Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 102. Kecelakaan?


__ADS_3

Albirru mengendarai mobil dengan perlahan karena matanya yang sedikit mengantuk. Albirru baru saja pulang dari kota Padang, mengurus bisnisnya di sana.


Sebenarnya Albirru ingin beristirahat dulu, namun ucapan dan alasan Thalita yang memaksa mereka ke kota Duri, ada benarnya yang membuat Albirru menurut saja.


"Kenapa harus hari ini kamu ke Duri. Bukan besok aja," tanya Umi dengan Thalita.


"Besok Mas Albirru ada rapat, Umi. Aku takut keburu melahirkan. Bukankah Umi pernah bilang jika perkiraan lahiran dari dokter terkadang meleset tanggalnya." jawab Thalita pada Umi.


"Tapi Albirru baru subuh tadi sampai dari Padang. Apa kamu tidak capek, nak?" ujar Umi kemudian bertanya kepada Albirru.


"Nggak apa-apa, Umi. Apa yang dikatakan Thalita itu ada benarnya. Jika aku menunda-nunda takut Thalita keburu lahiran." jelas Albirru membenarkan.


"Besok pagi Umi dan Abi ikut Albirru kembali ke Pekanbaru. Saat kamu lahiran baru Umi nginap lebih lama," ucap Umi.


"Nggak apa Umi, aku juga masih seminggu lagi lahiran."


"Nanti setelah lahiran, Umi akan sering berkunjung buat bantu kamu jaga anak."


"Nggak perlu, Umi. Aku akan kembali ke Pekanbaru setelah aku bisa dan pandai merawat dan menjaga bayiku. Tapi, Mas-"


"Tapi apa, Thalita."


"Seandainya nanti aku pergi saat melahirkan, aku mau Mas dan Mbak Zahra menjaga dan merawatnya. Jangan katakan tentang aku. Saat ia dewasa katakan saja ibunya Mbak Zahra agar ia tak sedih karena ditinggal ibunya."


"Kamu ngomong apa. Tak ada yang boleh mendahului takdir Allah," ujar Umi.


"Aku bukan mendahului takdir Umi. Aku hanya mengatakan seandainya."


"Umi yakin kamu akan selamat."


"Mas jika nanti aku telah tiada, jangan pernah menikah lagi. Cukup satu saja istrimu, Mbak Zahra. Karena sesungguhnya tak ada wanita yang rela berbagi cinta suaminya. Walau mulutnya berkata ikhlas tapi hatinya pasti ada juga rasa sakit. Aku ingin Mas dan Mbak Zahra jadi ibu dan ayah buat anakku. Jangan ada ibu lainnya lagi nanti."


"Kamu bicara apa, Thalita. Kenapa kamu akhir-akhir ini sering berkata seolah kamu akan pergi selamanya."


"Nggak tau, Mas."

__ADS_1


Abi dan Umi hanya diam mendengar ucapan Thalita. Terutama Abi, dari awal keberangkatan mereka ia terus termenung.


Setelah setengah jam berjalan, mobil mulai memasuki jalan tol menuju kota Duri. Tampak Albirru mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi.


"Mas, jangan ngebut. Kurangi kecepatan -"


Hanya sampai di situ suara Thalita mengingatkan Albirru karena setelah itu terdengar bunyi hantaman keras.


Ternyata mobil yang mereka tumpangi menghantam pembatas jalan.


Masih terdengar suara Thalita dan Umi mengucapkan istighfar sebelum terdengar suara teriakan dan rintihan.


Asap mengepul dari mobil yang dikendarai Albirru sudah ringsek akibat menabrak pembatas jalan, Umi dan Thalita yang tadi merintih sudah tidak terdengar suaranya, Albirru yang masih sadar segera menghampiri jok belakang dan mendapati Umi dan Thalita sudah pingsan terutama Thalita yang mengeluarkan darah tidak hanya dari luka tapi dari sela pahanya membasahi pakaiannya.


