
Jika suatu malam kamu melihat seseorang berbuat dosa, keesokan harinya jangan memandangnya sebagai orang yang berdosa, mungkin saja pada malam harinya dia telah bertaubat sementara kamu tidak mengetahuinya." – Ali bin Abi Thalib
Mami lalu mendekati Zeya, menantu yang disayangi itu. Ia memeluk bahu Zeya memberikan kekuatan.
"Sangat normal jika kita penuh dosa dan penuh dengan kekurangan, yang menjadi masalah adalah saat kita berhenti menyesali dosa-dosa yang kita lakukan dan tidak bertaubat kepada Tuhan," ucap mami dengan sedikit emosi.
Zeya menggenggam tangan mami, ia tak mau nanti terjadi keributan.
"Tante, aku sudah meminta maaf dan menyesal karena pernah merebut om dari tante," ujar Shinta.
"Jangan banyak omong, aku harap kamu bisa menjaga papi. Saat ini kamu istrinya. Aku datang hanya ingin menjenguk papi, bukan melihat dramamu," ucap Azril.
"Shinta ... betul kata Azril. Jangan buat masalah lagi. Mereka memaafkan salahku aja, itu sudah lebih dari segalanya bagiku. Jangan kamu rusak lagi. Jika kamu tidak bisa menerima, kamu bisa tinggalkan kami," ucap papi terbata.
"Om, mengusir aku. Apa om lupa selama sebulan ini yang menjaga dan merawat om, aku."
"Kamu hanya menungguku aja. Yang merawat bukan kamu."
"Sudah, sudah ... kami sebaiknya pamit. Papi juga tampaknya sudah mulai membaik. Besok kami akan datang jika tak ada wanita ini." Azril memeluk pinggang Zeya mengajaknya pergi dari ruangan itu.
"Papi, aku pamit. Semoga papi sembuh dan sehat kembali. Maafkan kami tak bisa berlama-lama di sini,"ucap mami.
"Terima kasih karena mau menjengukku. Dan sampaikan sekali lagi maaf dariku buat Azril."
"Baiklah, sekarang papi istirahat. Dan kamu jagalah suamimu. Jangan hanya ingin uangnya saja."
Mami pergi meninggalkan ruangan itu menyusul Azril dan Zeya yang telah keluar.
Sepeninggalan anak dan istrinya. Om Reno tampak sedikit merintih.
"Kenapa, sakit? Tadi om tampak sehat di depan istri dan anak. Baru saja mereka melangkah om langsung merintih."
"Aku tak mungkin menampakkan pada mereka, karena kedatangannya aja sudah lebih dari obat. Aku mengira mereka tak akan sudi menjengukku. Shinta, aku tau kamu telah bosan menunggu aku di rumah sakit. Jangan kuatir, kamu pasti akan terbebas dari pria tua ini secepatnya. Tubuhku sudah tak kuat lagi." Om Reno memegang dadanya yang mulai terasa sesak.
Tadi ia sengaja menahan segala rasa sakit hanya untuk terlihat lebih kuat didepan istri dan anaknya. Om Reno batuk dan mengeluarkan muntah darah.
Shinta menekan bel memanggil perawat atau dokter. Tak berapa lama seorang dokter dan perawat muncul. Mereka memeriksa keadaan om Reno.
"Kenapa bapak bisa begini, bu. Apa tadi bapak tidak istirahat?" tanya dokter dengan Shinta.
"Tadi ada tamu yang menjenguk, ia lama dan banyak bicara."
__ADS_1
"Ini pasti penyebab bapak jadi begini, sebaiknya bapak jangan banyak bicara."
"Bagaimana perkembangan kesehatannya, Dok."
"Masih seperti yang kemarin. Kami tim dokter sudah pernah mengatakan pada ibu, jika penyakit bapak sudah komplikasi dan tubuhnya sudah mulai menolak menerima obat-obat. Kita hanya bisa berdoa saja. Semoga ada keajaiban buat bapak."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Shinta melihat om Reno sudah kembali tertidur, mungkin pengaruh dari obat yang diberi dokter..
Dasar, tadi aja ada istri dan anaknya sok kuat. Malu jika terlihat lemah. Tapi aku heran , kenapa Azril dan maminya tampak begitu menyayangi istrinya itu. Padahal ia mantan wanita penghibur. Apakah semua teman-teman Azril tau kebenaran itu.
..............
Azril, Zeya dan mami menuju ruang praktik tante Febby. Mereka ingin membuat kejutan pada wanita itu.
Tampak di depan ruang kerjanya seorang perawat. Azril menanyakan keberadaan tantenya itu.
Perawat itu mengatakan jika tante Febby baru aja selesai memeriksa pasien terakhir. Dan bersiap-siap pulang.
"Boleh kami masuk," ucap Azril.
"Saya nggak berani mengizinkan bapak masuk, karena ini sudah waktunya dokter Febby pulang."
"Tapi saya takut, pak. Nanti saya bisa dipecat."
"Saya yang akan menjamin kamu. Tak akan pernah kamu dipecat. Tapi jika kamu tak mengizinkan kami masuk, kemungkinan besar kamu yang kami pecat."
"Baiklah, Pak!"
Azril mengetuk pintu, setelah terdengar sahutan dari dalam ia membukanya.
Tampak tante Febby sedang duduk dibalik meja kerjanya. Ia melihat ke arah pintu yang dibuka.
"Azril, Zeya ...." ucapnya girang dan langsung bangun dari duduknya.
Tante Febby berjalan ke arah Zeya dan memeluk erat tubuhnya.
"Jangan kuat-kuat meluk Zeya, Tante."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Zeya lagi hamil, takut menyakiti anakku."
"Benar kamu lagi hamil, Sayang." Tante Febby mengelus perut Zeya.
"Benar tante."
"Ternyata bisa juga Azril menghamili kamu. Tante kira tak kuat ...."
"Jangan sembarangan bicara, Tante. Tiap tahun aku bisa membuat Zeya hamil."
"Tapi kok Zeya baru hamil sekarang."
"Jangan pura-pura tak tau dan tak paham. Tante yang memberi obat buat Zeya tak hamil sampai Raja dan Ratu sedikit besar."
"Iya, jangan marah. Hilang jeleknya nanti."
"Aku ganteng, Tante."
"Sudah, kalian nih kalau bertemu kayak anak kecil aja." Mami akhirnya buka suara.
"Kakakku yang cantik, apa kabar. Tambah cakep aja. Pasti di manja Zeya."
"Tentu aja, aku mertua dan mami yang paling Zeya sayangi."
"Iya, deh. Dari pada ngambek. Duduklah. Atau kita makan di luar aja? Mana Raja dan Ratu?"
"Kita makan di luar aja. Sini nggak ada apa-apa," ucap Azril.
"Raja dan Ratu di rumah sengaja tak dibawa."
"Besok aku kerumah bawa Keisya. Pasti senang banget ketemu Raja dan Ratu."
Tante Febby mengajak mereka pergi ke salah satu kafe agar mengobrolnya lebih santai dan enak.
Bersambung.
******************
Terima kasih buat semua pembaca setia novel ini. Jangan pernah bosan menunggu kelanjutannya.
Karena ini hari senin, bagi yang memiliki vote bolehlah beri buat novel ini.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih buat semua dukungannya. 💜💜💜💜❤❤❤