Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 64. Kepindahan Zeya dan keluarga.


__ADS_3

Hari ini Azril dan Zeya memutuskan akan pindah ke Jakarta. Mereka akan pergi dengan menggunakan dua mobil. Satu buat Azril, Zeya, mami dan anak-anak. Satu mobil lagi buat mengangkut barang-barang berharga milik mereka.


Rumah yang biasa mereka tempati di jaga pekerja yang Azril bayar. Begitu juga rumah mami.


Atas bujukan dari Zeya, mami akhirnya memutuskan ikut mereka. Tapi mami meminta izin untuk pulang tiap bulannya melihat rumah.


Ketika mobil akan berjalan, mereka melihat ada mobil yang masuk ke halaman rumah. Azril meminta supir untuk mematikan mesin mobilnya.


"Sepertinya itu mas Albirru dan kedua orang tuanya," gumam Zeya.


"Kita keluar saja dulu." Azril lalu membuka pintu mobil dan menggendong Raja. Ratu berada dalam pelukan mami.


Mobil berhenti tepat di depan Azril. Satu persatu yang berada di mobil keluar. Ada Albirru, Zahra dan kedua orang tuanya.


"Selamat pagi Azril, Zeya." Albirru mengucap salam dan menjabat tangan Azril.


"Selamat pagi, aku kira kamu tak jadi datang. Makanya kami memutuskan akan berangkat. Kamu janji akan datang jam enam pagi dan ini telah jam delapan."


"Maaf, aku tadi menunggu abi dan Umi."


"Untung kami belum berangkat, jadi kamu masih bisa bertemu dengan Raja dan Ratu."


"Boleh aku menggendong Raja," pinta Albirru.


"Tentu saja," ucap Azril dan memberikan Raja ke Albirru.


Raja yang berada digendongan Albirru menangis. Albirru dan kedua orang tuanya berusaha membujuk dan merayunya agar diam.


"Dy ... dy," ucap Raja.Zeya lalu mendekati Albirru. Tangis Raja makin kencang melihat bundanya.


Raja merentangan tangan meminta Zeya menggendongnya. Zeya lalu mengambil dari tangan Albirru.

__ADS_1


"Kenapa menangis sayang. Inikan ayah, Raja." Zeya berusaha membujuk, tapi Raja masih tetap menangis. Azril mendekati istrinya dan mengambil alih Raja.


"Dy ... di," ucapnya.


"Iya, sayang. Daddy tak akan pergi. Sekarang kamu berhenti menangis ya." Setelah Azril membujuknya barulah Raja diam.


Abi dan Umi lalu meminta izin menggendong Ratu pada mami. Sama seperti Raja, Ratu pun menangis saat di gendong Umi.


"Sayang, ini nenek. Kenapa menangis ...." ucap Umi berusaha membujuk. Bukannya diam tangis Ratu semakin kencang.


"Biar saya gendong dulu, bu," ujar mami. Ia mengambil Ratu kembali, dan membujuknya.


"Umi, Abi, mas Albirru ... maaf jika Raja dan Ratu tak mau di gendong. Mungkin ia takut ditinggalkan. Itulah alasan utama aku tak bisa memberikan hak asuh pada mas Albirru. Anak-anak ini telah terbiasa dan nyaman bersama mas Azril. Jika di minta memilih antara aku dan mas Azril, Raja dan Ratu lebih memilih daddy nya itu."


"Itu karena ia telah terbiasa bersama Azril. Coba dari lahir ia bersama Albirru, mereka pastilah juga begitu dengannya," gumam Umi.


"Umi, maafkan aku jika ini membuat tak nyaman."


Zeya menyalami kedua mantan mertuanya dan Zahra. Dari awal tampak Zahra yang hanya diam. Ia tak banyak bicara.


Setelah berpamitan, Zeya dan Azril masuk ke mobil. Supir Azril mulai melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah.


Albirru dan keluarga juga masuk mobil dan meninggalkan halaman rumah Azril itu.


Mereka mampir ke sebuah restoran sebelum melanjutkan perjalanan. Tampak Albirru yang termenung.


"Bagaimana kabar kamu, Zahra. Apakah telah ada tanda kehamilan," ucap Umi.


Zahra yang mendengar ucapan Umi jadi kaget. Tak pernah Umi bertanya kehamilannya selama ini.


Zahra juga sadar jika Albirru pasti sangat menginginkan keturunan darinya.

__ADS_1


"Umi, aku juga sangat menginginkan Allah menitipkan keturunan mas Albirru dalam rahimku. Tapi apa yang bisa aku lakukan jika belum dipercayakan."


"Umi tau, Zahra. Umi hanya bertanya. Tapi kamu dan Albirru juga harus mengiringi dengan usaha. Doa tanpa usaha tidak akan berhasil, dan setiap usaha juga harus dibarengi doa."


Zahra yang merasa tersudutkan hanya diam. Sejak mereka tau kehadiran Raja dan Ratu, ia merasa selalu dituntut untuk segera ke. berikan keturunan.


Setelah menyantap hidangan Albirru dan keluarga meneruskan perjalanan menuju pulang kerumahnya.


Sampai di rumah Zahra langsung masuk kamar, tangisnya pecah. Dari tadi ia sudah menahan agar air matanya tak jatuh.


Albirru yang masuk ke kamar setelah tadi sempat berbincang sebentar bersama Abi dan Umi kaget melihat Zahra yang terisak.


"Kenapa kamu menangis?" ucap Albirru mendekati istrinya itu.


"Mas, aku juga menginginkan keturunan. Tapi jika Allah belum percaya menitipkan satu nyawa pada rahimku, apa yang bisa aku lakukan?"


"Zahra, kamu menangis karena itu."


"Semenjak orang tua mas tau tentang kehadiran Raja dan Ratu, aku seolah dituntut untuk dapat memberikan kamu keturunan dari rahimku ini. Aku juga menginginkan itu, tapi aku bisa apa. Kita juga telah berusaha, semua hanya tergantung dari-Nya lagi."


"Maafkan jika Umi menyinggung kamu. Itu semua hanya karena ia sangat menginginkan menggendong bayi dari rahimmu. Ia juga ingin merasakan cucunya dekat dan akrab dengannya seperti Raja dan Ratu dengan orang tua Azril."


"Kalau memang kedua orang tua mas sangat menginginkan keturunan dari rahimku ...." Zahra menarik nafasnya dalam sebelum melanjutkan ucapannya. "Aku rela kamu mencari wanita lain, aku siap di madu," gumamnya lagi.


"Kamu bicara apa, Zahra?" ucap Albirru dengan sedikit kaget. Ia tak pernah berpikir jika Zahra akan mengatakan itu padanya.


Bersambung


***************


Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. 😘😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2