Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 54. Bertemu om Reno kembali


__ADS_3

Azril dan Zeya berkunjung ke rumah mami dengan membawa kedua buah hatinya. Mami tampak senang bermain dengan Raja dan Ratu.


"Sayang, aku ada perlu sebentar. Kamu nggak apa aku tinggal di sini."


"Mas perginya lama?"


"Cuma satu atau dua jam. Atau kamunya ikut."


"Kalau cuma sebentar gitu, aku tunggu di sini saja."


"Oke, nanti dari sini kita ke mal. Mau beli baju buat Raja dan Ratukan sekalian."


"Baju Raja dan Ratu udah banyak banget, mas."


"Nggak apa, semua yang kudapat itu rezeki anak-anakku." Zeya memeluk Azril mendengar ucapan pria itu.


"Aku mencintaimu, mas."


"Aku tau, kalau nggak cinta mana mungkin kamu mau menikah denganku,"bisik Azril.


"Mas ...."


"Apa, pengin ya?"


"Apaan sih, pikiran mas itu mesum aja."


"Biar cepat dapat adik Raja dan Ratunya."


"Raja dan Ratu masih kecil."


"Nggak apa. Nanti kita tinggal besarkan mereka aja."


"Mas, nanti kita mampir ke klinik tante Febby ya. Jadi kangen tante."


"Apa yang nggak buat kamu. Lautan aja pasti tak akan aku arungi walau kamu minta. Karena aku tak mau mati konyol."


"Garing banget sih, mas."

__ADS_1


"Tapi kamu cinta,kan." Zeya mempererat pelukannya di pinggang Azril.


Ya Tuhan, aku tak tau hal baik apa yang aku lakukan sehingga kamu memberikan aku seorang pria yang begitu baik seperti mas Azril.


"Kalian berdua selalu aja mesraan dimanapun berada." Mami yang ingin mengambil air minum melihat anak dan menantunya saling berpelukan meledeknya.


"Mami ...." ujar Zeya malu.


"Teruskan aja perjuanganmu," ucap mami. Setelah minum mami langsung pergi.


Azril mengangkat tubuh Zeya ke atas meja makan. Ia berdiri diantara paha istrinya itu.


"Mas, kenapa aku didudukkan di sini."


"Aku mau ini sebelum pergi." Azril menunjuk bibir Zeya. Setelah itu ia mengecupnya.


Zeya membalas kecupan Azril, kecupan itu akhirnya berubah menjadi ciuman. Pria itu mulai ******* bibir mungil dan tipis milik istrinya.


******* yang awalnya hanya lembut, lama kelamaan jadi menuntut. Azril dan Zeya saling membelit lidah. Zeya melingkarkan tangannya dileher suaminya itu.


Cukup lama mereka melakukan itu, sampai akhirnya Zeya mulai tampak kewalahan mengimbangi permainan lidah Azril yang sangat jago.


"Aku rasanya ingin memakanmu. Selalu saja aku candu akan semua yang ada pada.tubuhmu," ucap Azril sambil menghapus bibir Zeya dari air liur mereka.


"Mas, aku sayang kamu."Azril mengecup bibir wanita yang selalu saja membuatnya tersenyum dan merindukan saat mereka tak bersama.


"Love you more." Kembali Azril mengecup bibir Zeya. " Aku pamit dulu, jangan kangen ya."


Azril menurunkan tubuh istrinya itu dan ia berjalan ke arah Raja dan Ratu yang sedang bermain bersama maminya.


"Daddy pergi sebentar, Raja dan Ratu jangan nakal ya. Nanti daddy belikan mainan." Raja dan Ratu tersenyum seolah mengerti dengan apa yang diucapkan daddynya.


"Dy ... dy ...." ucap keduanya, terlihat Ratu minta digendong.


Saat ini usia Raja dan Ratu telah memasuki bulan ke sembilan. Bayi 9 bulan sudah dapat mengucapkan kata-kata yang lebih panjang, seperti 'papa-papa' atau 'baba-baba', atau mengucapkan sebuah kata dengan benar. Dia juga mampu menirukan suara dan gerakan orang di sekitarnya, serta sudah mulai bisa menyampaikan keinginannya untuk minum susu atau makan MPASI.


"Sayang, daddy gendongnya nanti aja, ya. Sama bunda dulu. Daddy mau pergi," ucap Zeya dan menggendong Ratu.

__ADS_1


Zeya mengantar hingga Azril masuk ke dalam mobil.


Setelah mobil Azril hilang dari pandangannya barulah Zeya masuk ke dalam rumah.


Zeya menidurkan Raja dan Ratu, karena mami Azril ada tamu. Raja dan Ratu terlelap barulah Zeya melanjutkan memasak kue. Ia janji pada mami untuk membuatkan bolu kesukaan mami.


Zeya yang asyik memasak tak menyadari jika papi Azril sudah duduk dekatnya. Betapa kagetnya Zeya ketika menyadari kehadiran mertuanya itu.


"Rajin benar, kamu mau mengambil hati mami Azril agar di saat ia tau kamu hanyalah mantan wanita penghibur ia masih mau menerima kamu."


"Om mau apa?" ucap Zeya dengan emosi.


"Mau kamu ...."


"Jangan gila om Reno. Saat aku masih menjadi wanita penghibur saja aku tak sudi tidur denganmu. Apa lagi sekarang."


"Jangan sok suci Zeya. Pakaianmu hanyalah topeng untuk menutupi kebejatanmu."


"Aku atau om Reno yang bejat."


"Kita ini hanyalah sama-sama pendosa."


Mami Azril yang ingin mengambil kue buat tamu melihat papi Azril yang bertengkar dengan Zeya. Ia mendekati mereka.


"Ada apa Zeya, kenapa kalian bertengkar," ucap mami.


"Mami ... mami salah dengar. Aku dan papi hanya mengobrol saja."


"Tapi mami lihat tadi agak bersitegang."


"Zeya benar, mi. Kami hanya mengobrol biasa aja," ucap papi.


Mami memandangi wajah papi dan Zeya bergantian. Tampak ia sedikit ragu dan tak percaya.


Bersambung


*********************

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2