
Tak terasa kehamilan Zeya sudah semakin besar, telah tiga bulan usia kandungannya kini. Perut Zeya udah mulai tampak sedikit membuncit.
Zeya yang di dalam kamar selalu berpakaian minim membuat Azril semakin senang menggoda istrinya.
Zeya terbangun ketika merasakan suatu yang lembut dan basah mengecup perutnya. Ia melihat Azril yang sedang asyik bermain ditubuhnya.
"Mas geli,ih. Suka banget ...."
"Aku nggak sabar melihat perut kamu tambah buncit, pasti kamu tambah cantik dan seksi."
"Emang sekarang aku nggak cantik, Mas."
"Dengar kata-kataku tadi. Kamu tambah cantik kalau perut ini membuncit, berarti sekarang aja udah cantik, Sayangku."
"Gombal aja terus."
"Benar loh, Sayang. Kamu tau nggak, kalau wanita hamil itu bertambah kecantikannya dua poin. Pertama aura keibuannya akan makin tambah, kedua keseksiannya. Saat kamu hamil si kembar, aku aja pengin rasanya menerkam kamu. Kalau tak ingat kamu akan marah dan meninggalkan aku, pasti sudah dari pertama aku memakanmu."
"Mas, berarti selama ini aku banyak dosa. Membuat pikiran Mas selalu aja mesum saat bersamaku dulu."
"Sayang, kalau kamu nggak gunakan hijab dan berpakaian seperti saat ini keluar rumah aku pasti sering masuk penjara."
"Kenapa bisa masuk penjara, Mas. Apa hubungannya?"
"Aku akan membunuh setiap pria yang memandangi tubuhmu dengan mata mesum mereka itu. Kamu itu tubuhnya bagus, seksi dan bersih banget. Aku tak rela jika ada pria lain melihatnya. Mulai besok kamu bukan hanya berpakaian muslim aja tapi harus yang longgar."
"Mas itu yang jauh lebih ganteng, pasti masih banyak anak gadis yang bersedia Mas gombalin. Tapi awas aja, kalau ada yang mendekati ...."
"Kamu apain, Sayang?"
"Akan aku kuliti gadis itu, dan kamu akan aku sunat dua kali lagi."
"Ngeri banget istriku sekarang. Galaknya ...."
"Aku tak akan biarkan milikku direbut orang lagi," ucap Zeya dengan lirih.
__ADS_1
Azril bangun dan duduk dengan bersandar pada kepala tempat tidur, ia membawa kepala Zeya ke atas paha.
"Jangan takut, Sayang. Aku tak akan mengkhianati kamu selagi masih waras. Aku tau bagaimana sakitnya ketika dikhianati. Makanya aku tak akan melakukan itu. Jika hatiku saja sebagai pria sakit apalagi wanita."
Zeya memeluk kedua paha suaminya itu dan mengecupnya.
"Sayang, kamu sedikit lagi mengecup jerry loh. Ini aja keburu bangun dan mengamuk jerrynya. Coba pegang." Azril membawa tangan Zeya ke jerry.
"Mas mesum banget." Zeya menarik tangannya, membuat Azril tak bisa menahan tawanya.
Ia menjatuhkan kepala istrinya ke bantal dan langsung menindihnya. Zeya yang hanya memakai baju tank top dan celana bahan katun sejengkal emang tampak sangat seksi.
"Kita bermain kuda-kudaan dulu sebelum mandi. Ini bayaran karena kamu udah bangunkan si Jerry."
Azril mulai dari mengecup dahi istrinya dan seluruh bagian wajahnya. Setelah puas di wajah, ciuman turun ke leher. Di sana Azril lama bermain.
Setelah banyak meninggalkan jejak di leher istrinya, ciuman turun ke bukit kembar. Kembali Azril asyik bermain seperti anak kecil yang mendapat mainan, ia larut dalam permainannya itu.
Saat ini Azril kecupannya telah turun ke perut istrinya yang tampak sudah tampak sedikit membuncit. Kehamilan kali ini Zeya tidak mengalami ngidam, sehingga berat badannya cepat naik.
Saat ini Azril dan Zeya telah larut dalam penyatuan tubuh mereka. Azril tak akan pernah merasa puas, karena Zeya emang tau dan pintar cara memuaskan suaminya itu.
...........
Di Pekanbaru, tampak Albirru sedang mempersiapkan barang-barang Thalita. Ia akan melahirkan minggu depan menurut dokter.
Thalita minta di antar ke kota Duri. Rumah orang tuanya. Perjalanan dari kota Pekanbaru ke kota Duri bisa ditempuh dalam dua jam perjalanan, jika menggunakan tol. Jika jalan biasa bisa memakan waktu kira-kira tiga setengah jam.
"Kenapa bukan mama aja yang ke sini," ucap Zahra yang membantu memasukkan barang-barang Thalita.
"Kasihan papa jika di tinggal mama selama aku membantu aku lahiran,Mbak."
"Padahal Mbak juga bisa membantu, tak perlu mama yang datang ke sini."
__ADS_1
"Nggak mungkin Mbak yang mengurus aku, malulah."
"Maaf ya, Mbak tak bisa ikut. Ada acara keluarga juga. Nanti kamu lahiran baru Mbak menyusul."
"Iya, Mbak."
"Hati-hati, Mas Albirru baru pulang dari luar kota. Masih mengantuk. Kamu ingatkan kalau dia ngebut."
"Baik, Mbak."
Albirru keluar dan menyiapkan mobil. Abi dan Umi juga akan ikut mengantar Thalita.
Setelah semua persiapan telah selesai, Abi , Umi dan Thalita masuk ke mobil.
"Hati-hati, Mas. Jangan ngebut. Mas masih kelihatan capek dan mengantuk." Zahra kembali mengingatkan Albirru.
"Hanya dua jam perjalanan, aku akan berhati-hati. Jangan kuatir."
"Thalita, salam ya buat mama dan papa. Abi, Umi, hati-hati."
"Ya, Zahra. Kamu juga hati-hati sendirian di rumah."
Zahra menjabat dan mencium tangan kedua mertua dan suaminya. Albirru perlahan mulai melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Thalita.
Setelah mobil Albirru menghilang, Zahra masuk dan membersihkan rumah Thalita. Setelah rumah bersih barulah Zahra pulang.
Bersambung.
******************
Thalita ingin melahirkan di dekat orang tuanya. Semua wanita pasti menginginkan begitu, kan?". Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.
Mampir juga ke novel teman-teman mama ya. Tak kalah menarik ceritanya.
__ADS_1