Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 83. Zahra dan Thalita


__ADS_3

Zahra dan Thalita masih berada di kafe. Pesanan mereka telah datang. Thalita tampak lahap menyantap hidangan yang ada di meja.


"Mbak Zahra nggak makan."


"Oh ... iya, nih mbak makan. Bagaimana kandunganmu?"


"Alhamdulilah sehat, Mbak."


"Udah berapa bulan, dek."


"Udah mau masuk tujuh bulan, mbak. Aktif banget."


"Perempuan apa laki-laki."


"Perempuan ,Mbak."


"Semoga kamu dan baby sehat hingga hari lahiran."


"Coba aja anakku kembar, pasti akan aku beri buat mbak Zahra satu. Tapi mbak jangan bersedih, aku yakin suatu saat mbak juga akan hamil lagi."


"Aamiin."


"Apakah menurut Mbak, mbak Zeya itu cantik,ya."


"Cantik itu relatif. Kamu udah pernah melihat fotonya."


"Udah, di rumah yang aku tempati saat ini banyak foto mbak Zeya. Kata mas Al rumah itu dibeli buat mbak Zeya, tapi ia tak mau menerimanya. Dari pada kosong terus, makanya aku dan mas Al yang tempati sekarang."


"Kalau menurut Mbak, ia berwajah ayu. Setiap pria yang melihat pasti akan menyukainya. Wajahnya teduh. Membuat adem. Sesuai dengan sifat mbak Zeya yang sabar dan lembut," gumam Zahra.


"Apakah menurut Mbak, Mas Al masih mencintai mbak Zeya."


"Tentu saja. Mas Al pernah berkata jika mbak Zeya adalah wanita pertama dalam hidupnya."


"Mas Al juga pernah ngomong begitu. Oh ya Mbak, apakah mbak yang minta mas Al kerumah pulang kerja ini."

__ADS_1


"Kenapa kamu tanyakan itu?"


"Mas Al tadi pamit jika pulang kerja langsung ke rumah Mbak. Ada yang perlu diomongkan. Apa ketika di Jakarta mbak sangat sibuk sehingga baru bisa bicara saat telah kembali."


"Apa itu artinya kamu tak izinkan mas Al ke rumah, Mbak?"


"Bukannya aku tak izinkan, Mbak. Aku cuma bertanya. Mbak, jangan langsung marah."


"Kenapa aku harus marah? Dan apakah aku tadi kelihatan marah?"


"Mas Al tidur di rumah, Mbak?"


"Terserah mas Al aja. Aku tak pernah mamaksa dan memintanya. Aku tau kamu lebih membutuhkan mas Al. Saat ini kamu sedang hamil dan butuh perhatian lebih. Kalau kamu keberatan jika nanti mas Al datang aku minta kembali aja kerumahmu."


"Terima kasih, Mbak. Karena selalu mengerti aku. Tapi betulkan Mbak nggak marah?"


"Aku memang harus mengerti kamu, karena aku yang meminang kamu untuk jadi istri mas Al."


"Mbak, aku bukannya egois. Tapi aku saat ini memang sangat mengharapkan pengertian dari, Mbak. Apa lagi nanti saat aku hamil sembilan bulan. Aku pasti akan meminta waktu mas Al lebih banyak. Mas Al harus bisa menjadi suami siaga. Aku takut nanti jika saatnya melahirkan mas Al tak disampingku."


"Aku tak akan keberatan Thalita. Dari awal aku sudah meyakinkan kamu jika aku tak akan marah dan kecewa jika mas Al menghabiskan lebih waktunya bersama kamu. Aku seharusnya berterima kasih karena kamu bisa mewujudkan mimpi mas Al untuk dapat memiliki keturunan."


"Baiklah. Apa masih ada yang ingin kamu katakan lagi."


"Aku rasa tidak ada lagi."


"Kalau begitu mbak pamit. Kamu bisa pulang sendiri."


"Bisa, mbak. Hati-hati."


"Kamu juga harus hati-hati."


Zahra berdiri dan meninggalkan kafe setelah pamit dan memeluk Zahra.


__ADS_1


................


Malam harinya Azril dan anggota keluarga yang lainnya, berkumpul di ruang keluarga setelah menyantap hidangan makan malam. Mami tampak gelisah sambil menatap ponselnya.


"Azril, ada yang ingin mami katakan."


"Silakan, mi. Tak ada larangan, kan?"


"Besok mami minta izin untuk ke Pekanbaru. Sebenarnya mami berharap kamu juga ikut. Tapi jika kamu sibuk, biar mami aja."


"Apa yang terjadi, kenapa mami ingin aku ikut ke Pekanbaru."


"Papi lagi sakit. Saat ini sedang di rawat intensif."


"Mami masih memikirkan pria itu."


"Pria itu papi kamu, Azril. Di luar kesalahan yang ia lakukan padamu, dulu saat kamu kecil papi yang paling menyayangi kamu."


"Kenapa mami masih saja memikirkan dirinya."


"Mami takut tidak dapat bertemu lagi."


"Maksud mami apa?"


"Papi sedang terbaring sakit dengan kondisi yang memprihatinkan. Ia mengalami komplikasi. Mungkin saja ini pertemuan terakhir kita. Bukannya mami mengharapkan hal buruk terjadi pada papi ...." Mami menjeda ucapannya.


"Mami hanya takut kamu menyesal karena tidak bisa bertemu papi terakhir kalinya."


Azril hanya diam memikirkan ucapan maminya. Di dalam hatinya, ia masih dendam atas apa yang pernah papi nya lakukan. Tapi ia juga tak bisa memungkiri jika ia juga sangat kuatir atas keadaan papi.


Bersambung


******************


Bagaimana perasaan Zahra saat ini?. Apakah ia akan meminta Albirru kembali ke rumah Thalita? Nantikan terus ya kelanjutan novel ini.

__ADS_1


Sambil menunggu novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama di bawah ini.



__ADS_2