
Ponsel di tangan Zahra terjatuh dan mengenai tubuh Albirru. Pria itu mengambilnya dan menyerahkan pada Zahra.
"Kenapa ...." tanya Albirru melihat wajah Zahra yang sedikit pucat.
"Apa Mas Al sudah selesai bersihnya?"
Zahra mengucapkan dengan gemetar. Kedua orang tua Thalita melihat ke arah Zahra.
"Om, Tante, aku dan Mas Albirru harus segera pamit. Kami akan datang kembali berziarah. Tapi saat ini aku dan Mas Albirru harus segera pergi."
"Kemana Zahra, aku masih ingin di sini," ucap Albirru pelan.
"Mas Albirru, kita harus segera ke rumah sakit," ucap Zahra terbata.
"Ada apa?"
"Abi ...."
"Kenapa dengan Abi?"
"Abi ... Abi ...." Zahra menangis dan tak melanjutkan ucapannya. Albirru dan kedua orang tua Thalita berdiri dan memandangi wajah Zahra meminta penjelasan.
"Katakan Zahra, ada apa dengan Abi." Albirru memegang kedua bahu Zahra dan memandang mata Zahra minta kejujurannya.
"Abi telah pergi menyusul Thalita, Mas." Kembali tangis Zahra pecah setelah mengucapkan itu.
Pegangan tangan Albirru di bahu Zahra terlepas dan tubuhnya terasa lemas. Ia terduduk disamping kuburan Thalita yang becek karena air hujan. Pakaian Albirru menjadi penuh lumpur.
Azril dan Zeya yang memperhatikan dari kejauhan, berjalan mendekati mereka.
Para pelayat satu persatu telah pulang. Yang tersisa hanya keluarga inti Thalita. Kedua saudara Thalita juga mendekati kuburan melihat Albirru yang terduduk di tanah.
"Ada apa, Zahra." Zeya bertanya pada Zahra yang menangis terisak.
"Abi,Mbak."
"Kenapa dengan Abi."
__ADS_1
"Abi telah pergi meninggalkan kita semua, menyusul Thalita."
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Tubuh Zeya juga terasa lemah, untung Azril cepat menangkap tubuh istrinya itu.
"Kapan kamu dapat beritanya?" tanya Azril.
"Baru aja, Mas. Dari kedua orang tuaku."
Azril berjongkok dekat Albirru dan memegang kedua bahu pria itu.
"Albirru, kamu harus kuat dan tabah. Sebagai seorang anak bagi Abi dan juga ayah dari tiga orang anak. Sekarang kamu bangunlah. Tak ada gunanya menangisi yang telah terjadi. Mari kita segera ke rumah sakit. Kita harus mengurus kepulangan jenazah Abi. Jika sedih karena kehilangan orang yang kita cintai itu adalah hal wajar. Tapi kita juga harus tetap menghadapi semuanya."
"Kenapa ini semua terjadi padaku, Azril. Apakah dosaku terlalu besar, sehingga Tuhan mengujiku dengan kehilangan dua orang terdekat sekaligus."
"Kamu yang lebih tau agama dari aku. Tidak seharusnya kamu berkata begitu. Kamu pasti tau semua yang terjadi pada kita telah menjadi takdir dari-Nya. Kita hanya menjalankannya saja." Albirru mengucapkan isghtifar. Ia lalu bangun.
Albirru menghampiri kedua orang tua Thalita dan juga kedua saudara wanitanya.
"Maafkan aku Pa, Ma, juga kakak. Aku tak bisa lama-lama di sini. Rencana aku akan di sini hingga tahlilan hari ketiga. Tapi Abi telah pergi menyusul Thalita. Aku harus mengurus semua keperluan untuk penguburannya."
Albirru menyalami dan mencium tangan Papa Thalita. Saat akan bersalaman dengan MamabThalita, wanita itu menolak uluran tangan Albirru.
Albirru lalu menjabat tangan kakak iparnya. Ia dan Zahra lalu masuk ke mobil. Zeya dan Azril mengikuti dari belakang.
"Mi, kita langsung ke rumah sakit dan akan dilanjutkan ke Pekanbaru. Pakaian udah aku minta orang-orangku memberesknnya."
"Kenapa mendadak begini,Azril."
"Abinya Albirru meninggal."
"Siapa yang meninggal, Dad."
"Kakek Raja dan Ratu."
"Kakek yang mana?"
"Yang pernah datang dengan Ayah," ucap Bundanya.
__ADS_1
"Kenapa banyak yang meninggal, Bunda. Aku takut ...." ucap Raja menangis.
"Takut apa, Sayang."
"Aku takut Daddy, Bunda dan Oma juga meninggal."
"Aku juga tak mau. Pasti nanti Daddy, Bunda dan Oma sakit. Di timbun pasir," ucap Ratu juga menangis.
Mami memeluk Ratu dan berusaha menenangkan gadis cilik itu.
"Sayang, doakan aja Oma panjang umur. Oma juga ingin melihat cucu Oma yang cantik ini tumbuh dewasa. Dan Oma ingin melihat kamu hingga bersanding."
"
Ratu mengecup pipi Mami dan memeluknya erat.
"Oma janji tidak akan meninggalkan Ratu."
"Oma tidak bisa berjanji. Itu semua kehendak Tuhan. Jika Tuhan meminta Oma untuk kembali padaNya, Oma bisa apa. Ratu dan Raja doakan saja Oma panjang umur."
"Apa itu kembali pada Tuhan," tanya Ratu lagi.
"Kembali pada-Nya itu berarti meninggal, Sayang."
"Aku akan meminta pada Tuhan, jangan memanggil Oma. Berarti Oma tidak akan meninggal."
"Sayang, Oma." Mami meneteskan air mata mendengar ucapan Ratu.
Tak terasa mobil mereka telah memasuki halaman rumah sakit. Albirru dengan pakaian yang kotor itu berlari menuju ruangan dimana jenazah Abi berada.
Bersambung
******************
Bagaimana perasaan Albirru saat ini. Pasti sedih banget harus kehilangan dua orang terdekat sekaligus. Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.
Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.
__ADS_1