Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 47. Perjodohan Zeya dan Albirru


__ADS_3

Zahra yang mendengar pembicaraan antara suami dan kedua mertuanya, tampak tak mengerti. Rasa penasaran membuat ia bertanya.


"Apakah Abi dan Umi mengenal kedua orang tua mbak Zeya?" ucap Zahra.


"Iya. Orang tua Zeya itu sahabat Abi dan Umi. Ia yang telah menolong keuangan kami saat terpuruk dulu. Ia rela menjual tanahnya untuk membantu kami. Hutang budi kami sangat banyak pada kedua orang tua Zeya."


"Abi kenapa tak pernah curiga saat mendengar namanya."


Kami dulu memanggil Zeya itu dengan nama depannya. Alifa ...."


"Mas juga mengenal mbak Zeya."


"Tentu, dulu mas sering bermain dengannya."


"Ketika bertemu mbak Zeya, apakah mas tidak pernah ada curiga."


"Itu kan udah lama banget Zahra. Saat itu usia mas delapan tahun dan Zeya masih berusia tiga tahun. Itu terakhir kami bertemu."


"Saat itu ada kesepakatan antara Abi dan kedua orang tua Zeya untuk menjodohkan Albirru dan Zeya. Cuma komunikasi kami terputus saat orang tua Zeya pindah."


"Berarti mbak Zeya dan mas Albirru telah dijodohkan."


"Udahlah, semua itu hanya masa lalu. Cuma memang Abi masih merasa bersalah karena tidak dapat menolong anaknya saat ia tiada dulu." Tampak sekali wajah penyesalannya Abi.


"Jika saja Umi mengetahui keberadaan Zeya lebih awal, mungkin ia tak perlu terjerumus ke lembah hitam. Seberapa sulitkah kehidupannya sejak ayah dan ibunya tiada? Zeya tidak mau memberikan nomor ponselnya. Mungkin ia tak mau Umi mengganggu,"gumam Umi.


Zahra yang mendengar ucapan Umi juga terdiam. Semua larut dalam pikiran mereka masing-masing.


Berarti mbak Zeya dan mas Albirru dulu sempat dijodohkan. Hanya karena komunikasi yang terputus membuat mereka tidak bisa bersama.


....................


Zeya terbangun tengah malam dan melihat ke samping. Tampak Azril yang tertidur lelap. Zeya mengecup pipi Azril pelan, takut membangunkan pria yang baru berubah status menjadi suaminya itu.


Azril menangkap tubuh Zeya dan mengangkat ke atas tubuhnya.


"Mas, udah bangun."


"Aku nggak bisa tidur. Ada bidadari disampingku. Aku takut ia pergi dan diambil orang."


"Mas, aku serius. Kenapa mas terjaga tengah malam."


"Aku serius ,loh. Aku merasa tak percaya karena kamu akhirnya bisa aku miliki.Aku takut memejamkan mata ini. Takut semua hanyalah mimpi, dan saat aku tersadar dan membuka mata semua hanyalah mimpi." Azril memeluk erat pinggang Zeya yang berada diatas tubuhnya.


"Mas lepaskan pelukannya, sesak nih."


"Kamu harus tanggung jawab," bisik Azril.


"Tanggung jawab apa."

__ADS_1


"Kamu telah membangunkan si jerry."


"Jerry ....?"


"Iya, maklum udah lama ditahan. Sentuh dikit bangun."


"Maksudnya mas, apa?"


"Kamu kembali membangunkan adik kecilnya."


"Mas mesum banget," ucap Zeya sambil berusaha melepaskan pelukan Azril.


Bukannya terlepas, Azril makin pererat pelukannya ditubuh Zeya. Dan akhirnya Zeya mengalah, memberikan jatah buat adik kecil Azril.


Setelah itu mereka mandi dan menunaikan solat subuh berjamaah.


"Sayang, mungkin bacaan solatku tak sebagus Albirru."


"Tak apa,mas. Kita akan belajar agama bersama. Aku juga masih harus banyak belajar."


"Sayang, nanti kita belajar di rumah aja bersama seorang Ustadzah."


"Terserah mas aja. Aku ikut apa kata mas."


"Aku makin sayang sama kamu."


Setelah melaksanakan solat Azril mengajak Zeya untuk sarapan. Nanti malam resepsi pernikahan mereka.


...............


"Ratunya, daddy." Azril mengecup pipi Ratu sambil mengajak gadis cilik itu bercanda. Ia tertawa dengan riangnya. Setelah puas becanda dengan Ratu, ia meminta Zeya menggendong Ratu.


Azril lalu menggendong Raja. Ia selalu begitu Pasti akan gantian menggendong keduanya secara adil.


"Azril, papi kamu telah berada di kota ini," ucap mami.


"Kenapa tak langsung ke rumah ini. Apa ia takut meninggalkan gundiknya seorang diri."


"Azril, udahlah. Apa dengan kamu masih marah dan dendam semuanya akan kembali. Mami sudah mulai terbiasa dan menerima ini semua sebagai takdir. Pasti dibalik semua cobaan ini ada hikmah yang tersembunyi."


"Kenapa mami mengundangnya."


"Bagaimanapun kelakuan papi kamu ia tetap pria yang membuat kamu hadir ke dunia ini."


"Aku muak ...."


Zeya hanya bisa diam mendengar perdebatan ibu dan anak itu. Kerena sesungguhnya ia tak mengerti apa yang terjadi dengan papi Azril.


Setelah sarapan Azril membawa Zeya dan kedua anaknya bermain di taman sambil melihat persiapan orang-orang yang bekerja untuk resepsi nanti malam.

__ADS_1


Tampak kebahagiaan terpancar dari wajah Azril. Ia tak berhenti tersenyum dan bercanda bersama Raja dan Ratu.


"Azril ...." panggil mami


"Ada apa, mi?"


"Ada papi yang ingin bertemu dan kenalan dengan Zeya."


"Kenapa bukan papi yang ke sini."


"Mas, biar kita yang temui papi. Mas sebagai anak tak baik terlalu keras."


"Kamu nggak tau apa yang papi aku lakukan, Zeya."


"Jadi menurut mas kita harus bagaimana?"


"Biar ia yang datang ke sini."


"Baiklah, mami akan minta papi yang ke sini."


Mami melangkah pergi meninggalkan Azril dan Zeya. Ia membujuk papi untuk menemui Azril.


Papi Azril akhirnya mengikuti maunya mami dan menemui Azril di taman belakang.


"Selamat menempuh hidup baru, Azril," ucap pak begitu berada dihadapan Azril.


"Terima kasih," ujar Azril datar.


"Pi, ini Zeya ... istrinya Azril," ucap mami mengenalkan Zeya.


Zeya mengulurkan tangannya. Papi Azril tampak kaget melihat wajah Zeya.


"Apa kah kita pernah bertemu," ucap papi ketika Zeya mengulurkan tangannya.


"Aku rasa tidak papi," gumam Zeya.


Papi Azril menatap wajah Zeya dengan seksama.


Bersambung.


*****************


Apakah papi Azril mengenal Zeya. Dimanakah mereka pernah bertemu.


Sementara menunggu novel ini update, kalian semua bisa mampir ke novel my besties.


Terima kasih. 💜💜💜💜❤❤❤❤❤


__ADS_1




__ADS_2