Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 77. Raja dan Ratu


__ADS_3

"Aku tak mau ayah, aku mau Daddy aja," ucap Ratu makin mempererat pelukannya.


"Aku juga tak mau ayah," ucap Raja lagi.


"Raja, Ratu, bunda tak suka kalau anak-anak bunda tersayang ngomongnya begitu." Zeya berusaha membujuk Raja dan Ratu.


"Ratuku, apa kamu sayang daddy."


"Sayang ...."


"Kalau Ratu sayang daddy, Ratu juga harus sayang sama ayah Albirru. Karena ayah juga sama kayak daddy."


Ratu yang melingkarkan tangannya di leher Azril memandangi wajah Albirru. Ia lalu memandangi wajah Azril.


"Ratu maunya sayang Daddy aja." gumamnya pelan sambil menunduk.


"Iya, Daddy mengerti. Tapi Ratu bisa nggak belajar menyayangi ayah. Ratu bisa mulai dengan bermain bersama ayah. Begitu juga Rajaku."


"Apakah aku harus sayang sama ayah? Jika tidak mau, Daddy akan marah," ucap Raja.


"Apa Daddy pernah marah?"


"Nggak, Daddy."


"Sekarang Daddy mau Raja bersalaman dengan ayah. Raja bisa turun sendiri?"


"Tentu bisa, Daddy. Karena aku sudah gede."


Raja berusaha turun dari tempat ia duduk tanpa bantuan. Ia mendekati Albirru. Ketika telah berhadapan, ia mengulurkan tangannya.


"Bagaimana cara memperkenalkan diri dengan baik, Rajaku" Azril mencoba menghilangkan rasa takut Raja.


"Kenalkan, nama saya Raja." Ia mengulurkan tangannya pada Albirru.


"Raja, kamu tambah ganteng."


"Apakah ayah pernah ketemu aku."


"Tentu aja ayah pernah bertemu. Bukankah kamu anak ayah?"


"Aku anak ayah."


"Iya, nak."


"Bukannya aku anak Daddy."


"Raja, kamu anak daddy dan ayah. Kamu termasuk anak yang beruntung karena memiliki dua ayah."


"Kamu mau duduk dekat ayah." Kembali Raja memandangi Daddy nya mendengar ucapan Albirru.


"Nggak apa, kamu duduk aja."

__ADS_1


"Kenapa ayah baru datang sekarang," gumam Raja.


"Maafkan ayah, karena kesibukan ayah tidak bisa datang selama ini."


"Sekarang Ratu turun dari pangkuan Daddy. Kenalkan juga diri Ratu." Zeya memandangi Ratu yang terus saja memeluk Azril.


Ratu dan Raja lebih takut pada Zeya. Jika Zeya memandangi wajahnya lama, berarti ada sesuatu yang salah telah ia lakukan.


"Daddy, aku maunya Daddy.bukan ayah," bisik Ratu ditelinga Azril.


"Daddy tau, Sayang. Ayah hanya ingin bermain dan kenalan."


Akhirnya Ratu minta diturunkan juga dari pangkuan Azril.


Ratu menjabat tangan Albirru dan mengenalkan dirinya. Ditemani Azril dan Zeya akhirnya mereka berdua mau bermain dengan Albirru.


"Kemana aja ayah selama ini, kenapa baru datang?" ucap Raja mengulang pertanyaannya. Ia memang lebih sulit untuk didekati.


"Ayah sibuk, nak."


"Emang sekarang ayah tak sibuk."


"Tidak, mulai hari ini ayah janji akan sering datang."


"Kata ibu guru, ayah dan ibu itu tinggal serumah. Kenapa ayah tidak tinggal serumah aja dengan bunda."


"Bukankah sudah ada daddy Azril."


"Iya, aku lupa." Raja akhirnya terdiam.


"Boleh."


"Apakah kamu disekolah termasuk anak yang pintar."


"Tentu saja, aku sangat pintar," jawab Raja dengan angkuhnya.


"Aku yang lebih pintar," jawab Ratu pula.


"Siapa yang bilang, aku yang lebih pintar."


"Ayah yakin kedua anak ayah pintar. Jadi jangan bertengkar lagi," ucap Albirru.


Dua jam lebih Albirru mengajak Raja dan Ratu bermain bersama Zahra. Ia terus saja berusaha agar kedua anaknya mau dekat dengan dirinya dan tidak merasa takut lagi.


"Raja, Ratu, ayah pamit dulu. Besok ayah boleh bermain lagi. Kalian nggak bosan, kan?"


"Boleh, ayah," ucap Raja pelan.


"Mas Azril dan mbak Zeya, aku dan mas Al pamit dulu. Maaf jika kehadiran kami merepotkan, Mbak" Zahra lalu memeluk Zeya.


"Nggak merepotkan, Zahra. Kamu jangan sungkan begini."

__ADS_1


"Raja, Ratu, ayah pamit." Albirru mengecup kedua pipi anaknya sebelum meninggalkan toko roti.


......................


Setelah mobil Albirru menghilang, Raja dan Ratu langsung memeluk bunda dan daddynya.


"Daddy, apakah ayah juga akan tidur berdua bunda seperti Daddy," ucap Ratu yang saat ini telah berada dalam pangkuan Azril lagi.


"Tidak sayang. Yang boleh tidur dengan bunda hanya daddy, Oma dan kalian berdua."


"Tapi kenapa panggil ayah."


"Karena ayah Albirru adalah ayah Raja dan Ratu juga."


"Aku tak ngerti."


"Nanti setelah Ratuku dewasa, pastilah akan mengerti. Sekarang kita pulang lagi."


"Aku mau es krim," ucap Ratu manja.


"Di rumah masih ada es krim, kan?"


"Aku mau yang baru."


"Baiklah, apa yang tidak buat Ratuku." Azril mengacak rambut putri kesayangannya itu.


Zeya meminta Asti untuk membuka toko roti kembali. Setelah itu ia pamit pulang bersama Azril.


.........................


Albirru selama di Jakarta, menggunakan mobil yang ia sewa. Sebelum kembali ke hotel, Albirru mengajak Zahra makan.


"Raja mirip banget dengan mas," ucap Zahra.


"Ya, aku seperti bercermin ketika melihatnya. Banyak fotoku waktu kecil, sangat mirip Raja. Kamu bisa melihat saat kita pulang kampung."


"Setiap orang yang mengenal Mas, jika bertemu Raja pasti akan langsung tau jika ia anak, Mas."


"Aku sebenarnya sangat iri pada Azril. Kenapa ia begitu disayangi kedua anakku. Sedangkan denganku mereka seolah takut."


"Suatu saat pastilah mereka akan menyayangi mas seperti mereka menyayangi Azril."


"Semoga aja, mas sangat berharap demikian."


Aku akan sering datang mengunjungi Raja dan Ratu hingga ia bisa menerima kehadiranku.


Bersambung


***********************


Terima kasih banyak buat semua pembaca yang masih terus setia menanti kelanjutan dari novel ini. 😍😍😍😍😍

__ADS_1


Sementara menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama ini.



__ADS_2