Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 43. Minta Restu Ayah dan Ibu


__ADS_3

Abi dan Umi nya Albirru kaget ketika Zeya mengatakan jika kuburan yang sedang mereka ziarahi adalah kuburan kedua orang tuanya.


"Apa kamu anaknya Beni dan Rahayu?" ucap Abi terbata dengan suara yang gemetar.


"Ya, Abi."


"Abi ingat anaknya Rahayu itu Alifa kalau tak salah namanya."


"Betul Abi. Aku Alifa Zeya. Di sekolah teman-teman biasa memanggil aku Alifa. Tapi kalau aku sendiri lebih senang dipanggil Zeya."


Umi tampak gemetar. Ia berdiri di bantu oleh Abi. Dan berjalan mendekati Zeya. Umi memeluk erat tubuh Zeya.


Zeya tak mengerti mengapa Umi menangis setelah mengetahui jika dirinya anak dari Beni dan Rahayu.


"Umi, kenapa menangis?"


"Maafkan Umi, nak."


"Untuk apa?" Zeya masih tak mengerti dengan maksud ucapan Umi.


Umi melepaskan pelukannya. Tangannya menangkup wajah Zeya dan memandanginya intens.


"Maafkan jika kami baru mengetahui jika kedua orang tuamu telah tiada."


"Ayah dan ibuku telah lama tiada sejak usiaku masih sepuluh tahun."


"Abi telah lama mencari kabar tentang kedua orang tuamu," gumam Abi.


"Ada hubungan apa antara ayah dan ibuku dengan Abi, Umi .... "


"Kami dulu bersahabat. Ayahmu yang telah membantu memberikan Abi modal untuk usaha. Setelah itu ia pindah ke kota B. Dan kami juga pindah. Terakhir kami bertemu saat usiamu tiga tahun. Setelah itu kami tidak pernah lagi berkomunikasi karena ponsel saat itu masih langka," ucap Abi.


"Kami dapat kabar dari seorang sahabat jika Rahayu dan Beni telah meninggal. Kami minta alamat pusaranya," gumam Umi.

__ADS_1


"Jadi Abi dan Umi sahabat ayahku," lirih Zeya menahan tangis. Selama ini tak ada yang ziarah ke kuburan orang tuanya kecuali ia sendiri.


"Kamu datang ke sini dengan siapa?" ucap Umi bertanya.


"Dengan calon suamiku, Umi."


"Calon suami."


"Ya, mas Azril kemarilah." Zeya memanggil Azril untuk mendekati mereka


"Mas Azril, kenalkan ini mantan mertuaku."


Azril menyalami Abi dan Umi Albirru sambil menyebutkan namanya.


"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Abi.


"Tiga hari lagi, Abi."


"Semoga pernikahan kamu kali ini bisa memberikan kebahagiaan buatmu. Maafkan Abi dan Umi yang baru mengetahui keberadaan makam orang tuamu. Dan maafkan kami yang tak ada saat kamu membutuhkan bantuan."


"Boleh kami minta nomor ponsel kamu, Zeya." Zeya memandangi Azril meminta pendapatnya.


Abi dan Umi yang melihat lirikan Zeya mengerti jika wanita sedikit keberatan memberikan nomor ponselnya.


"Nggak usah jika kamu tak ingin kami tau nomor ponselmu. Mungkin ini semua lebih baik. Tapi kami harap kamu tidak memutuskan siraturahmi antara kita. Sekali lagi kami mohon maaf jika selama ini kami pernah menyakiti kamu. Sebenarnya banyak yang ingin Abi dan Umi katakan. Tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Apakah suatu hari kamu bisa menemui kami?"


"Sama-sama Abi dan Umi, aku juga minta maaf jika ada salah. Nanti jika aku ada waktu, aku pasti akan menghubungi Abi dan Umi."


"Jika kamu membutuhkan sesuatu jangan sungkan datang pada kami. Nomor ponsel Abi dan Umi masih yang lama itu."


"Baik Abi, Umi. "


"Kami pamit dulu. Kami pasti akan sering berkunjung ke sini. Siapa tau kita bertemu lagi. Sekali lagi Umi ucapkan selamat atas pernikahan kamu. Semoga kekal dan bahagia selamanya."

__ADS_1


"Aamiin. Terima kasih, Umi."


Abi dan Umminya Albirru melangkahkan kakinya meninggalkan pemakaman.


Zeya dan Azril bersimpuh depan pusara kedua orang tuanya.


"Ayah, Ibu ... maafkan Zeya yang baru bisa mengunjungi ayah dan ibu lagi. Zeya harap ayah dan ibu tenang di sana. Maafkan saat pernikahan pertama Zeya tidak datang minta restu. Kali ini Zeya janji akan lebih sering mengunjungi makam ayah dan ibu." Suara Zeya terhenti karena tangisannya.


Azril yang berada di samping Zeya ingin rasanya memeluk wanita itu dan mendekapnya. Tapi ia tak berani. Pastilah Zeya tak akan bisa menerima.


Zeya menghapus air matanya. Dan menarik nafasnya.


"Ayah, Ibu ... ini mas Azril. Ia calon suami Zeya. Doakan pernikahan kami lancar. Dan semoga ini pernikahan terakhir Zeya."


"Ayah, Ibu ... diamanapun kamu berada. Aku harap kamu bisa mendengar ucapanku. Aku datang ingin meminta restu pada kalian untuk menikahi putrimu ini. Aku janji akan selalu berusaha membuatnya tersenyum dan bahagia. Aku mencintai anak ayah dan ibu dengan sepenuh hatiku."


Zeya menghapus air matanya yang kembalinjatuh membasahi pipinya. Mereka membacakan surat yasin dan doa. Setelah setengah jam, akhirnya Zeya dan Azril selesai.


"Ayah, ibu ... aku pamit. Semoga ayah dan ibu berada di tempat terindah-Nya."


"Aku pamit Ayah dan Ibu. Doakan pernikahan kami berjalan lancar, " ucap Azril.


Azril dan Zeya meninggalkan area pemakaman. Zeya ingin rasanya berkunjung ke rumah tantenya. Tapi ia takut nanti sikap tantenya akan membuat Azril tak nyaman.


Setelah dengan penuh pertimbangan akhirnya Zeya mengajak Azril menemui tantenya. Bagaimanapun ia yang telah memberikan tempat ia berteduh walau sikapnya tak baik.


Zeya mengatakan semua tentang tantenya itu, agar Azril tak kaget saat bertemu nanti.


Bersambung.


********************


Selamat Pagi semuanya. Pasti kagetkan, ternyata orang tua Albirru dan Zeya bersahabat. Bagaimana kelanjutannya. Nggak sabarkan menunggu pernikahan Azril dan Zeya. Jangan bosan ya menanti kelanjutannya. ❤❤❤❤💜💜💜💜💜

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini update mampir ya ke novel my besties. Masih bertema poligami.



__ADS_2