
Albirru berjalan menuju sofa. Ia mengangkat ponselnya yang berdering.
"Assalamualaikum, Thalita."
"Waalaikumsalam , mas."
"Ada apa kamu menghubungi mas."
"Emang tak boleh ya kalau aku menghubungi mas."
"Bukan nggak boleh, mas hanya bertanya saja."
"Besok mas jadi pulang?"
"Iya, kamu mau mas belikan apa?"
"Aku nggak mau apa-apa. Cuma aku ingin mas segera Kembali. Anak dalam kandungan ini telah kangen sama ayahnya."
"Besok mas sudah kembali."
"Langsung jemput aku di rumah mama ya, Mas!"
"*Baiklah, kenapa hubungi mas malam-malam. Apakah kamu belum tidur. Jangan begadang. Ingat bayi dalam kandungan kamu."
"Iya, Mas. Aku cuma kangen aja tadi. Makanya hubungi, Mas."
"Sekarang tidurlah! Mas juga mau tidur."
"Mas enak, tidur ada yang temani. Aku cuma sendiri," ucap Thalita manja.
"Besok malam mas temani kamu."
"Aku mencintaimu, Mas. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
"Mas ... jangan tutup dulu ponselnya."
"Mau ngomong apa lagi?"
"Mas, belum menjawab ucapanku."
"Yang mana?"
"Yang aku mencintaimu."
"Oh ... aku mencintaimu juga*."
Zahra yang duduk di tepi ranjang hanya tertunduk dan meremas tangannya mendengar percakapan Albirru dan Thalita di ponsel.
Setelah menutupi sambungan ponselnya, Albirru masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Zahra yang telah membersihkan diri membaringkan tubuhnya di ranjang.
Dulu aku juga sering menghubungi mas Albirru saat ia berada di rumah mbak Zeya. Apakah sama yang aku rasakan saat ini juga dulu dirasakan mbak Zeya. Terasa sesak dada ini saat mendengar suami kita bicara dengan madu kita. Walaupun dalam agamaku tidak ada yang namanya karma, tapi setiap perbuatan pasti ada balasannya. Jadi aku yakin ini semua balasan dari perbuatanku dulu pada mbak Zeya.
"Mas ...."
"Ada apa, Zahra?"
"Apa tidak sebaiknya kita berusaha untuk mempercepat proses kehamilanku."
"Maksud kamu apa, Zahra? Apa kamu ingin kita melakukan hubungan suami istri?"
"Iya, Mas. Aku juga ingin merasakan hamil lagi. Aku ingin kembali memiliki anak. Aku ingin dipanggil ibu sama anak-anakku."
"Kita masih bisa mengusahakan lain kali. Aku capek, Zahra. Aku yakin suatu saat kamu pasti akan kembali hamil."
__ADS_1
"Aku dengar besok Mas langsung ke rumah orang tua Thalita menjemputnya, kan?"
"Iya, emangnya kenapa? Bukankah selama di Jakarta ini aku telah bersamamu. Apakah kamu keberatan jika aku bersama Thalita? Bukankah waktunya aku bersama dia."
"Bukan keberatan, Mas. Tapi jika aku jarang kamu sentuh, bagaimana aku bisa hamil? Selama di Jakarta kita belum pernah melakukannya."
"Zahra, kehamilan itu kuasa Tuhan. Kita hanya bisa pasrah dan menerima takdir-Nya. Sekeras apapun kita berusaha jika Tuhan belum memberi kepercayaan, tidak akan kita bisa hamil. Jangan bilang kamu tadi menguping pembicaraan mas dan Thalita."
"Mas, aku bukan menguping. Tapi emang terdengar. Kita berada dalam satu kamar, jadi pasti aku bisa mendengar semua percakapannya." Zahra berkata dengan sedikit keras karena terbawa emosi.
"Kenapa kamu jadi marah, Zahra? Bukankah kamu yang meminta mas menikah lagi? Dan kamu yang mencarikan wanitanya. Mas sudah sering menolak. Tapi kamu terus saja memaksa. Sekarang kamu yang seolah cemburu dan kurang senang jika mas bersama Thalita."
"Aku nggak marah, Mas. Aku cuma mengatakan apa yang aku pikirkan. Bagaimana aku bisa cepat hamil jika mas tak pernah menyentuhku. Memang kehamilan itu takdir-Nya, tapi kita sebagai makhluknya juga tidak hanya memasrahkan diri. Semuanya harus diiringi doa dan usaha."
"Aku capek malam ini. Kita masih bisa mengusahakan nanti di Pekanbaru."
"Di Pekanbaru nanti waktumu akan banyak dihabiskan bersama Thalita," gumam Zahra.
"Kamu cemburu? Bukankah kamu yang meminta mas untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama Thalita karena saat ini ia sedang mengandung. Jika kamu tak setuju, mas akan bicarakan dengan Thalita."
"Tak perlu, mas. Aku minta maaf jika permintaan aku membuat kamu jadi marah. Aku yang salah. Seharusnya aku memang harus mengerti keadaan Thalita saat ini. Bukankah semua yang Mas lakukan juga berawal dari permintaanku. Sebaiknya kita tidur lagi."
Zahra tidur dengan memiringkan badannya mmbelakangi Albirru. Ia memegang dadanya yang terasa sesak karena menahan tangisnya.
Albirru bukannya tidak menyadari jika saat ini Zahra sedang marah dengannya. Tapi ia tak pedulikan itu.
Maaf, Zahra. Aku tau saat ini kamu pasti marah dan terluka atas penolakanku. Tapi aku memang tidak ada gairah malam ini untuk melakukan hubungan denganmu. Percuma saja kalau dipaksakan. Aku harap kamu bisa mengerti. Saat ini pikiranku masih dipenuhi oleh kedua anakku, Raja dan Ratu.
Bersambung
**********************
Terima kasih untuk semua pembaca setia novel ini. Mama harap tak ada yang bosan dan terus menantikan kelanjutannya. Lope you ❤❤❤❤💜💜💜💜
__ADS_1
Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama dibawah ini.