Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 100. Ketemu Nanas


__ADS_3

Zeya yang sudah tiba di Jakarta memilih untuk menjalani rutinitasnya kembali, dengan bersama Raja dan Ratu juga Azril, Zeya memilih pergi ke sebuah toko kue, sekedar membeli kue dan mentralisirkan kepalanya setelah semua kejadian yang menimpanya beberapa hari terakhir.


Walaupun Zeya memiliki sebuah toko kue tapi ia juga sering membeli kue dari toko roti dan kue langganannya ini. Zeya membeli kue yang tak ada di jual di toko rotinya.


"Bunda? Kita mau beli kue apa?" tanya Raja pada Zeya.


Zeya yang duduk disamping Azril yang sedang mengendarai mobil hanya tersenyum tipis memikirkan kue apa yang akan dia beli.


Sedangkan Raja dan Ratu yang dibelakang hanya menatap kedua orang tuanya. "Nanti bunda pikirkan yah, kalau sudah sampai di toko kuenya."


Raja melipat kedua tangannya, ia memajukan bibirnya beberapa senti yang membuat Azril ikut tersenyum dibuatnya.


"Daddy! Lihat Bunda." adu Raja pada Azril.


"Raja, mungkin Bunda kamu masih bingung, gak boleh marah yah sama Bunda, ingat, harus jadi anak baik." nasihat Azril fokus menyetir mobilnya.


"Iya Daddy." Raja menunduk. "Bunda maafin Raja, udah marah sama Bunda."


Zeya hanya tersenyum menatap anaknya itu, ia membalikkan badannya dan mengelus rambut putranya, dia sangat bersyukur dikaruniai anak semanis dan sebaik Raja dan Ratu.


Tak sampai lama, mobil yang dikendarai Azril sekeluarga telah tiba ditoko langganan mereka, Zeya turun ke toko kue tersebut sementara Azril juga Raja dan Ratu hanya menunggunya di mobil.


Zeya berjalan memasuki toko itu, mana kala matanya menangkap sosok gadis yang selama ini ia rindukan tampak berdiri didepan kasir.


"Nanas?" panggil Zeya berusaha memastikan bahwa sosok gadis itu adalah sahabat lamanya.


Gadis tersebut membalikkan badannya dan membulatkan mata sempurna melihat sosok sahabat lamanya, Alifa Zeya tengah berdiri disana.


"Kak Zeya?" Gadis bernama lengkap Nanas Amanda Afdarianto itu langsung berlari memeluk Zeya.


Zeya yang juga kaget membalas pelukan tersebut sembari melepas kerinduan satu sama lain, entah sudah berapa tahun mereka tidak berjumpa dan rasanya kerinduan satu sama lain terbayarkan sudah saat ini.


"Kak Zeya, apa kabar?" tanya Nanas mengusap air matanya sedikit setelah pertemuan yang cukup mengharukan itu.


"Aku baik, Ya allah, lama banget kakak gak ketemu kamu, kamu apa kabar sayang?" tanya Zeya balik.


"Aku baik kak, kakak sendiri bagaimana? Semenjak lulus dari bangku sekolah, kakak gak ngelanjutin kuliah kakak, aku sempet khawatir kakak baik-baik aja atau gak." jawab Nanas mengajak Zeya untuk duduk disebuah kursi yang disediakan didalam toko itu.


Zeya melirik perut Nanas yang sedikit mengembung membuat Zeya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi pada Nanas.


"Kamu hamil?"


Nanas mengelus perutnya kemudian menganggukkan kepalanya. "Anaknya kembar."


"Wah! Kamu udah nikah dek? Sama kayak kakak, kakak juga punya anak kembar." jawab Zeya antusias.

__ADS_1


Nanas mengangguk pelan. "Seriuosly? Aku pengen ketemu dong sama anak kakak."


"Boleh, tapi kakak pesan kue dulu yah." jawab Zeya berdiri dan berjalan ke arah kasir. "Mbak yang seperti biasa yah."


