
Pernikahan dan pesta dilangsungkan di taman belakang rumah Azril. Di sudut taman tampak Albirru mengusap air matanya ketika saksi mengatakan sah. Zahra memandangi suaminya yang tampak sangat sedih. Ia menggenggam tangan Albirru memberikan kekuatan pada pria itu.
Abi dan Umi juga tampak terdiam saat pernikahan Azril dan Zeya dinyatakan sah. Abi dan Umi merasa bersalah karena tak bisa melindungi dan menolong anak sahabatnya itu.
Jika saja waktu dapat terulang kembali, aku akan membawa kamu pergi saat kedua orang tuamu tiada. Aku tak akan membiarkan kamu menderita dan sampai jatuh ke lembah hitam.
Saat ini Azril dan Zeya sedang menanda tangani buku nikah. Tampak senyum selalu menghiasi wajah kedua pengantin baru itu.
Pandangan Albirru beradu dengan Zeya. Tampak Zeya memberikan senyuman padanya.
Zeya, maafkan aku. Mungkin tak mudah bagimu melupakan semua kesalahanku. Aku harap pernikahan kamu kali ini bisa memberikan kebahagiaan yang tak bisa aku berikan.
Satu persatu tamu undangan yang hadir memberikan restu buat kedua pengantin.
"Mas, mau makan apa? Biar aku ambilkan," ucap Zahra membuyarkan lamunan Albirru.
"Mas nggak lapar, minum aja."
"Mas dari pagi belum makan. Nanti sakit."
"Mas nanti aja makannya jika lapar."
"Mas kepikiran mbak Zeya."
"Eh ... apa?" ucap Albirru gugup.
"Apakah mas masih belum ikhlas melepaskan mbak Zeya."
"Mas ikhlas kok. Mas ingin melihatnya bahagia."
"Kalau gitu, apa yang mas pikirkan. Dari tadi mas melamun."
"Itu perasaan kamu aja. Mas rasa dari tadi nggk ada mas melamun."
"Abi dan Umi mengajak kita salaman dengan. pengantin," gumam Zahra.
"Ayolah, setelah ini kita langsung pulang saja."
"Resepsi besok malam apa kita akan datang kembali?"
"Bagaimana sebaiknya menurut kamu?"
__ADS_1
"Kalau kita akan menghadiri resepsi sebaiknya menginap saja. Pasti capek jika harus pulang dan besok kembali lagi."
"Terserah kamu saja."
"Kita beri selamat dulu buat mbak Zeya."
Albirru berjalan perlahan mendekati kedua pengantin yang sedang berbahagia itu.
Apakah secepat ini kamu melupakan aku, Zeya. Kamu tampak sangat bahagia bersama pria pilihanmu itu.
Abi dan Umi menyalami Azril dan Zeya. Umi memeluk tubuh Zeya erat dan tanpa ia sadari air matanya jatuh.
"Semoga kamu bahagia dan menjadi keluarga sakinah mawaddah dan warohmah. Umi hanya bisa berdoa. Tapi Umi harap kamu tetap menganggap kami sebagai orang tuamu. Dan tak memutuskan siraturahmi antara kita."
"Umi, aku tak akan pernah melupakan Umi. Aku pasti akan tetap menjalin siraturahmi dengan Umi dan Abi."
"Maafkan kami yang telat bertemu kamu."
"Ini bukan salah, Umi. Semua sudah menjadi takdir hidupku."
"Abi dan Umi banyak berutang budi pada kedua orang tuamu. Mereka orang yang sangat baik."
Terima kasih, Umi. Aku senang karena akhirinya tau ayah dan ibuku ternyata memiliki sahabat."
"Baik, Abi. Terima kasih."
Setelah Abi dan Umi berlalu dari hadapan Zeya, Zahra langsung memeluknya.
"Selamat menempuh hidup baru, mbak. Semoga bahagia .... "
Akhirnya tiba giliran Albirru yang menyalami Azril. Ia memberikan ucapan selamat.
"Selamat buat kamu dan Zeya. Aku titipkan Zeya. Sayangi ia dan bahagiakanlah. Jangan kamu sakiti hatinya seperti yang pernah aku lakukan. Semoga kalian bahagia."
"Jangan kuatir, karena aku tak akan pernah membiarkan satu tetespun air mata jatuh dipipinya. Karena akan menyakitkan saat kita tau ada pria lain yang menghapus air matanya. Dan hanya penyesalan yang kita dapat setelah melihat ia bisa tersenyum bersama pria lain."
Azril menekan setiap ucapannya. Ia memang sengaja menyindir Albirru.
Albirru yang tau ucapan Azril itu untuk dirinya hanya bisa terdiam. Ia mendekati Zeya.
"Semoga kamu bahagia. Dan tak ada lagi air mata yang membasahi pipi kamu."
__ADS_1
"Terima kasih, mas. Semoga mas dan Zahra juga bahagia."
"Aamiin. Kami pamit dulu." Albirru berjalan perlahan meninggalkan Azril dan Zeya.
.......................
Azril dan Zeya masuk ke kamar. Raja dan Ratu masih bersama Mira dan Mami. Zeya telah meminta Mira buat mengantar sikembar ke kamar. Tapi mami melarang. Raja dan Ratu hingga besok menjadi tanggung jawab mami. Zeya diminta tak usah memikirkan anaknya dulu.
Zeya duduk ditepi ranjang dengan sedikit gugup. Setahun lebih ia tak pernah berdua pria dalam satu kamar. Zeya memandangi Azril yang sedang membuka pakaiannya. Tak tampak kecanggungan didirinya walau mereka baru hari ini berada sedekat ini lagi.
"Kenapa memandangi aku seperti itu," ucap Azril. Ia berjalan mendekati Zeya dengan telanjang dada.
"Mas nggak malu," cicit Zeya
"Kenapa harus malu. Kamu saat ini sudah menjadi istriku."
"Kita tak pernah sekamar lagi sejak saat itu. Dan aku pun tak mengingatnya."
Azril secara tiba-tiba mengangkat tubuh Zeya membuat wanita itu kaget dan berteriak.
"Jangan teriak, nanti ada yang dengar." Azril mendudukan tubuh Zeya dipangkuan. Dipeluknya pinggang ramping wanita itu. Zeya melingkarkan tangannya di leher Azril, ia takut jatuh.
"Aku bahagia akhirnya bisa memeluk dan menyentuh tubuhmu. Telah lama aku menahan diri ini. Aku tak mau kamu marah dan menjauhiku jika aku melakukan itu. Padahal aku sebenarnya sulit untuk menahan."
"Maksud mas, apa?"
"Dari pertama aku mendekati kamu lagi, sebenarnya aku ingin sekali mengecup bibirmu ini."
"Mas ... itu dosa. Berarti selama ini mas selalu berpikiran mesum saat bersamaku."
"Aku ini pria normal, Zeya."
Tangan Azril yang berada dipinggang Zeya mulai nakal, tangannya merayap masuk kedalam kebaya Zeya.
Bersambung.
************************
Selamat pagi semuanya. Gimana bab ini, ikut bahagia nggak melihat Azril dan Zeya telah bersama. Ikuti terus ya novel ini.
Sambil menunggu novel ini update kalian bisa mampir di novel teman mama. Terima kasih. ❤❤❤❤💜💜💜💜😍😍😍😍
__ADS_1