Albirru melihat ke jok depan tampak Abi yang dari kepalanya tampak darah mengucur,mungkin karena kebentur dashboard mobil yang sangat keras.


Albirru yang panik segera berjalan tertatih-tatih meminta pertolongan, namun tidak ada siapapun disana, Albirru kembali mendatangi Thalita dan Umi.


Ternyata Thalita masih sadar, ia memanggil nama Albirru lirih, Albirru yang dipanggil segera menghampiri Thalita dan menggenggam erat tangan istrinya itu.


"Bicara apa kamu!" teriak Albirru dengan mata memerah khawatir.


"Mungkin ini cara Allah, apapun yang terjadi nanti selamatkan bayi kita, jaga bayi kita dan biarkan bayi kita mengenal Mbak Zahra sebagai ibunya, aku tidak ingin bayi kita bertanya siapa ibunya nanti, A-aku sudah tidak kuat." Napas Thalita tersengal-sengal diujung kalimatnya.


Pegangan tangannya pada Albirru melemah, seiring dengan tasbih allah diujung kesadarannya Thalita kali ini benar-benar tidak sadarkan diri.


Albirru berteriak ingin menyadarkan Thalita namun tidak berhasil, air mata Albirru jatuh, dia memeluk istrinya. "Kalian berdua akan Selamat! Kamu dan anak kita!"


Albirru dengan setengah tenaganya segera berjalan menuju tempat yang lebih ramai meminta pertolongan, akhirnya beberapa kelompok pemuda menolong mereka.


"Cepat panggil ambulans!" teriak Albirru memeluk tubuh Thalita yang benar-benar sudah tidak sadarkan diri, ia mengecek nadi istrinya itu yang masih berfungsi.


Tak lama kemudian sebuah ambulans datang dan membawa Albirru, Thalita, Abi dan Umi ke rumah sakit, diperjalanan ke rumah sakit, Albirru tidak henti-hentinya berdoa, semoga Umi dan Istrinya diberikan keselamatan.


__ADS_1



Albirru yang tidak terluka parah kini hanya berdiri mondar-mandir didepan rawat ICU, ia baru saja berdoa pada Allah, bermunajat akan diberikan mujizat, jika terjadi apa-apa pada Umi, Abi, Thalita dan calon anaknya, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.


"Ya allah!" keluh Albirru memukul tembok rumah sakit melampiaskan kekesalannya. "Istighfar Albirru!"


Albirru mulai beristigfar sejenak, duduk merenung, mengacak rambutnya sendiri, betapa frustrasinya Albirru sekarang, Umi, Abi dan Thalita tidak tahu bagaimana keadaannya sekarang.


Albirru yang sedari tadi gusar, mondar-mandir tanpa sebab, mengambil posisi duduk di ruang tunggu, mulutnya tidak berhenti mengucap istighfar dan mengharap mujizat dari Allah.


Tidak lama setelahnya seorang dokter keluar dari ruangan dimana Thalita ditangani, Albirru yang melihat itu berdiri dan menghampiri dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Albirru beruntun.


Dokter tersebut menyiratkan ekspresi susah ditebak, membuat Albirru bertanya-tanya, Dokter itu memegang bahu Albirru dan mencoba menguatkannya.


"Maaf pak, telah terjadi pendarahan dan luka dalam pada ibu Thalita, kami harus melakukan operasi. Tapi-" Dokter tersebut memberi jeda, membuat Albirru sudah diambang batas kesabaran karena penasaran. "Maaf, Pak. Karena pendarahan yang cukup banyak kami hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka."


Seketika tungkai Albirru melemas tidak karuan, matanya gelap memandang lurus setelah kalimat dokter tersebut terucap yang terdengar menusuk di telinga. Albirru jatuh lemas dengan tatapan kosong, mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah mimpi belaka.


Ia tak sanggup menerima kenyataan yang akan didengarnya nanti.


BERSAMBUNG


*******************


Bagaimana keadaan Thalita, Umi dan Abi? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini.


Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman-teman mama di bawah ini.




__ADS_1


__ADS_2