
Raja dan Ratu yang baru sampai di rumah sakit tampak antusias. Mereka berlari menuju tempat tidur adiknya.
"Ada adik," teriak Raja dan Ratu serempak.
"Itu adik Ratu, Dad," tanya Ratu.
"Adik Raja," ucap Raja.
"Adik Ratu, bukan adik Raja," teriak Ratu lagi.
"Itu adik Raja dan Ratu," ucap Zeya menengahi.
"Ini adik cowok kan, Bunda?" tanya Raja.
"Iya, Nak."
"Berarti adiknya aku. Aku cowok," ucap Raja.
Mendengar ucapan Raja menangislah Ratu. Raja menjulurkan lidahnya, makin membuat Ratu menangis.
Takut Pangeran bangun, Azril menggendong Ratu. Dan menenangkannya.
"Raja, nggak boleh gitu. Pangeran adiknya Raja dan Ratu. Jangan rebutan," ucap mami.
"Kenapa jadi aku yang dimarahi," ujar Raja tak terima.
"Oma bukan marah. Cuma mengingatkan, sayang."
"Oma jahat. Tak sayang aku lagi karena ada Pangeran." Raja ikutan menangis.
"Sayang, maafkan Oma." Mami mendekati Raja dan membujuknya.
Pangeran yang mendengar suara tangisan dari Raja, akhirnya terbangun. Ia ikutan menangis.
"Pangeran jadi menangis juga,kan!" ujar mami.
Mami menggendong Pangeran dan menyerahkan pada Zeya untuk di susui. Melihat itu Raja dan Ratu menjadi diam.
"Adik sedang apa itu, Dad," Tanya Ratu yang ada dalam gendongan Azril. Raja juga ikutan mendekat.
"Lagi menyusu dengan Bunda."
__ADS_1
"Aku waktu kecil juga gitu?" tanya Ratu.
"Iya, sayang."
"Enak ya Dad rasa susu Bunda," tanya Raja.
"Tentu saja enak. Daddy juga doyan susu Bunda," ucap Azril pelan. Mami yang mendengar ucapan Azril mendelikkan matanya.
"Kamu itu mesum nggak pandang tempat. Di sini ada Raja dan Ratu loh. Jaga dikit ucapanmu itu!" ucap mama dan mendelikkan matanya.
"Daddy, dulu aku menyusu sama Bunda, ya?"
"Iya, Sayang. Daddy juga dulu menyusu sama Bunda, tapi sekarang harus berbagi sama Pangeran."
Mami berdiri dari duduknya dan mencubit lengan Azril.
"Sakit, Mi. Kenapa sih?"
"Udah mami bilang, kurangi mesummu. Ada Raja dan Ratu."
"Apanya yang mesum,Mi. Aku berkata yang sebenarnya. Bukankah aku dulu menyusu juga sama mami. Mami, Bundaku." Azril sengaja mengalihkan ucapannya.
"Daddy, ngomong apa?" ucap Ratu.
Ratu dan Raja berebutan ingin memangku Pangeran. Mereka tampak sangat antusias.
.........
Tiga hari di rumah sakit Zeya diizinkan kali ke rumahnya. Azril telah mempersiapkan tempat tidur bayi di kamar mereka.
Untuk saat ini hingga usia tiga bulan, Pangeran. tidur di kamar bersama Azril dan Zeya.
Zeya tak ingin menambah pengasuh buat Pangeran. Pengasuh hanya untuk Raja dan Ratu saja.
Pangeran akan diasuh dan dirawat sepenuhnya sama Zeya. Toko roti miliknya sementara waktu di pegang mami hingga Pangeran berusia tiga bulan.
Malam harinya jika Pangeran bangun, Azril dan Zeya akan bergantian begadang. Tapi lebih sering Azril yang begadang. Ia akan minta Zeya tidur.
Azril bahagia akhirnya bisa merasakan saat-say begadang ketika bayinya terbangun tengah malam.
"Sayang, bangun." Azril mencoba mbangunkan Zeya. Pangeran menangis dan Azril telah mencoba membujuknya tapi tetap saja Pangeran tak mau berhenti menangis.
__ADS_1
"Ada apa, mas," ucap Zeya sambil mengucek matanya karena masih mengantuk.
"Pangeran mungkin haus. Aku udah coba membujuknya. Tapi tetap menangis."
Zeya bangun dari tidurnya. Duduk bersandar di kepala ranjang. Azril meletakkan Pangeran dipangkuan Zeya. Bayi mungil itu menyusu dengan lahapnya. Azril menatap anaknya tanpa kedip.
"Kenapa memandangi Pangeran seperti itu, Mas."
"Apakah guyonan yang mengatakan jika pria itu tak pernah dewasa itu benar ya?"
"Maksudnya? Aku tak ngerti, Mas."
"Lihat saja dari bayi keluar dari rahim ibunya hingga ia memiliki istri pasti pria senangnya menyusu. Tak ada bosannya. Makanya pria dikatakan tak pernah merasa."
"Ngomong apa sih, Mas?" ucap Zeya manyun.
"Becanda aja, Sayang. Jangan cemberut. Nanti tambah cantik."
"Benar kata mami, Mas itu mesumnya sudah tingkat akut."
"Normal sayang. Mending mesum sama istri. Dari pada dengan istri kalem, di luar rumah mesum."
"Awas aja kalau mas begitu. Aku sunat dua kali lagi."
"Janganlah Sayang. Nanti bisa habis jerry." Ucapan Azril membuat Zeya tertawa.
"Sayang, aqiqah Pangeran kapan kita laksanakan?"
"Seminggu lagi bagaiamana, Mas? Biar aku agak lebih sehat."
"Terserah kamu aja. Nanti aku ingin mengundang semua sahabatmu dan juga sahabatku. Kita minta Albirru dan Zahra sekalian hadir. Bagaimana?"
"Bagus juga Mas. Aku ikut aja."
"Aku akan mengaturnya mulai besok. Kamu tinggal diam di rumah aja. Semua akan aku bereskan," ujar Azril mengecup pipi Zeya.
Pangeran telah tertidur kembali. Azril meletakkan di tempat tidurnya. Setelah itu Azril naik ke ranjang dan tidur dengan memeluk Zeya.
Maaf baru bisa lanjutkan sekarang. Semoga masih setia menunggu kelanjutan bonchap dari novel ini. Terima kasih.
Mampir juga ya ke novel sahabat mama dibawa ini. Tak kalah menariknya. Masih bertema berbagi cinta.
__ADS_1