
Zeya dan Azril sampai di kota Duri sekitar jam sepuluh malam. Mereka langsung menuju hotel untuk beristirahat.
Zahra telah mengabari jika pemakaman akan dilaksanakan pagi hari. Zeya dan Azril masuk ke kamar.
Setelah mandi, mereka langsung menuju empat tidur untuk beristirahat.
"Kasihan Thalita,Mas. Dalam usia muda harus meninggalkan dunia ini. Terutama anaknya. Anak yang sangat membutuhkan kehangatan pelukan dari ibunya harus rela kehilangan kasih sayangnya. Untung ada Zahra ibu sambungnya."
"Mungkin itu sudah menjadi takdirnya, Sayang."
"Aku takut, Mas."
"Apa yang kamu takutkan."
"Bukannya aku menolak takdir, tapi aku ingin jika saat aku meninggalkan dunia ini, anak-anak telah dewasa dan udah mandiri."
"Kamu jangan berpikiran terlalu jauh. Aku yakin kita akan diberikan umur panjang. Dapat menyaksikan anak-anak kita tumbuh dewasa dan bahkan hingga kita memiliki cucu."
"Aamiin."
"Istirahatkah, kamu jangan kecapean. Aku takut akan mempengaruhi kehamilan kamu."
"Mas, bagaimana ya keadaan Abi dan Umi."
"Kita doakan aja mereka cepat pulih."
"Kenapa mas Albirru bisa ceroboh begini. Apakah ia akan masuk penjara karena kelalaiannya."
"Mungkin ...."
"Mas jika nanti mas Albirru terkena sangsi pidana karena kelalaiannya itu, apakah Mas bisa menolong?"
"Maksud kamu, Sayang."
"Aku tak ingin mas Albirru di penjara. Aku tak mau Raja dan Ratu suatu saat mengetahui jika ayah mereka pernah dipenjara dan akan berpikir jelek."
"Kamu ingin aku menolong Albirru agar ia tek dituntut."
__ADS_1
"Iya, Mas." Azril hanya diam tanpa menjawab perkataan Zeya.
"Mas jangan salah paham, aku meminta tolong bukan karena masih ada perasaan. Tapi aku hanya tak ingin mas Albirru masuk penjara. Pasti tak ada niatnya sengaja mencelakai. Kasihan Zahra dan bayinya jika Albirru harus mendekam dalam jeruji besi."
"Aku mengerti, kamu tak mungkin ada perasaan lagi pada Albirru karena aku jauh lebih ganteng dan perkasa darinya." Azril memainkan alasnya dengan menaik turunkan alis itu.
"Mas aku serius."
"Tanpa kamu minta aku pasti akan menolongnya."
"Terima kasih, Mas." Zeya memeluk tubuh suaminya itu.
"Tapi itu tak gratis."
"Maksud mas, apa?"
"Kamu harus membayar dengan tubuhmu ini. Aku ingin kamu melayani aku lebih hot lagi. Dan aku mau lebih lama setiap kita bermain kuda-kudaan."
"Mas mesum banget."
Zeya memukul dada suaminya pelan. Azril menangkap tangan Zeya dan mengecupnya.
"Aku juga bahagia banget mendapatkan cinta darimu yang begitu besarnya. Tidak hanya untukku tapi juga buat Raja dan Ratu."
"Sekarang tidurlah. Besok pagi kita langsung menuju rumah duka."
Zeya meletakkannya kepalanya di lengan suaminya sebagai bantal. Tak berapa lama terdengar suara deru nafas yang teratur, pertanda ia telah tertidur lelap.
.............
Pagi harinya para pelayat telah berdatangan. Jenazah Thalita telah dimandikan dan dikafani, siap untuk dikuburkan. Solat untuk jenazah dilakukan di rumah saja.
Mama Thalita semula tak mengizinkan Albirru untuk melihat dan ikut mengurus jenazah Thalita. Tapi bujukan Papa akhirnya meluluhkan Mama. Papa Thalita yakin kalau semua sudah menjadi suratan takdir. Kita hanya bisa menerima semua takdir-Nya.
Azril dan Zeya yang telah hadir, ikut juga dalam melaksanakan solat jenazah.
Tampak mama Thalita yang tak berhenti menangis. Sedangkan Papa nya tampak lebih kuat dan ikhlas.
__ADS_1
Setelah disolatkan, jenazah Thalita diangkat dan dimasukan kedalam keranda, siap menuju peristirahatan terakhir.
Albirru terlihat sangat kusut dan berantakan. Ia tampak sangat terpukul dengan kejadian saat ini.
Tangis mama Thalita masih aja terus mengalir dari sudut matanya membasahi kedua pipinya. Albirru yang langsung masuk ke dalam liang lahat dan mengadzani jenazah Thalita.
Ketika tanah mulai diturunkan untuk menutupi tubuhnya Thalita, hujan pun ikut turun dari langit.
Hujan seakan menegaskan betapa sedihnya orang-orang atas meninggalnya Thalita. Semua berteduh kecuali Albirru dan kedua orang tua Thalita serta Zahra.
Azril mengambil payung yang ada di mobil. Ia meminta mami dan si kembar untuk menunggu di mobil saja. Azril memberi payung pada Zeya yang ingin berdiri lebih dekat kekuburan.
Mengacuhkan tubuhnya yang basah kuyup mama Thalita bersimpuh di depan pusara anaknya.
"Selamat jalan, Nak. Semoga kamu ditempati dekat sisi-Nya. Dan diampuni semua dosa-dosamu. Semoga menempati surga terindahnya."
Albirru juga bersimpuh disisi kuburan. Zahra yang memegang payung berusaha melindungi suaminya itu dari curah hujan.
Thalita maafkan semua kesalahanku. Aku akan menjalankan semua yang kamu amanahkan. Jika saja aku tau pertemuan kita hanya sekejap, tak akan pernah aku buat kamu bersedih. Pasti aku akan berusaha memenuhi semua yang kamu harapkan.
Hujan perlahan sudah sedikit reda. Mama dan Papa Thalita telah basah kuyup.
Terdengar suara ponsel dari tas Zahra. Ia mengeluarkan dari dalam tasnya. Tampak nama Abi nya tertera. Zahra lalu mengangkatnya.
Baru beberapa saat bicara tampak wajah keterkejutan dari Zahra mendengar berita dari Abinya tentang keadaan Abi Albirru. Ponsel ditangannya hampir terlepas.
Bersambung
*****************
Kabar apa yang didengar Zahra mengenai Abi Albirru????? Nantikan terus ya kelanjutannya.
Jangan lupa mampir juga ke novel terbaru mama yang berjudul LOVE IS RAIN.
Menceritakan tentang seorang gadis yang rela mengorbankan cintanya demi seorang sahabat.
Akan rilis jam 10 pagi hari ini. Aku sangat mengharapkan dukungan dari semuanya karena karya ini ikut dalam lomba event Yang Muda Yang Bercinta. Terima Kasih.
__ADS_1