Kasir tersebut mengangguk kemudian menyiapkan pesanan Zeya, Zeya kembali ke tempat duduk nya dimana ada Nanas yang menunggunya. "Suami kamu mana?"


"Dirumah sakit, kakinya agak luka kena pecahan kaca," jawab Nanas pada Zeya.


"Oh begitu yah, namanya siapa kalau kakak boleh tahu." tanya Zeya kembali.


"Anthony Gilbert Chow dia Duda, dan kakak jangan tanya yah bagaimana kami bisa menikah, soalnya panjang, Novel Noda Merah Pernikahan aja kalah panjang." jawab Nanas bergurau yang membuat Zeya mendorong hidung Nanas dengan jarinya.


"Ah kakak kebiasaan, dari dulu gak pernah berubah, kan hidung makin masuk kedalam." Nanas menutupi hidungnya yang membuat Zeya terkekeh pelan.


"Biarin, dari dulu yah, jamannya masih sekolah, kamu tuh satu-satunya buah-buahan hidup yang kakak kenal paling meresahkan, dari ngerjain guru sampai kepala sekolah kamu lakuin. Jangan-jangan kamu nikah karena tingkah konyol kamu sendiri?" tanya Zeya menatap Nanas dalam.


Nanas membuang mukanya kemudian kembali menatap Zeya. "Hampir 90% persen kayak gitu."


"Sudah kakak duga." jawab Zeya yang kali ini mencubit pipi Nanas, Zeya tidak pernah tahan akan wajah bakpao yang dimiliki gadis satu itu. "Coba ceritain kakak mau dengar."


"Jadi aku tuh taruhan gitu, tidur dikamar hotel selama semalam eh tau-taunya di anuin sama pria asing, yang gak aku kenal, dan endingnya dia jadi suamiku sekarang, dia Duda lagi." jawab Nanas yang membuat Zeya menggelengkan kepalanya pelan.


"Oh jadi, Skandal Arsitek Duda yang ditinggal selingkuh istrinya bersama dengan Mahasiswi labil itu kamu?" tanya Zeya memastikan yang membuat Nanas mengangguk.


Zeya kemudian tertawa pelan mengetahui bahwa timeline yang selama ini dia baca adalah sosok dari Nanas, orang yang sudah dia anggap sebagai adik sendiri.


Disaat baru keluar dari toko, Zeya tidak sengaja menabrak seorang wanita sepantarannya yang membuat wanita tersebut marah.


"Maaf mbak, saya tidak sengaja." Bukannya memaafkan wanita tersebut malah memaki Zeya dengan sebutan tidak senonoh.


"Oh saya kenal sama kamu! Alifa Zeya! Si gadis penghibur, kamu lupa kita dulu adalah bagian dari club malam milik Tante Angel." ujar wanita tersebut.


Zeya berusaha mengingat wajah wanita itu, namun tidak diingatnya sama sekali yang membuat Zeya hanya terdiam.


"Sudah hijrah sekarang? Apa kau tidak malu dengan pakaian yang menutupimu itu?" tanya wanita tersebut melihat penampilan Zeya kini sudah terbalut hijab.


Nanas yang mendengar itu naik pitam seketika, sosok wanita yang dia anggap kakak direndahkan oleh orang lain.


"Setau gue, tuhan lebih menyukai taubat orang yang pendosa daripada tasbihnya orang yang sombong." Nanas mengambil tas wanita itu yang jatuh akibat bertabrakan dengan Zeya tadi. "Nih tasnya."


Wanita tersebut hendak mengambil tasnya sebelum Nanas dengan sengaja menjatuhkannya. "Upss, ambilin dong, kakak kan udah biasa merendah."


"Kurang ajar yah kamu!" bentak wanita tersebut pada Nanas.


Nanas tersenyum dan menggenggam tangan Zeya yang mencoba menghentikannya. "Lo bercermin? Setidaknya gue kurang pengajaran dari bangku sekolah, bukan karena terdampar di penangkaran."

