
Azril dan Zeya kini berada didalam kamar setelah mengucapkan janji suci didepan penghulu.
Mereka kini sudah sah sebagai sepasang suami istri, Azril meraih pipi Zeya dan mengusapnya dari kening sampai kebawah bibirnya.
Terulang kembali kejadian dimana ketika Azril adalah orang pertama yang merenggut kehormatan Zeya, dan saat itu pula Azril sadar kalau dia telah jatuh cinta.
Ia tidak ingin memulainya dengan cepat, karena dia pernah memulainya dengan tanpa cinta.
Jadi kini dia ingin melakukannya dengan penuh cinta, Tangan Azril yang berada dibawah Bibir Zeya, beralih menyingkap bagian kebaya Zeya dan sampai ke Punggungnya.
Membuat Lenguhan pertama lolos begitu saja dari penjara bibir wanita yang kini telah sah menjadi istrinya.
Siapa sangka jika kini Azril melakukannya lagi namun dengan status sebagai seorang suami.
Azril meraih kepala Zeya dan menyatukan kening mereka. "Bisakah Mas memulainya?"
Zeya memejamkan matanya dan mengangguk pelan, Azril membuka perlahan kerudung yang membungkus puncak kepala Zeya sampai pangkal lehernya. Yang berakhir kepada ciuman lembut keduanya.
Zeya duduk di pangkuan Azril. Mata bening mereka beradu pandang. Sesekali Zeya tertunduk malu namun tangan Azril segera mengusap lembut dagu lancip nan indah milik Zeya.
Napas Azril terasa hangat menyapu wajah Zeya yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Tangan Azril yang betah bertengger di dagu istrinya itu bagaikan magnet yang ingin segera membawa bibir mungil istrinya menuju bibirnya.
Namun, ingat lagu Kotak, 'Pelan Pelan Saja'. Dengan perlahan tapi pasti, wajah mereka semakin mendekat. Kini bibir mereka menyatu tanpa jarak. Hangat.
Naluri menuntun dua bibir itu untuk menari-menari bersama. Ciuman lembut itu berlangsung lama membuat deru napas keduanya kian terpacu. Sesekali Zeya tersengal, namun tak membuat Azril berhenti malah semakin gemas.
Jantung mereka berdegup semakin kencang diiringi aliran darah yang semakin deras di nadi keduanya.
Tangan Azril tak lagi diam. Jemarinya merayap-rayap di sekujur tubuh wanita yang tengah berada di pangkuannya itu. Sentuhan-sentuhan tangan itu membuat napas Zeya kian memburu.
Bibir Azril kini tak lagi menyatu dengan milik istrinya. Kini bibir tebal itu bertengger di ceruk leher Zeya yang harum. Aroma vanila dari tubuh istrinya membuatnya terbuai.
"Aaawww ..." pekik lirih Zeya.
Rupanya pagutan Azril di leher istrinya terlalu keras hingga meninggalkan tanda merah di sana.
"Boleh kita memulai lagi," bisik Azril.
__ADS_1
"Iya, mas,"cicit Zeya
"Kamu telah siap." Azril memandangi wajah Zeya dengan intens.
Zeya hanya mengangguk sebagai jawaban. Azril kini mulai melecuti seluruh sisa pakaian yang melekat di tubuh istrinya itu.
Dengan perlahan ia mulai melakukan penyatuan tubuh mereka. Azril tampak melenguh tanda ia mulai mencapai puncaknya.
Setelah ia menanamkan benih di rahim istrinya itu, Azril berpindah ke samping. Memeluk erat pinggang Zeya dan menariknya agar lebih merapat.
Tubuh mereka yang masih sama-sama polos bersentuhan membuat sesuatu di tubuh Azril kembali bangun.
"Kamu masih seperti awal kita bertemu." Azril mengusap rambut istrinya pelan.
"Mas ... jangan ngomong gitu. Aku malu."
"Tapi itu emang benar. Apa boleh aku minta sekali lagi."
"Mas belum puas."
"Kamu nggak merasakan sesuatu dibawah sana yang kembali bangun."
Azril menaiki kembali tubuh istrinya tanpa menunggu persetujuan Zeya.
Azril perlahan kembali melakukan penyatuan tubuh mereka. Azril kembali melenguh puas setelah mencapai puncaknya.
"Kalau begini, bisa-bisa aku ingin di kamar terus. Aku tak akan pernah merasa puas. Pengin lagi dan lagi," bisik Azril ditelinga Zeya.
"Mas, apa nggak capek. Masih kuat," ujar Zeya.
"Masih, tapi nanti malam," ujar Azril sambil tertawa.
"Maunya ...."
"Emang mau. Sekarang kita mandi dulu. Berdua ya."
"Mas yang dulu, setelah itu baru aku."
__ADS_1
"Berengan aja."
"Nggak, mas yang dulu."
Azril bangun tanpa rasa malu padahal tubuhnya masih polos. Ia mengangkat tubuh Zeya dan membawanya menuju kamar mandi.
Hampir satu jam mereka berada di kamar mandi. Entah apa yang mereka lakukan. (yang tau bisikin mama ya 🤭🤭).
.......................
Di tempat berbeda Abi dan Umi yang berada di restoran salah satu hotel sedang mengobrol bersama Albirru.
"Ternyata Zeya itu adalah Alifa. Apa kamu masih ingat Al,"ujar Abi.
"Alifa anak om Beni dan tante Rahayu?"
"Iya, kamu ingatkan."
"Dari mana Abi bisa menyimpulkan itu."
"Kamu ingat, Abi baru tau kabar meninggalnya om Beni dan tante Rahayu dari seorang sahabat. Abi langsung kepemakamannya dan di sana bertemu Zeya. Ia juga sedang ziarah di tempat itu. Dan Zeya itu ternyata Alifa."
"Zeya itu adalah Alifa ...." gumam Albirru.
Zahra yang tak mengerti omongan mereka hanya diam mendengarnya.
Bersambung
*********************
Selamat pagi pecinta novel berbagi Cinta : NODA MERAH PERNIKAHAN.
Seperti biasa mama kembali mengenalkan novel karya teman-teman mama. Kalian bisa mampir sambil menunggu novel ini update.
Terima kasih 💜💜💜💜❤❤❤❤
__ADS_1