
Zahra membantu Albirru berdiri. Ia lalu meminta pria itu duduk di kursi.
"Mas sudah menghubungi orang tua Thalita," ucap Zahra mengingatkan Albirru.
"Aku tak sanggup," ujar Albirru pelan dengan terbata.
"Tapi mama dan papa Thalita harus diberitau, Mas."
"Tolong kamu saja yang menyampaikannya."
"Baiklah. Walau sebenarnya aku juga tak sanggup."
Dengan terpaksa Zahra menghubungi kedua orang tua Thalita, yang ia panggil om dan tante.
Ia mengabarkan tentang kecelakaan yang dialami Albirru dan keluarga. Tapi Zahra tidak mengatakan tentang Thalita yang telah tiada.
Jenazah Thalita akan dibawa ke Pekanbaru. Albirru ingin dikuburkan di kota itu agar ia bisa setiap saat medatanginya.
Orang tua Thalita sangat kaget mendapat kabar tentang kecelakaan putrinya. Ia segera berangkat menuju ke rumah sakit yang dikatakan Zahra.
Zahra memegang lengan Albirru erat, saat mereka akan menuju ruang mayat untuk melihat jenazah Thalita.
Sampai depan ruangan itu, mereka meminta tolong petugas untuk mengantar.
Zahra dan Albirru melangkah dengan tertatih. Langkah mereka terasa sangat berat. Sampai di hadapan satu jenazah yang ditutupi kain putih, Zahra mencoba membuka perlahan.
Zahra langsung menutup mulutnya agar tak menjerit histeris. Wajah Thalita tampak memar, tapi ia masih terlihat tersenyum.
Setelah menahan jeritannya, tubuh Zahra akhirnya lunglai juga jatuh ke lantai. Begitu juga Albirru. Tampaknya ia tak sanggup melihat wajah Thalita yang tersenyum itu.
__ADS_1
Maafkan aku Thalita. Semua ini salahku. Seandainya aku tak meminta kamu menjadi istri mas Al, mungkin saat ini kamu masih hidup.
Setelah berpikir begitu, Zahra tersadar dan beristighfar. Ia sadar hidup dan mati seseorang itu ada ditangan Tuhan. Ia tak bisa menyalahi takdir.
Albirru yang paling terpukul dengan kematian istrinya. Ia merasa semua ini karena kesalahannya.
Setelah cukup lama menangis, Zahra dan Albirru bangkit. Zahra meminta Albirru mengurus administrasi untuk kepulangan jenazah Thalita. Zahra menunggu di ruang tunggu.
Saat mengurus administrasi, Albirru mendengar namanya di panggil. Ia menoleh ke asal suara. Tampak kedua orang tua Thalita berjalan menuju ke tempat di mana ia berdiri.
"Al, kamu nggak apa-apa. Bagaimana Thalita, ia juga selamat seperti kamu, kan?" ucap Mama Thalita.
"Maaf, Ma ...." ujar Albirru.
"Kenapa kamu minta maaf? Thalita kenapa."
"Thalita ... Thalita ...."
"Thalita ...." Arbirru masih belum bisa mengatakan sebenarnya.
"Katakan Al, apa yang terjadi." Mama Thaliat mengguncang tubuh Albirru agar ia mau berita jujur.
Zahra mengabari kedua orang tuanya tentang kepergian Thalita, dan meminta bantuan untuk mempersiapkan rumah menyambut kepulangan jenazah Thalita.
Setelah menghubungi orang tuanya, Zahra menyusul Albirru. Dari kejauhan ia melihat kedua orang tua Thalita yang sedang bertanya pada suaminya itu, mempercepat langkahnya.
"Tante, Om ...."
"Zahra, katakan di mana Thalita."
__ADS_1
"Mari Om dan Tante ikut aku." Zahra berusaha kuat dan menahan segala sesak di dada. Ia tau saat ini pastilah sulit bagi pria itu untuk mengatakan kebenarannya karena rasa penyesalan yang ada didirinya.
Kedua orang tua Thalita mengikuti langkah kaki Zahra. Sampai di depan kamar mayat, langkah Zahra terhenti. Kedua orang tua Thalita sudah mulai tampak kebingungan. Wajah mereka terlihat pucat. Albirru ternyata mengikuti mereka.
"Kanapa berhenti di depan kamar mayat, Zahra," ujar mama Thalita gugup.
"Jangan katakan jika anak kami ada di dalam kamar ini," ucap Papa Thalita.
"Maafkan kami, Om, Tante ...."
"Jadi Thalita ...." ujar Mama Thalita tak sanggup meneruskan ucapannya.
"Ya, Tante. Thalita telah pergi meninggalkan kita untuk selamanya," ucap Zahra dengan tangisnya. Ia sudah tak bisa menahannya lagi.
"Tidak mungkin, papa ini salah,kan? Thalita tak mungkin meninggal." Tangis mama Thalita akhirnya pecah dalam pelukan suaminya.
"Ma, sabar Ma. Kita lihat dulu bagaimana anak kita," ucap papa Thalita. Ia memapah Mama Thalita untuk masuk ke kamar mayat.
Sampai di depan jenazah Thalita, mamanya membuka kain penutup. Dan kembali menjerit melihat wajah putrinya yang membiru dan telah pucat.
"Tidakkkk, kenapa kamu meninggalkan Mama," jerit mama Thalita sebelum pingsan. Papa cepat menyambut tubuh mama Thalita dan mengangkatnya. Ia membawa keluar dan menidurkan tubuh mama di bangku panjang yang ada di depan kamar mayat itu.
BERSAMBUNG
*****************
Apakah orang tua Thalita ikhlas menerima kenyataan ini?. Nantikan terus kelanjutan novel ini. Terima kasih.
Sambil menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman-teman mama ini.
__ADS_1