
Albirru tampak sangat kaget mendengar ucapan Zeya. Ia terdiam seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.
Tak pernah ia bayang akan berjauhan dengan anak-anaknya. Apa lagi saat ini Raja dan Ratu baru saja dekat dengannya. Ia baru merasakan bagaimana menjadi seorang ayah.
"Itu sangat jauh, Zeya. Bagaimana nanti jika aku kangen dengan Raja dan Ratu," gumam Albirru.
"Mas, aku akan ke kota ini juga sesekali. Saat aku ke sini, akan dikabari nanti. Atau mas bisa menghubungi mas Azril di malam hari dengan cara video calI saat ia pulang kerja jika ingin melihat Raja dan Ratu."
"Apa aku boleh datang ke rumah saat ke Jakarta."
"Tentu saja, mas."
"Pasti abi dan umi kaget jika mendengar berita ini. Aku boleh hubungi mereka. Biar bisa ketemu Raja dan Ratu sebelum kamu pindah ke Jakarta."
"Silakan, mas."
"Maaf, mas permisi dulu. Mau hubungi abi dan Umi," ujar Albirru.
"Iya, mas."
Albirru berdiri dari duduknya dan menghubungi ke dua orang tuanya. Mendengar Raja dan Ratu yang akan pindah, abi dan umi segera menuju ke tempat Zeya. Perjalanan yang mereka tempuh dari tempat tinggalnya sekitar satu jam.
"Maaf mas. Aku tinggal sebentar , aku mau bantu karyawan melayani pembeli."
"Nggak apa, Zeya. Aku disini bersama Raja dan Ratu boleh, kan?"
"Boleh mas. Nanti jika mereka rewel, mas panggil aja aku."
"Baiklah, Zeya. "
Zeya melayani pembeli dan membantu Mira membuat roti. Saat ini Mira telah mahir membuat roti.
Mira lah nantinya yang akan dipercaya memegang dan mengelola toko roti bunda. Karena ibu Nur tidak bisa lagi, ia sudah terlalu tua untuk bolak balik dari kampungnya ke tempat ini.
Zeya menghampiri Albirru karena udah saatnya Raja dan Ratu tidur.
"Maaf mas, ini udah jam sepuluh biasanya Raja dan Ratu tidur dulu sebelum jam makan siang mereka."
__ADS_1
"Silakan, Zeya." Albirru mengecup kedua pipi Raja dan Ratu.
"Dy ... Dy, nda ...." ucap Raja dan Ratu.
"Daddy kerja sayang. Ini ada ayah ...." ucap Zeya.
"Mereka mencari Azril," gumam Albirru.
"Iya, mas. Anak-anak dekat banget dengan daddynya. Mas Azril selalu sabar menghadapi tingkah rewel mereka. Apapun yang mereka inginkan pasti dituruti."
"Beruntungnya Azril dicintai Raja dan Ratu," lirih Albirru.
"Jika mereka telah besar dan mengerti, pasti Raja dan Ratu juga akan menyayangi mas."
"Semoga cinta mereka padaku sama besar dengan rasa cinta mereka pada Azril," cicit Albirru.
"Mas mau makan roti apa. Maaf aku harus meninggalkan mas seorang diri. Raja dan Ratu telah mengantuk. Aku mau tidurkan mereka dulu."
"Nggak usah, Zeya. Mas masih kenyang. Sebentar lagi abi dan Umi juga sampai. Mereka sudah diperjalanan."
"Baiklah, aku ke kamar dulu. Jika Abi dan Umi datang dan aku masih di kamar, mas bisa minta tolong Mira panggilkan aku."
Setelah Raja dan Ratu tertidur, Zeya ke luar dan kembali melayani pembeli, karena ia tak melihat Abi dan Umi. Dari tempat duduknya Albirru mengamati semua gerak-gerik Zeya.
Seandainya kamu masih jadi istriku, pastilah aku pria yang paling bahagia. Memang benar yang sering orang katakan, jika kita akan menyesal dan baru menyadari kehadirannya setelah orang yang kita sayangi memilih menjauh dan pergi dari kita.
Tak berapa lama tampak sebuah mobil berhenti tepat di depan toko rotinya bunda Zeya. Abi dan Umi keluar dari dalam mobil tersebut.
Albirru yang melihat kedatangan kedua orang tuanya langsung menyambut mereka. Ia menyalami kedua orang tuanya.
Albirru memegang tangan Umi, menuntun menuju meja tempat ia duduk tadi. Zeya yang melihat dari meja kasir langsung menghampiri.
"Assalamualaikum, Abi ... Umi."
"Waalaikumsalam," ucap mereka serempak.
"Silakan duduk, aku buatkan air dulu," ucap Zeya. Ia meninggalkan kedua mantan mertuanya dan menuju dapur membuatkan teh buat mereka.
__ADS_1
Zeya kembali dengan dua cangkir teh dan sepiring kue. Ia meletakkan dihadapan mereka.
"Silakan dicicipi Umi, Abi."
"Iya, Zeya. Terima kasih. Mana Raja dan Ratu."
"Mereka masih tidur, Umi."
"Apa benar kamu akan pindah mengikuti Azril ke Jakarta," ucap Abi.
"Iya, Abi. Bisnis mas Azril sedang berkembang di sana. Ia ingin menekuninya agar bisa lebih maju."
"Ini bukan karena ingin menghindari kami, bukan?"
"Maksudnya Abi, apa?"
"Siapa tau kamu kurang berkenan karena kami yang sering datang mengunjungi Raja dan Ratu."
"Abi, aku tak sepicik itu. Mas Albirru ayah biologis mereka. Abi dan Umi juga kakek neneknya. Kenapa aku harus keberatan kalian mengunjungi mereka. Jika aku tak mau kalian datang, tentu aku tak memberi alamatku dan tak mengatakan kejujuran tentang kehadiran Raja dan Ratu."
"Abi hanya bertanya, jika memang itu karena alasan bisnis, Abi mendoakan semoga nilainya Azril makin berkembang."
"Zeya, Umi boleh meminta sesuatu."
"Katakan saja, Umi. Apa yang Umi inginkan?"
"Apakah boleh hak asuh Ratu jatuh ke tangan Albirru," ucap Umi.
Zeya yang kaget mendengar ucapan Umi menjatuhkan nampan yang ia pegang. Ia tak menyangka jika Umi akan meminta itu.
Bersambung
***********************
Terima kasih banyak buat semua pembaca setia novel ini. 😍😍😍😍😍😍
Mampir juga ke novel teman mama dibawa ini. Tak kalah menariknya.
__ADS_1