
Sore hari di dapur rumahnya mami, Zeya dan dua orang asisten rumah tangga sedang memasak buat persiapan makan malam nantinya.
Walau Azril telah melarang memasak tapi Zeya tetap melakukannya. Karena ia ingin menjamu sendiri tamu-tamu yang datang dengan masakan darinya.
Setelah memandikan Raja dan Ratu, Azril menuju dapur untuk menemani istrinya memasak.
Azril memeluk pinggang istrinya dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di bahu Zeya.
"Masak apa, Sayang. Wangi banget ...."
"Gurami saos Padang, capcai, udang goreng mentega buat Raja Ratubdan lauk kesukaan Mas, rendang."
"Pantasan wangi banget. Jangan terlalu sering masak itu, Sayang."
"Kenapa, Mas?"
"Nanti aku bisa gendut. Nggak ganteng lagi. Kamu berpaling dengan pria lain."
Zeya membalikkan tubuhnya menghadap suaminya itu.
"Dengar, Sayang ...." ucap Zeya
"Apa ...? Aku nggak dengar." Azril sengaja agar Zeya mengulang ucapkan kata sayang.
"Sayang ...." lirih Zeya dengan malu. Baru Kai ini Zeya memanggilnya dengan sayang.
"Aku juga sayang kamu," ujar Azril dan mengecup dahi Zeya.
"Aku tak akan berpaling darimu, apapun dan bagaimanapun keadaan kamu nantinya. Karena cinta itu harus rela memberi dan menerima. Selama ini aku selalu menerima, kamu yang telah memberikan segalanya. Jika suatu saat fisik kamu telah berubah itu saatnya aku membuktikan padamu jika aku juga bisa memberi, walau yang aku beri hanyalah cinta tulus ini. Aku mencintaimu kemarin, saat ini dan esok selamanya."
"Manis banget kata-katanya, Sayang." Azril mengecup bibir istrinya. Ciuman yang awalnya lembut berubah menjadi menuntut. Ia ******* bibir ranum Zeya yang selalu menjadi candu baginya.
Plak. Azril meringis merasakan bok*ngnya dipukul seseorang. Ia dan Zeya melepaskan pagutan bibir mereka.
Azril dan Zeya kaget melihat Raja yang memegang sodet penggorengan.
"Sayang, kenapa bok*ng daddy dipukul. Sakit loh ...."
__ADS_1
"Daddy jahat dan jorok."
"Jahat ... jorok. Kenapa?"
"Kenapa memakan bibir bunda? Nanti bunda sakit. Apa Daddy lapar?"
"Siapa yang memakan bibir bunda," ucap Azril menahan tawanya.
"Makanya kalau mau ngapa-ngapain itu di kamar. Anak kamu udah mulai gede," ucap mami yang baru muncul. Mami mengambil air minum.
"Aku ini sayang sama istriku, Mami. Jadi dimanapun inginnya mesra terus."
"Mesra sih boleh, tapi harus tau tempat juga. Apa nanti orang tua Albirru juga akan datang?"
"Tentu aja, Mamiku. Yang pengin bertemu Raja dan Ratu itu nenek dan kakaknya itu."
"Asal jangan cari masalah aja. Kalau masih membahas hak asuh Raja atau Ratu, kali ini mereka akan berhadapan dengan mami. Jangan mau enaknya, Raja dan Ratu udah gede dan pintar mau main ambil aja. Apapun akan mami lakukan untuk pertahankan cucu mami," ucap mami dengan sedikit emosi.
"Mami lupa kalau Raja dan Ratu itu juga cucu mereka," ucap Azril menggoda maminya agar bertambah emosi.
"Mami nggak mau tau, Raja dan Ratu cucu mami. Bisa tanyakan mereka, sayang mami atau neneknya."
"Neneknya Raja, nanti malam mau ke sini. Mau bertemu Rajaku yang ganteng ini. Ayo kita main lagi, biar bunda masak. Jangan ganggu!"
Mami menggandeng tangan Raja mengajak ke taman dimana Ratu sedang bermain bersama pengasuhnya.
..................
Malam hari setelah solat magrib, Zeya menata semua masakan di meja makan. Raja dan Ratu bermain di ruang keluarga.
Tepat jam tujuh malam terdengar suara mobil merasuki halaman rumah mami. Tak berapa lama terdengar bunyi bel rumah. Bibi membukakan pintu dan mempersilakan Albirru dan keluarganya masuk.
Albirru datang bersama Zahra dan kedua orang tuanya. Thalita nggak di bawa.
Zeya berdiri dan menyalami serta mencium tangan kedua mantan mertuanya. Dan mempersilakan mereka duduk.
Azril memanggil Raja dan Ratu, meminta mereka menyalami Albirru, Zahra dan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Ketika Raja dan Ratu menyalami Abi dan Umi, tampak mata Umi berlinang. Air mata membasahi pipinya. Umi memeluk erat Raja seperti tak ingin melepaskan.
"Raja cucu nenek kamu udah besar, Nak," ucap Umi mengecup pipinya.
"Nenek, aku lemas. Bisa nggak nenek lepaskan pelukannya," ucap Raja yang merasa sesak.
"Maafkan nenek," ucap Umi. Ia menangkup kedua pipi Raja dengan tangannya.
Sementara itu Ratu berada dalam pelukan Azril. Setelah bersalaman tadi ia langsung berlari ke arah Azril. Ratu memang tak bisa akrab dengan orang baru. Ia akan merasa ketakutan.
"Kamu mirip banget dengan ayah."
"Ayah ... Ayah siapa?" tanya Raja.
"Ayah kamu Albirru," ujar Umi lagi.
"Ayah Albirru?" Kembali Raja bertanya.
"Iya, nak. Kamu mirip ayah Albirru saat kecil."
Mendengar ucapan neneknya, Raja tampak kurang senang. Ia melepaskan tangan Umi yang menangkup wajahnya. Berlari menuju Azril. Tangisnya pecah.
"Sayang, kenapa menangis?" ucap Zeya memeluk putranya itu.
"Bunda, aku tak mau mirip ayah Albirru. Aku mau mirip Daddy. Aku anak Daddy, kan?"
Mendengar ucapan Raja, semua yang ada diruangan itu terdiam. Zeya memandangi wajah kedua mertuanya yang tampak sedikit berubah.
Bersambung.
*******************
Bagaimana perasaan Albirru mendengar ucapan Raja?. Pasti sesak, ya?.
Terima kasih untuk semua pembaca yang terus setia menanti kelanjutan novel ini.
Mampir juga ke novel teman mama ya, tak kalah menarik ceritanya.
__ADS_1