Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 112. Hidup Zeya yang Bahagia


__ADS_3

Seminggu setelah Abi dan Thalita meninggal bayinya diizinkan pulang. Saat ini bayi itu di rawat Zahra.


Awalnya, Mama Thalita keberatan cucunya di rawat Zahra. Tapi mengingat semua itu adalah amanat dari Thalita, ia akhirnya mengizinkan, dengan syarat jika suatu saat ia ingin cucunya menginap Zahra dan Albirru tak keberatan mengizinkan.


Albirru yang karena kelalaiannya mengakibatkan nyawa melayang sempat ditahan. Atas jaminan Azril melalui pengacaranya Albirru hanya menjadi tahanan luar dan wajib lapor selama enam bulan. Tidak boleh keluar kota atau keluar negeri.


Tiga bulan telah berlalu, bayi Thalita yang diberi nama Farrah Giaa Khaira. Dengan nama panggilan Khaira.


Bayi mungil itu begitu mirip dengan ibunya Thalita. Zahra sangat menyayanginya.


Albirru yang pulang kerja langsung menemui putri kecilnya itu.


"Khaira, sayangnya Ayah. Cepat besar ya. Nanti kita bertemu kak Ratu dan abang Raja. Saat ayah udah boleh keluar kota." Albirru bicara dengan anaknya seolah Khaira dapat mengerti apa yang ia katakan.


"Mas udah kangen sama Raja dan Ratu," gumam Zahra.


"Raja dan Ratu makin hari Mas lihat semakin menggemaskan. Azril mendidik mereka dengan baik. Zeya beruntung memiliki suami yang bersedia menerima dirinya dan anak-anak. Mas juga sangat berterima kasih karena ia yang menyayangi Raja dan Ratu seperti darah dagingnya sendiri. Ia sosok Daddy yang sempurna di mata si kembar."


"Mas juga pasti akan menjadi ayah yang sempurna buat Khaira."


"Aku akan terus belajar menjadi suami yang baik. Umi di mana."


"Ada di kamar. Sejak meninggalnya Abi, Umi lebih banyak diam. Aku juga tak sabar menunggu hari kebebasannya Mas. Agar nanti kita bisa membawa Umi jalan-jalan untuk melupakan kesedihannya."


"Aku juga ada niat membawa Umi, kamu dan Khaira ke Jakarta. Selain untuk jalan-jalan, aku ingin bertemu Raja dan Ratu. Ingin mengenalkan adiknya Khaira. Jika suatu hari Mas tiada, bukankah Raja yang akan menjadi wali nikahnya Khaira. Makanya mereka harus saling mengenal."


"Semoga Raja dan Ratu setelah dewasa bisa menerima Khaira dan menyayanginya."


"Mas yakin Raja dan Ratu akan bisa menerimanya. Zeya dan Azril mendidiknya dengan baik."


"Iya, Mas."


"Mas mau mandi, setelah itu kita solat magrib berjamaah, baru makan malam."


Albirru mengecup dahi putrinya sebelum masuk ke kamar mandi.


................

__ADS_1


Kandungan Zeya saat ini telah memasuki usia tujuh bulan. Perutnya sudah semakin membuncit.


Bukan saja Azril tapi Raja dan Ratu juga sangat antusias memegang dan mengelus perutnya. Semenjak mereka tau jika di dalam perut bundanya ada adik kecil yang segera lahir.


"Bunda, kapan adik lahir," ucap Ratu sambil mengecup perut Zeya.


"Dua bulan lagi, Sayang."


"Berapa hari," ucap Ratu sambil mengangkat kesepuluh jarinya.


"Semua jarinya Ratu, diulang hingga enam kali."


"Lamaaa ...." ucapnya sambil merengut.


"Nggak lama Ratuku, tunggu saja." Azril menyahut dari tempat duduknya.


"Seperti Raja apa aku, Bunda."


"Cowok, seperti abang Raja."


"Kenapa abang panggilnya?"


"Kalau Raja abang, aku dipanggil apa Bunda?"


"Kak Ratu," ucap Zeya mencubit pelan pipi chubby Ratu.


"Aku udah jadi kakak. Horeee ...." teriak Ratu senang.


Azril tertawa melihat tingkah lucu Ratu, putri yang sangat ia sayangi.


Hari-hari yang Azril dan Zeya lalui saat ini penuh dengan kebahagiaan. Ia tak pernah membayangkan akan menjalani hidup dengan wanita yang ditemuinya di tempat hiburan itu akan berakhir sebahagia saat ini.



............


Dua bulan berlalu, pagi ini Zeya merasakan pinggang dan perutnya kram. Ia membangunkan Azril yang masih tidur. Emang kebiasaannya tidur kembali setelah melaksanakan solat subuh.

__ADS_1


"Mas, bangun." Zeya mengguncang tubuh Azril pelan.


"Kenapa, Sayang. Aku masih ngantuk."


"Sepertinya aku mau melahirkan, Mas." Mendengar ucapan Zeya, Azril langsung bangun.


"Apa, Sayang. Mau lahiran. Di mana?"


"Di rumah sakitlah, Mas."


"Maksud aku bukan itu. Aduh ... aku mau ngomong apa sih tadi. Tunggu aku panggil mami."


Azril turun dari tempat tidur dengan tergesa menuju pintu. Langkahnya terhenti saat mendengar teriakan Zeya.


"Mas ...." teriak Zeya. Azril membalikkan badannya dan menghampiri Zeya.


"Kenapa, Sayang. Udah mau keluar anaknya. Waktu lahiran si kembar, kamu masuk ruang operasi dulu, kan? Nggak lahiran langsung?" ucap Azril panik.


"Mas ngomong, apa? Saat ini aku mau lahiran normal. Nggak akan masuk ruang operasi."


"Terus aku harus bagaimana? Aku nggak ngerti, makanya aku panggil mami dulu."


"Iya, tapi apa Mas tak malu memanggil mami seperti itu." Zeya menunjuk ke tubuh Azril.


Azril memandangi tubuhnya. Ternyata ia hanya memakai pakaian dalam aja. Azril baru ingat jika ia sehabis solat subuh tadi sempat bermain kudaan dengan Zeya. Setelah mandi, ia hanya memakai pakaian dalam dan langsung tidur.


"Aku lupa," ucap Azril cengengesan. Ia berjalan menuju lemari dan menambil pakaiannya. Setelah memakai baju barulah Azril keluar lagi.


Bersambung.


******************


Novel ini hanya tinggal satu bab menjelang tamat. Besok bab terakhir. Tapi kata End di novel akan aku munculkan saat ini untuk tetap menjaga performa karya. Terima kasih.


Mampir juga ke novel teman-teman mama, ceritanya tak kalah menarik.


__ADS_1



__ADS_2