
"Albirru, Abi dan Umi pengin bertemu Raja dan Ratu," ucap Umi mengalihkan pembicaraan.
Zahra tampak diam saja, mungkin hatinya masih belum terima atas ucapan Umi tadi.
"Aku akan hubungi Azril dulu, meminta izin darinya."
"Apakah harus izin dari Azril jika ingin bertemu cucuku. Bukankah Abi dan Umi masih memiliki hak untuk menemui dan berjumpa dengan Raja dan Ratu."
"Umi, sebagai wanita muslim dan juga menurut adat kita diajari bertata krama. Meminta izin pada orang tua yang telah merawatnya, walaupun bukan ayah kandung ... aku rasa itu wajar," ucap Zahra sedikit ketus.
"Zahra , kenapa bicara begitu dengan Umi. Itu terlalu kasar. Umi pasti tau itu, pasti tadi Umi hanya terbawa emosi," gumam Albirru.
"Maaf, Umi. Aku hanya ingin mengingatkan Umi. Tidak ada maksud untuk menggurui."
"Tak apa, Zahra. Mungkin memang harus minta izin dulu dengan Azril. Kamu hubungilah Azril, kapan kita diizinkan bertemu. Jika kamu tak bisa meninggalkan pekerjaan, biar Abi dan Umi saja yang berangkat ke Jakarta menemui mereka."
"Nanti aku hubungi setelah makan malam. Aku mau mandi, sudah mau magrib."
Albirru berdiri dari duduknya diikuti Zahra. Ia pamit akan menyiapkan pakaian Albirru.
Albirru meminta Zahra untuk duduk, ada yang ingin ia katakan. Mereka duduk ditepi ranjang. Albirru menggenggam tangan Zahra.
"Maafkan, Mas. Selama ini kamu pasti berusaha kuat dan sabar menerima pernikahan poligami ini. Seharusnya mas tidak menerima saran kamu untuk menikah lagi. Bukankah mas telah memiliki anak. Dan pernikahan bukan hanya mengenai keturunan. Mas akan menceraikan Thalita setelah anak kami lahir," ucap Albirru pelan.
"Mas, tidak boleh mengatakan kata cerai sembarangan. Dan pernikahan bukanlah permainan. Lagi pula aku yang meminta Thalita untuk mau menerima Mas. Begitu anaknya lahir, Mas menceraikannya. Pastinya Thalita akan sedih sekali. Thalita juga tidak akan memberikan hak asuh anaknya pada Mas. Aku tidak apa-apa. Aku hanya minta Mas berlaku adil."
"Mas tak ingin kamu pergi seperti yang Zeya lakukan," ucap Albirru lirih.
"Mbak Zeya dan juga aku tak akan pergi dan lari jika Mas bisa bersikap adil."
"Tegorlah Mas jika nanti melakukan kesalahan,"gumam Albirru.
"Baiklah, aku akan menegor Mas. Tapi jika masih melakukan kesalahan hingga berulang kali, aku akan mundur secara perlahan."
__ADS_1
"Baiklah, Zahra. Sekarang mas mandi dulu."
Albirru masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Selesai mandi Albirru dan Zahra menuju ruang musala yang ada dalam rumahnya untuk melaksanakan solat magrib berjamaah yang diimami oleh Abi.
Sehabis solat magrib berjamaah, Zahra mengajak Abi dan Umi makan malam. Setelah makan malam semua berkumpul di ruang keluarga.
Albirru mengambil ponselnya untuk menghubungi Azril. Abi dan Umi ingin mendengar jawaban langsung dari Azril sehingga Albirru harus menghidupkan pengeras suaranya.
Setelah beberapa saat terdengar nada sambung dari ponselnya Albirru.
"Assalamualaikum, Azril."
"Waalaikumsalam, ada apa Al?"
"Abi dan Umi ingin bertemu Raja juga Ratu, kapan waktu yang tepat untuk kami bisa bertemu mereka."
"Besok juga bisa."
"Kamu tak perlu membeli tiket."
"Maksud kamu apa?"
"Aku dan Zeya serta anak-anak saat ini berada di Pekanbaru. Ayahku sakit. Jadi jika kamu ingin bertemu Raja dan Ratu bisa datang besok malam ke rumah mami."
"Jadi kamu dan anak-anakku ada di Pekanbaru?"
"Ya ...."
"Baiklah, Azril. Besok malam kami keruma. Terima kasih."
"Sama-sama."
"Assalamualaikum"
__ADS_1
"Waalaikumsalam,"
Albirru memutuskan sambungan ponselnya dengan hati yang sangat gembira.
"Jadi Raja dan Ratu ada di kota ini? Umi udah nggak sabar ingin bertemu mereka. Dari foto yang kamu kirim, Raja sangat mirip dengan kamu kecil wajahnya."
"Mereka juga sangat pintar, aku juga tak sabar ingin bertemu mereka besok malam."
"Kenapa harus malam?" tanya Umi.
"Umi, bukankah tadi kita sama-sama mendengar jika ayahnya mas Azril sedang sakit. Mungkin saja pagi dan siang mereka ada di rumah sakit." Zahra berkata dengan hati-hati.
"Kenapa mereka tidak menitipkan Raja dan Ratu pada Albirru aja. Apa anak-anak ikut ke rumah sakit. Bukankah itu tak baik."
"Aku rasa Azril lebih tau, Umi," gumam Albirru.
"Tak mungkin juga Raja dan Ratu dititipkan pada kita, karena pasti anak-anak tak akan nyaman. Mereka belum terlalu mengenal kita."
"Seharusnya anak-anak itu dekat juga dengan Albirru ayah kandungnya."
"Kita tidak bisa memaksakan itu, Umi. Dari kecil yang anak-anak tau ayahnya mas Azril, dan yang mereka lihat pertama kali adalah wajah mas Azril."
Umi akhirnya hanya bisa terdiam tanpa menjawab ucapan Zahra. Setelah waktunya solat isya mereka kembali solat berjamaah.
Bersambung.
****************
Terima kasih untuk semua dukungan dari pembaca setia novel Noda Merah Pernikahan. ❤❤❤❤❤❤💜💜💜💜
Jangan lupa mampir juga ke novel teman mama dibawah ini. Tak kalah menarik loh.
__ADS_1