Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 108. Kepulangan Jenazah Abi


__ADS_3

Albirru berlari menuju kamar tempat jenazah Abi berada. Albirru berdiri di ambang pintu. Ia melihat ke dalam ruangan.


Di atas tempat tidur terlihat tubuh seseorang yang ditutupi kain. Albirru berjalan perlahan masuk ke dalam ruangan. Sampai di depan tubuh yang tertutup itu ia terdiam.


Zahra, Azril dan Zeya juga tampak terdiam. Mami dan si kembar menunggu di luar ruangan.


Albirru membuka kain penutup, ia tak bisa lagi menahan tangisnya. Albirru memeluk tubuh Abi .


"Abi, maafkan aku. Semua salahku. Maafkan aku."


Zahra mendekati Albirru dan mengusap punggung suaminya itu. Air matanya juga tak bisa ditahan. Kepala Abi bekas benturan masih diperban. Darah masih tampak tersisa.


Azril memeluk Zeya yang juga ikut bersedih melihat keadaan mantan mertuanya itu.


Hampir setengah jam Albirru menangis sambil memeluk tubuh Abi yang telah kaku. Azril dan Zeya keluar terlebih dahulu.


Azril meminta Zeya untuk duduk, agar wanita itu tidak kelelahan. Ia tak mau terjadi sesuatu dengan kandungan istrinya itu.


"Kamu duduk aja di sini bersama Mami, biar aku urus administrasi untuk kepulangan jenazah Abi."


"Terima kasih, Mas."


"Kenapa kamu harus mengatakan terima kasih." Azril mengacak kepala istrinya yang tertutup hijab itu.


"Daddy mau kemana? Ikut ...." ucap Ratu dan langsung merentangkan tangan minta digendong. Azril segera menggendongnya dan membawa Ratu bersamanya. Tak pernah ia menolak apapun maunya Raja dan Ratu. Tak pernah terucap kata lelah dari mulut Azril untuk si kembar.


Setelah mengurus semuanya, Azril menemui Albirru dan memintanya untuk bersiap karena jenazah Abi akan segera dipulangkan ke rumah duka.


"Terima kasih, Azril. Aku merepotkan kamu. Aku tak akan melupakan semua kebaikan kamu. Semoga Allah membalas dengan kebaikan pula."


"Aamiin. Biarkan perawat mengurus jenazah Abi."


"Ratu," ucap Albirru pelan melihat putrinya digendong Azril.


"Iya, Ayah."


"Kakek udah meninggal, nak."


"Kakek sakit?"


"Iya, nak. Tapi sekarang udah tidak sakit lagi."


"Mas, kita keluar dulu. Biar perawat bisa mengurus jenazah Abi."

__ADS_1


Albirru dan Zahra keluar dari ruangan begitu perawat masuk. Azril mengikutinya. Albirru mengajak Zahra untuk melihat keadaan Umi.


"Aku mau lihat keadaan Umi dulu," gumam Albirru.


"Silakan, aku menunggu di lobi bersama Zeya. Kabari jika jenazah Abi telah siap dipulangkan."


"Nanti aku kabari."


Azril berjalan mendekati Zeya dan Mami, bersama Ratu yang masih dalam gendongannya.


"Daddy, kenapa kepala Kakek berdarah," ucap Ratu. Mungkin ia melihat tadi kepala Abi diperban.


"Sakit, Sayang."


"Kasihan Kakek," ucap Ratu lirih.


Azril duduk di samping Zeya dan meletakkan Ratu di sebelah ia duduk. Azril mengusap perut Zeya.


"Capek?" gumam Azril.


"Nggak, Mas. Jangan kuatir. Aku akan mengatakan jika aku capek."


"Nanti kita langsung periksa ke tante Febby. Aku tak mau terjadi sesuatu. Besok kita baru ke rumah Albirru."


"Ayo,aku temani. Setelah ini kita langsung kembali ke rumah mami."


"Raja dan Ratu mau ikut Bunda."


"Bunda, kemana?"


"Mau lihat keadaan nenek."


"Aku ikut," ucap Raja dan Ratu serempak.


"Mami juga mau ikut."


Mereka pergi bersama menuju ruang ICU. Hanya dari kaca mereka dapat melihat keadaan Umi. Terdapat banyak selang yang tersambung di tubuh Umi.


Albirru menangis melihat keadaan Uminya. Begitu juga Zahra.


"Apa yang akan aku katakan saat Umi sadar dan bertanya tentang Abi. Apakah aku harus berbohong tentang meninggalnya Abi," ucap Albirru lirih.


"Mas, bagaimanapun kita harus mengatakan semuanya saat Umi sadar. Kita tak mungkin menyembunyikan kebenaran tentang meninggalnya Abi."

__ADS_1


"Aku takut Umi tak siap menerima kenyataan ini. Dan apakah aku juga harus mengatakan tentang Thalita."


"Tentu saja. Apa Mas sudah bertanya tentang keadaan bayi Mas, apakah udah ada perkembangan kesehatannya."


"Sebelum kita pulang, aku akan melihat keadaan anakku juga."


"Mbak Zeya, kami pamit mau melihat anak mas Albirru dulu."


"Silakan, semoga bayinya segera sembuh."


Albirru dan Zahra meninggalkan Azril, Zeya, Mami dan anak-anaknya.


"Dimana anak Albirru berada," tanya Mami.


"Masih diruangan NICU, Mi. Kasihan banget ...." gumam Zeya.


"Semoga semua kembali pulih. Baik Umi dan bayinya Albirru. Kasihan banget, ia harus menerima cobaan secara bersamaan. Semoga saja Albirru kuat dan tabah menghadapi semuanya. Mami tak bisa membayangkan perasaan Albirru saat ini. Pasti remuk. Baru saja istrinya terkubur. Ia harus menerima kenyataan Abinya meninggal."


"Mami benar. Aku juga mendoakan mas Albirru kuat menerima semua cobaan ini. Kasihan bayinya jika terjadi sesuatu dengan mas Albirru."


"Kita hanya bisa berdoa. Sayang, kita harus kembali ke rumah mami. Biar kamu bisa istirahat lagi."


"Baik, Mas."


Azril mengajak keluarganya untuk pulang ke rumah mami. Sekitar setengah jam perjalanan dari rumah sakit.


Sebelum pulang, ia pamit dulu dengan Albirru dan Zahra. Azril meminta maaf karena tak bisa menemani Albirru.


"Maaf kami tak bisa ikut kamu pulang ke rumah bersama. Zeya harus istirahat. Jika terlalu capek, aku takut akan memengaruhi kehamilan Zeya."


"Nggak apa, Azril. Aku udah cukup berterima kasih karena kamu telah membantuku."


"Jangan sungkan begitu. Abinya kamu itu kakek Raja dan Ratu."


Azril meninggalkan rumah sakit setelah bersalaman. Zeya juga mengucapkan maaf karena tak bisa menemani hingga jenazah Abi sampai rumah. Ia berjanji akan ke rumah Albirru sepagi mungkin.


Bersambung


*****************


Terima kasih untuk semua pembaca yang masih setia hingga saat ini.


Sementara menunggu novel ini update bisa mampir ke novel teman mama ini.

__ADS_1



__ADS_2