Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 42. Kepemakaman Ayah dan Ibu Zeya.


__ADS_3

Albirru terbangun tengah malam, setelah bermimpi bertemu Zeya. Ia bangun dari tidurnya dan menuju kamar mandi. Albirru mengambil wudhu dan melaksanakan sholat malam.


Setelah solat ia keluar kamar dan duduk di ruang keluarga dengan menghidupkan televisi. Pikirannya masih pada mimpi tadi.


Kenapa aku sering bermimpi Zeya yang berjalan dengan dua orang anak kecil. Apakah arti dari mimpiku. Ataukah itu hanya karena rasa bersalahku yang pernah membuat ia keguguran. Tapi Zeya, aku juga tak pernah menginginkan itu. Aku sadar jika saat itu aku memang keterlaluan, mengabaikanmu dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama Zahra. Aku hanya takut jika aku lama-lama bersamamu Zahra curiga. Saat itu ia belum tau jika aku telah menikah. Zeya, aku sangat merindukan kamu. Saat kamu berada dalam pelukanku. Dan saat kamu bermanja denganku seperti saat awal pernikahan kita.


Zahra yang terbangun tak melihat suaminya. Ia keluar kamar dan melihat Albirru yang termenung.


"Mas, ngapain malam-malam masih di sini."


"Aku tidak bisa tidur, Zeya," ucap Albirru. Dan lagi-lagi ia salah menyebut nama Zahra.


"Aku Zahra, mas. Bukan Zeya!" Mendengar ucapan Zahra, Albirru mengusap wajahnya.


"Maafkan mas."


"Mas kangen mbak Zeya?"


"Aku tadi hanya terbangun dan tak bisa tidur lagi. Mari kita tidur aja."


Albirru berdiri dan memeluk pinggang Zahra membawa masuk ke kamar. Ia membaringkan tubuhnya.


"Mas kangen mbak Zeya?" Kembali pertanyaan itu Zahra ajukan.


"Sebaiknya kita nggak usah bicarakan itu. Zeya udah jadi masa lalu."


"Mas masih mencintai mbak Zeya." Zahra mengabaikan ucapan suaminya. Ia memiringkan tubuhnya menghadap Albirru. Ia ingin melihat reaksi Albirru atas ucapannya.


"Zahra, saat ini mas tak ingin berdebat. Dan apapun jawaban yang mas berikan tidak akan bisa merubah kenyataan yang telah terjadi."


"Aku hanya ingin tau perasaan mas saja."


"Mas tak ingin menjawabnya."

__ADS_1


"Apa mas takut aku marah dan kecewa mendengar jawaban mas nantinya?"


"Zeya cinta pertamaku. Mas jatuh cinta padanya sejak pertemuan awal kami. Tak mudah bagi mas untuk menghilangkan perasaan itu secepatnya. Dan yang membuat mas masih belum bisa melupakan dirinya hingga saat ini, karena ia wanita yang selalu saja bisa memahami mas dan sabar menghadapi mas. Mas telah melukai perasaannya terlalu dalam. Sehingga tak mudah mengobatinya lagi."


"Kenapa mas menjatuhkan talak buat mbak Zeya jika mas masih mencintainya."


"Sakit memang ketika harus merelakan orang yang kita cintai pergi, namun berbesar hatilah untuk tidak membatasi pilihan hidupnya.Ada saat harus merelakan dia yang kita cintai pergi untuk sebuah pilihan. Bahagia mas adalah melihat orang yang kita cintai bahagia."


Ternyata cinta mas Albirru begitu besarnya untuk mbak Zeya. Apakah aku bisa menggantikan tempat mbak Zeya di hati mas Albirru.


Albirru berusaha memejamkan matanya. Ia berusaha menepis bayangan Zeya yang hadir memenuhi pikirannya.


............................


Tiga hari lagi Zeya dan Azril akan melangsungkan pernikahannya. Ia ingin meminta izin pada kedua orang tuanya sebelum menikah.


Dulu saat ia menikah dengan Albirru, Zeya tak sempat ziarah ke kuburan orang tuanya.


Raja dan Ratu di titipkan pada mami Azril. Zeya tak ingin nanti anak-anaknya rewel. Mereka pergi bertiga, dengan supir.


Sehabis solat subuh mereka berangkat. Raja dan Ratu telah dititipkan pada mami dari kemarin.


Setelah istirahat dan solat zuhur perjalanan dilanjutkan. Sekitar pukul dua sampailah Zeya pada tempat pemakaman ayah dan ibunya.


Dari kejauhan Zeya melihat ada sepasang pria dan wanita paruh baya yang berdoa di depan pusara ayah dan ibunya.


Zeya heran melihat itu. Setahu dirinya selama ini tak ada seorangpun saudara atau sahabat dari orang tuanya yang ziarah.


Zeya dan Azril berjalan makin mendekati kuburan ayah dan ibunya. Betapa kagetnya Zeya melihat siapa pria dan wanita yang sedang ziarah di kuburan ibunya itu.


"Abi ... Umi .... "


Abi dan Umi menengadah kepalanya mendengar ada seseorang memanggil mereka. Tampak keterkejutan dari wajah mereka.

__ADS_1


"Assalamualaikum, Zeya," ujar Umi Albirru.


"Waalaikumsalam, Umi."


"Kamu berasal dari daerah sini?"


"Iya, Umi. Asalku aslinya dari daerah sini."


"Kamu mau ziarah kekuburan kedua orang tuamu."


"Iya, Umi. Umi dan Abi, apa kabar."


"Alhamdulilah sehat."


"Di mana kuburan kedua orang tuamu."


"Ini kuburan kedua orang tuaku, Umi."


"Maksud kamu Rahayu dan Beni ini adalah kedua orang tuamu."


"Betul, Umi."


"Jadi kamu anaknya Rahayu dan Beni ... ?" Abi akhirnya angkat suara.


" Iya, Abi."


Mendengar jawaban Zeya tampak Abi dan Umi sangat kaget. Meraka menarik nafas dalam-dalam.


Bersambung.


******************


Terima kasih buat semua yang masih setia membaca novel ini. Ada hubungan apa antara ke dua orang tua Zeya dan kedua orang tua Albirru.? Tunggu jawabannya di bab berikut.. 😍😍😍😍

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini update, kalian semua bisa mampir ke novel anak online mama. Pasti tak kalah serunya



__ADS_2