Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 86. Berangkat ....


__ADS_3

*A**ku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu, karena ku tahu ada di sampingmu adalah kebahagiaan yang besar untukku*. (Azril)


Azril masuk ke kamar Raja dan Ratu. Tampak anak-anak yang sedang bermain dengan melompat di atas tempat tidur.


Azril melihat istrinya yang sedang memilih pakaian Raja dan Ratu yang akan dibawa. Pengasuh anak-anak membantu memasukkan baju ke dalam tas.


"Ada yang bisa aku bantu," ucap Azril memeluk pinggang ramping istrinya.


"Nggak ada,Mas. Aku bisa melakukan sendiri." Azril mengecup leher istrinya yang terbuka.


"Mas, geli, " ucap Zeya mendorong kepala Azril yang bersandar dibahunya. Azril tak peduli akan protes istrinya itu. Ia masih terus mengecup lehernya Zeya.


"Mas malu sama mbak nya tuh," ucap Zeya mengingatkan Azril kalau ada pengasuh anaknya.


Azril yang dasarnya tak pedulian kalau sedang mesra sama istrinya, tetap aja mengecup leher dan telinga Zeya.


Plak. Azril meringis, bok*ngnya sakit karena kena pukulan benda. Ia melihat kebelakang. Tampak Raja dan Ratu yang memegang mainan pistol.


"Daddy, kenapa ganggu bunda," ujar Ratu.


"Daddy gigit leher bunda, lihat berdarah." Raja menunjuk ke tanda merah yang dibuat Azril pada leher Zeya.


Mbak pengasuh hanya menunduk menahan tawanya melihat Raja dan Ratu.


"Bukan daddy yang gigit bunda. Itu tanda dari gigitan nyamuk," gumam Azril. Mendengar ucapan Azril, lengannya dipukul Zeya.


"Sayang, main lagi sana. Bunda masih harus siapkan pakaian kalian dulu."


"Udah aja, Sayang. Nanti terlambat. Siti, pakaian kamu udah siap."


"Udah, pak."


"Nanti kalau pakaian mereka kurang, bagaimana?"


"Kita beli aja. Kamu siap-siap sana."


"Mas tak ganti pakaian."


"Seperti ini aja udah ganteng. Nanti kalau ganti pakaian banyak gadis tergoda."


"Awas aja kalau berani genit aja, tak aku beri jatah jerry nya." Zeya berbisik ditelinga Azril.


"Kejam banget, bunda."

__ADS_1


"Biarin, siapa suruh genit," ucap Zeya, melangkah keluar kamar Raja dan Ratu.


...................


Saat ini mereka telah berada dalam pesawat yang akan membawa mereka menuju kota Pekanbaru. Raja dan Ratu tampak senang. Tak ada rasa takut pada diri mereka.


Setelah menempuh perjalanan selama sembilan puluh menit, sampailah mereka di bandara Sultan Syarif Qasim Pekanbaru.


"Akhirnya kembali menginjakkan kaki di sini." Zeya bergumam, tapi masih didengar Azril. Ratu tertidur di dalam gendongannya. Sedangkan Raja di gendong Siti.


Azril meminta dijemput supir perusahaannya. Walau ia pindah ke Jakarta, usaha di kota ini masih terus berjalan. Selama ini dipegang oleh orang kepercayaannya.


Pernah juga Azril ke kota ini hanya dua hari, karena Ratu putrinya sakit ketika ditinggal. Ratu memang sangat dekat dengan dirinya. Sejak saat itu ia hanya percayakan semua pada orang terdekatnya.


Supir mengantar mereka menuju rumah kediaman mami. Rumah ini dijaga oleh tiga orang pekerja yang tetap membersihkan rumah walau tak ada penghuninya.


Azril menidurkan Ratu di kamar tamu. Begitu juga Raja. Setelah ia yakin anak-anaknya tidur dengan nyenyak barulah ia keluar dari kamar menuju kamarnya.


Tampak Zeya yang membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Azril juga ikutan naik ke ranjang.


"Capek, Sayang."


"Pegal aja dikit, Mas."


"Besok kita sekalian periksa ke tante Febby, ya?"


"Tante Febby praktik di rumah sakit itu juga, Mas?"


"Iya, Sayang."


"Aku udah kangen dengan tante Febby."


Azril memijat kaki istrinya itu hingga Zeya terlelap. Setelah itu, Azril juga ikutan membaringkan tubuhnya di sampaing Zeya.


Sore harinya Azril terbangun, ia merasakan pelukan yang erat dilengannya. Zeya sejak hamil selalu tidur dengan memeluk lengannya erat seakan takut ia akan lari.


Azril mengecup dahi istrinya. Zeya membuka mata merasakan kecupan di dahinya.


"Bangun, Sayang. Mandi dan habis itu makan. Kamu hanya makan sebelum berangkat tadi."


"Raja dan Ratu udah makan, Mas?"


"Mas udah minta Siti tadi menyuapi mereka."

__ADS_1


"Nyenyak banget aku tidur tadi ya, Mas?"


"Banget ...."


"Pasti karena pijatan dari Mas. Kapan kita ke rumah sakitnya, Mas?"


"Malam ini. Setelah makan malam kita ke rumah sakit sebentar. Mami udah nggak sabar ingin melihat keadaan papi."


"Raja dan Ratu ikut, Mas."


"Tinggal aja bersama Siti."


"Aku mandi dulu, Mas." Zeya bangun dari tidurnya.


Baru aja ingin menginjakkan kaki ke lantai, ia merasa tubuhnya melayang. Ternyata Azril yang menggendongnya.


"Mas turunkan. Aku bisa jalan sendiri."


"Kita mandi berdua."


"Aku nggak mau."


"Kenapa ....?"


"Nanti Mas tak hanya mandi, tapi minta sesuatu."


"Minta apa, Sayang?" ucap Azril menggoda istrinya. Wajah Zeya udah memerah menahan malu.


Azril meletakkan tubuh Zeya ke dalam bathtub. Azril membantu Zeya membuka seluruh pakaiannya. Dan menghidupkan air hangat. Tak lupa menambahkan aroma terapi ke dalam air.


Azril juga membuka seluruh kain yang menutupi tubuhnya, dan bergabung dengan istrinya di dalam bathtub.


Seperti dugaan Zeya, mandi yang seharusnya tidak menghabiskan waktu lama, jika telah berdua bersama Azril akan menjadi jauh lebih lama.


Bersambung


*******************


Bagaimana reaksi papi saat nanti dijenguk anak dan istrinya?. Nantikan terus ya kelanjutan novel ini. Terima kasih.


Sementara menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama.


__ADS_1


__ADS_2