
Zeya dan Azril berjalan di lorong rumah sakit menuju ruang dokter kandungan. Zeya memeluk lengan suaminya selama berjalan.
Ketika sampai di depan ruang dokter, Zeya kaget melihat Zahra yang duduk sendirian sedang memainkan ponselnya.
"Zahra ...." ucap Zeya. Zahra yang sedang menunduk mengangkat wajahnya. Tersenyum ketika tau yang memanggil dirinya adalah Zeya.
"Mbak Zeya, apakabar?"
"Baik, kamu sendirian," ujar Zeya dan duduk di samping Zahra. Azril mengikuti dengan duduk di sebelah Zeya.
"Iya, mbak."
"Kamu mau berobat ke dokter kandungan ini juga."
"Iya, mbak."
"Kenapa sendirian. Mas Albirru mana."
"Di Pekanbaru."
"Jadi kamu ke Jakarta sendirian. Orang tua kamu atau orang tua mas Albirru tak menemani."
"Aku sengaja pergi sendirian. Sambil menikmati liburan. Aku tak mau orang tua dan mertuaku tau jika aku ke Jakarta bukan hanya pergi liburan tapi juga berobat." Zahra tampak menarik nafasnya sambil tersenyum.
"Mbak juga mau kontrol."
"Aku mau periksa. Mas Azril takut jika aku hamil karena udah telah datang bulan seminggu ini."
__ADS_1
"Bahagia pasti mbaknya. Sebentar lagi kenali dapat bayi," lirih Zahra.
"Suatu saat kamu pasti juga akan hamil. Tapi maaf, apa nggak sebaiknya kamu datang periksa bersama mas Albirru. Bukankah jika mau program hamil harus berdua konsultasinya. Siapa tau ada masalah juga pada diri mas Albirru."
"Mas Albirru itu tak ada masalah. Aku yang menjadi masalahnya. Buktinya saat ini Thalita sedang hamil," gumam Zahra.
"Siapa itu Thalita. Apa hubungannya."
"Istri muda mas Albirru," lirih Zahra.
"Istri muda, maksudnya apa? Apa mas Albirru menikah lagi?"
"Ya, aku yang minta. Karena dokter mengatakan sulit bagiku buat hamil lagi."
Zeya menggenggam tangan Zahra memberikan kekuatan pada wanita itu. Ia tau bagaimana perasaan Zahra saat ini.
"Semoga kamu bisa sabar dan tabah menjalaninya. Aku mengerti bagaimana perasaan kamu saat ini, karena aku dulu juga mengalaminya. Sangat sedih ketika tau madu kita bisa hamil sedangkan kita belum. Tapi aku yakin kamu kuat menjalaninya. Jika kamu sudah berusaha bertahan, tapi hatimu tak bisa juga menerima kamu bisa tinggalkan semua. Seperti diriku dulu. Karena kita juga berhak bahagia. Jangan berkorban seperti lilin, yang rela membakar dirinya untuk menerangi orang lain. Aku bukan mengajari atau meminta kamu pergi, aku cuma mengingatkan jika kita juga perlu memikirkan kebahagiaan kita. Jangan terlalu banyak berkorban, jika semua itu hanya membuat luka."
"Zahra, kamu jangan pesimis begitu. Siapa tau ada pria yang bisa menerima kamu apa adanya. Tapi jangan kamu berpikir jika aku menghasut kamu buat Pisah. Aku hanya memberikan gambaran. Kamu lihatlah pria disebelahku ini. Apa yang kurang pada dirinya. Tampan, mapan dan baik, Aku tak pernah berpikir akan memiliki suami seperti mas Azril. Tapi itulah takdir, tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki."
"Mungkin ini karma bagiku karena dulu pernah menyakiti,Mbak."
"Hei ... pemikiran apa ini. Kamu itu tak sepenuhnya salah. Kita berdua adalah korban kebohongan mas Albirru."
"Tapi saat kita masih menjadi istri mas Albirru, aku selalu saja ingin menguasai dirinya. Terus terang saat itu aku berpikir, yang lebih berhak atas mas Albirru adalah diriku. Karena aku istri sahnya. Aku yang manja dan egois tak pernah berpikir, jika apa yang aku lakukan itu menyakiti hati dan perasaan wanita lain yang sebenarnya lebih berhak atas mas Albirru karena ia adalah istri pertama."
"Sayang, nama kamu udah dipanggil," bisik Azril.
__ADS_1
"Maaf, Zahra. Aku harus meninggalkan kamu sendiri. Namaku telah di panggil."
"Mbak, apa aku boleh bermain ke rumah."
Zeya tidak langsung menjawab, ia memandang ke arah Azril meminta persetujuan. Azril akhirnya mengangguk. Zeya memberikan kartu namanya.
"Jika kamu ingin bertemu aku, bisa datang ke toko roti ini. Kamu minta saja karyawan menghubungi aku jika telah sampai di sana."
"Baik, Mbak. Terima kasih."
Zeya pamit ingin masuk ke dalam ruang dokter kandungan itu. Sampai di dalam ia dan Azril dipersilakan duduk. Dokter itu mengenalkan dirinya. Namanya dokter Zulaida. Ia dokter kandungan teman tante Febby. Azril dan Zeya juga mengenalkan diri mereka.
"Apa ada yang bisa saya bantu bapak Azril dan ibu Zeya."
"Aku ingin periksa kandungan. Telah seminggu datang bulannya telat."
"Kalau gitu ibu Zeya silakan ke kamar mandi ditemani perawat saya. Kita cek urine dulu."
Dokter Zulaida meminta perawat untuk menemani Zahra. Ia diminta menampung air seninya. Azril yang menunggu duduk dengan gelisah.
Semoga hasilnya Zeya positif hamil, aku sudah tak sabar ingin memiliki bayi lagi.
Bersambung
******************
Terima kasih buat semua pembaca novel ini. Apakah Zeya positif hamil??. Tunggu terus ya kelanjutannya. ❤❤❤❤❤
__ADS_1
Sambil menunggu novel ini update, mampir juga ke novel teman mama.