Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 109. Aku tak mau Daddy meninggal


__ADS_3

Zeya membaringkan tubuhnya setelah mandi. Azril masih di kamar yang lain bersama anak-anaknya.


"Sekarang Raja dan Ratuku pejamkan mata. Daddy juga akan beristirahat. Selamat malam. Semoga mimpi indah." Azril mengecup dahi Raja dan Ratu bergantian.


"Selamat malam, Daddy. Semoga Daddy sehat dan panjang umur. Itukan doanya supaya Daddy nggak cepat meninggal," ucap Ratu dengan wajah polosnya.


"Benar, Sayang. Semoga Ratuku menjadi anak soleha dan pintar. Di beri kesehatan dan umur panjang. Begitu juga Raja, semoga menjadi anak soleh, panjang umur, sehat selalu, pintar dan dapat melindungi Bunda, Ratu dan adik-adik kamu yang lainnya."


"Aamiin ...." ucap Raja dan Ratu serempak.


Azril berdiri dan berjalan meninggalkan kedua anaknya. Ketika akan mecapai pintu, Ratu berteriak.


"Aku sayang Daddy. Aku tak mau Daddy meninggal," ucap Ratu dan ia pun menangis.


Azril membalikkan badannya dan kembali ke tempat tidur Ratu. Ia memeluk putri kecilnya itu.


"Daddy tak akan meninggal. Jangan menangis."


Tangisan Ratu makin terdengar kencang, Raja yang melihat Ratu menangis ikutan menangis. Ia bangun dan memeluk Daddy nya.


Zeya yang ingin mengambil air minum kaget mendengar suara tangisan putra dan putrinya. Ia membuka pintu kamar dan melihat Raja serta Ratu yang menangis dipelukan Azril.


"Kenapa Raja dan Ratu, Mas."


"Aku takut Daddy meninggal, aku juga tak mau Bunda dan Oma meninggal," ucap Ratu dengan terisak.


"Sayang, Bunda dan Daddy tidak akan meninggalkan kamu. Jangan menangis ya. Raja juga,Nak. Jangan menangis. Katanya anak laki-laki tak boleh cengeng."


"Bunda dan Daddy janji."

__ADS_1


"Bunda dan Daddy janji tak akan pernah meninggalkan kamu kecuali jika Allah yang memanggil," ucap Zeya dengan lirih.


Zeya dan Azril ikut tidur disamping anak-anaknya ,setelah Raja dan Ratu terlelap baru mereka meninggalkan kamar itu.


"Kenapa Raja dan Ratu menangis," ucap Mami ketika melihat Azril dan Zeya keluar dari kamar yang ditempati si kembar.


"Ratu, Mi. Takut aku meninggal. Melihat Ratu menangis, Raja ikutan juga."


"Kalian berdua harus bersyukur memiliki anak-anak yang begitu sayang dan cinta pada Daddy serta Bundanya. Pasti mereka takut setelah melihat beberapa kali proses penguburan orang yang meninggal."


"Aku bukan saja bersyukur memiliki anak-ank tapi juga Bundanya." Azril mengecup pucuk kepala istrinya.


"Mami hanya bisa berdoa rumah tangga kalian langgeng hingga akhir hayat. Jangan ada orang ketiga."


Zeya mendekati mami dan mengecup pipinya. Membuat mami menjadi heran. Ia memandangi Zeya dengan seksama.


"Aku sangat berterima kasih karena Mami telah melahirkan seorang putra yang sangat baik. Aku juga mau berterima kasih karena Mami yang menerima aku apa adanya dan menyayangi aku seperti anak sendiri. Aku tak tau, apa yang telah kedua orang tua aku lakukan sehingga Allah memberikan suami dan ibu mertua yang sangat baik."


"Udah, Sayang. Jangan melow, istirahat lagi. Besok pagi sekali udah harus ke rumah Albirru." Azril mengajak Zeya masuk ke kamar.


Azril langsung membaringkan tubuhnya. Zeya mengganti pakaiannya sebelum ikut berbaring. Azril lalu memiringkan tubuhnya menghadap Zeya.


"Kira-kira anak kita nantinya cewek apa cowok lagi ya," ucap Azril sambil mengusap perut istrinya itu.


"Kalau aku terserah diberi aja, Mas. Yang penting sehat."


"Aku juga sebenarnya terserah, tapi jika boleh meminta aku ingin anak cowok aja. Biar nanti Ratu menjadi satu-satunya anak gadis di keluarga kita."


"Ratu sangat menyayangi kamu, terkadang aku iri melihat ia lebih dekat dengan Mas dari pada Bundanya. Padahal biasanya anak cewek lebih dekat dengan ibunya."

__ADS_1


"Kamu ini bisa-bisanya iri denganku. Tidur lagi, aku takut jika kita tidak tidur juga, Jerry akhirnya bangun dan mengamuk. Padahal kamu pasti sedang capek."


"Mas ini, mesum aja pikirannya."


Zeya segera menutup matanya. Begitu juga Azril.


...............


Pagi harinya di rumah duka, kediaman Albirru telah tampak para pelayat berdatangan. Albirru dan seseorang yang bertugas memandikan jenazah telah melakukan tugasnya terhadap jenazah Abi.


Air mata Albirru tak hentinya keluar saat ia tadi memandikan jenazah Abi. Sekarang Albirru juga ikut membantu mengkhafani jenazah Abinya.


Maafkan aku Abi, semua ini kesalahanku. Seharusnya aku tidak mengemudi dalam keadaan mengantuk. Karena kelalaianku Abi dan Thalita menjadi korbannya.


Azril dan Zeya datang ketika kain kafan untuk menutupi jenazah Abi tinggal helai terakhir. Mereka membawa Raja dan Ratu untuk mendekati jenazah Abi.


"Maaf mas Al, jangan tutup dulu. Raja dan Ratu ingin mengecup pipi kakeknya untuk terakhir kali."


"Baiklah."


Zeya lalu meminta Raja dan Ratu mengecup pipi jenazah Abi untuk terakhir kalinya. Setelah Raja dan Ratu mengecup pipinya. Azril meminta pengasuh anaknya untuk membawa mereka sedikit menjauh karena jenazah Abi segera disolatkan.


Bersambung.


*****************


Terima kasih banyak mama ucapkan untuk semua pembaca yang terus setia menantikan novel ini. Lope Lope sekebon dah. ❤❤❤❤❤💜💜💜💜💜💜💜


Mampir juga ke novel teman mama yang masih tema berbagi cinta. Tak kalah menariknya .

__ADS_1



__ADS_2