__ADS_1


"Oh jadi kamu berusaha membela wanita malam ini? Kamu salah! Jika kamu tanya siapa orang yang paling kotor disini, yah dia!" tunjuk wanita tersebut pada Zeya.


Nanas melipat kedua tangannya melirik Zeya. "Menurut gue ucapan lo ada benarnya, dia emang kotor."


Zeya menatap kaget Nanas sebelum Nanas berjalan kehadapan wanita yang marah itu dengan senyum sinisnya. "Tapi sekotor-kotornya manusia, akan ada saatnya dimana dia bisa bersih, kakakku hanya kotor dan bukan berarti dia akan selamanya kotor."


"Kalau lo nanya gue, gue bakal jawab, lo yang paling kotor, kenapa? Karena lo masih sampah sampai saat ini." lanjut Nanas dan berjalan berbisik pada wanita itu. "Biar gue perjelas, lo masih jadi wanita penghibur kan sampai saat ini?"


Wanita tersebut tertegun atas jawaban telak Nanas, Nanas menggandeng tangan Zeya. "Orang lain tidak akan menilai seseorang dari masa lalu nya, tapi dari bagaimana dia memperlakukan masa depannya, setidaknya masa depan kakak gue cerah, gak terjerumus dalam lembah penuh dosa, jangan buat gue memperjelas semuanya lagi."


"Gaada manusia yang suci didunia, bahkan seorang yang sudah disiapkan surgapun punya satu titik kesalahan dalam jiwanya, hati-hati kak. Dikasih agar, minta batagor, suka senang kalau nyinyir, hati-hati kalau malaikat yang nyosor." lanjut Nanas menaik turunkan alisnya menggandeng Zeya meninggalkan tempat itu.


Zeya yang sedari tadi hanya diam langsung menatap tajam Nanas. "Kamu kenapa sih ngomong gitu?"


"Orang begitu harus dilawan kan, kalau dibiarin populasinya makin pesat."


"Kamu yah, masih aja pake 'lo-gue' sama orang lain, harus diubah itu yah." ujar Zeya pada Nanas.


"Kan aku pake 'aku-kamunya' sama orang yang lebih tua, Kak Zeya dan suami aku doang." jawab Nanas cengengesan.


Tak lama setelahnya suara telepon dari Nanas berbunyi yang membuat Nanas mengangkatnya dan ternyata dari Anthony suaminya.


Setelah menelepon Nanas menutup ponselnya dan kembali berbicara dengan Zeya. "Kak, kayaknya aku gak bisa ketemu sama suami dan anak kakak, suami aku ada perlu, kasian dia sendirian di rumah sakit."


Zeya mengangguk. "Gapapa, next time kita bisa kumpul bareng, oh iya mana nomor telepon kamu."


Nanas memberikan nomor teleponnya yang langsung di save oleh Zeya.


"Oh iya kak, jangan lupa isiin pulsa, lima ratus ribu aja." ujar Nanas yang membuat Zeya tersenyum


"Kamu yah, Anak CEO yang paling kere yang pernah kakak kenal." jawab Zeya pada Nanas.


Akhirnya mereka kembali berpelukan sebelum benar-benar berpisah. "Kak, kalau suami kakak ganteng, kita tukaran suami aja."


Zeya mencubit pipi Nanas sebelum Nanas pergi dan menghilang dari hadapannya, entah kapan lagi dia akan bertemu dengan sosok Nanas itu.


"Selain langka, dia juga tergolong Nanas yang pedas, tidak pernah berubah, dia masih adikku." batin Zeya berjalan ke mobilnya dimana Azril dan kedua anaknya sudah menunggu.


- Bersambung


Ini adalah BAB KOLABORASI dengan Novel "DUDA SALAH KAMAR" ayo kepoin Novel anak bontot Mama yang menceritakan kisah Nanas muda yang menikah dengan Duda tampan akibat insiden salah kamar.


Cerita komedi yang tidak kalah seru, yuk Adik angkatnya Zeya si Nanas udah menunggu tuh! Jangan lupa dikepoin yah!


:)

__ADS_1



__ADS_2