena memiliki dua anak yang sehat dan lucu. Tapi aku sadar semua itu tak akan bisa kembali. Semoga sikembar selalu dalam Lindungan-Nya.


Bersambung


*******************


Pasti Albirru saat ini menyesal karena pernah mengabaikan Zeya. Tapi tak ada gunanya penyesalan. Jalani saja takdir yang telah ditentukan. Pasti ini yang terbaik.


Terima kasih untuk semua pembaca karena tetap setia menantikan kelanjutan novel ini. ❤❤❤❤❤❤


Mampir juga ke novel teman mama dibawa ini ya.

__ADS_1




__ADS_2