Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan

Berbagi Cinta: Noda Merah Pernikahan
Bab 103. Akhir Kisah Thalita


__ADS_3

Sementara itu Zahra yang sedang di rumah sendirian dan sedang di dapur buat masak tiba-tiba menjatuhkan gelas dan hampir mengenai kakinya jika ia tak segera menghindar.


Ada apa ini? Kenapa perasaan aku tak enak. Ya Tuhan jangan buat aku berpikir buruk. Selamatkan suami dan semua keluargaku yang sedang dalam perjalanan.


Zahra mengambil sapu dan membersihkan pecahan kaca tadi. Ia lalu duduk di kursi makan, tidak jadi meneruskan memasaknya.


Ia memegang dadanya yang terasa berdetak lebih cepat dari biasanya. Zahra lalu mengambil ponselnya.


Apa aku coba hubungi saja ponsel mas Al. Tapi pasti ia masih diperjalanan, jika aku menghubunginya pasti akan mengganggu.


Setelah berpikir cukup lama, Zahra baru ingat kenapa ia tak mencoba menghubungi ponselnya Thalita atau Umi.


Di rumah sakit Albirru masih tampak lemas mendengar kenyataan yang diucapkan dokter.


Ia tak ingat menghubungi Zahra, karena rasa paniknya.


Zahra yang mencoba menghubungi Thalita beberapa kali akhirnya tersambung.


"Assalamualaikum, Thalita. Udah sampai mana"


"Maaf Mbak, ini saya petugas kepolisian."


Mendengar ucapan seseorang yang mengaku petugas kepolisian membuat perasaan Zahra makin tak keruan.


"Maaf pak, kenapa ponsel saudara saya ada ditangan bapak."


"Kami dari pihak kepolisian hanya ingin mengamankan semua barang yang ada di mobil."


"Iya, Pak. Tapi kenapa bisa ditangan Bapak, tolong jelaskan?"


"Kebetulan, penumpang pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan."


Tubuh Zahra langsung gemetar. Tangannya hampir saja menjatuhkan ponsel itu. Dengan suara gemetar Zahra kembali bertanya.


"Bagaimana keadaannya, Pak. Dan penumpang yang lain juga dimana."


"Saat ini semua penumpang lagi ditangani tim medis."

__ADS_1


"Boleh saya tau di rumah sakit mana mereka di bawa. Bagaimana keadaan mereka."


"Sebaiknya ibu segera menuju ke rumah sakit C, untuk dapat memastikan keadaannya."


"Baiklah, Pak. Terima kasih."


Zahra menutup sambungan ponselnya. Ia menghubungi taksi untuk mengantarnya menuju rumah sakit yang dikatakan pihak yang berwajib.


Albirru yang mulai dapat mengontrol rasa kagetnya akibat semua yang terjadi mengambil ponselnya. Ia baru teringat Zahra.


Albirru menekan nomor Zahra dan menghubunginya. Tak berapa lama terdengar suara Zahra yang terdengar sangat cemas.


"Assalamualaikum, Mas. Bagaimana keadaan kamu dan lainnya. Aku dapat kabar dari pihak kepolisian jika Mas mengalami kecelakaan." Cecar Zahra begitu ponselnya tersambung.


"Zahra kamu bisa datang ke rumah sakit C sekarang juga," ucap Albirru dengan suara lemah.


"Aku sedang dalam perjalanan saat ini. Mas. yang tenang aja dulu."


Zahra mematikan sambungan ponselnya. Albirru terduduk dengan lemasnya. Dokter keluar dari ruang operasi.


"Bagaimana istri saya, Dok," ucap Albirru cemas.


"Lalu bagaimana keadaan istri saya sebenarnya, Dok?"


"Nyawa istri bapak tidak bisa diselamatkan, tapi bayi Bapak dapat kami tolong. Dan saat ini bayi bapakpun harus mendapatkan perawatan intensif."


Tubuh Albirru terasa lemas. Ia terduduk ke lantai mendengar berita jika Thalita telah tiada. Ia tak bisa mendengar apa yang diucapkan dokter selanjutnya.


Dokter menepuk pundak Albirru sebelum masuk kembali ke ruang operasi.


"Saya harap bapak bisa tabah dan ikhlas menerima semua kenyataan ini. Maaf saya harus ke dalam sebentar." Dokter itu meninggalkan Albirru yang masih terduduk di lantai.


Diruangan lain, Umi dan Abinya juga sedang berjuang. Dokter masih menangani mereka.


Zahra yang baru sampai di rumah sakit melihat dari kejauhan Albirru yang duduk dilantai dengan tangan yang terus menarik rambutnya. Keadaannya tampak kacau sekali.


Zahra mendekati suaminya dan memeluknya. Luka-luka memar tampak di sekitar lengannya.

__ADS_1


"Mas ...." ucap Zahra.


"Zahra, Thalita ...." Albirru tak bis melanjutkan ucapannya. Zahra membawa Albirru ke dalam pelukannya.


"Kenapa Thalita,Mas."


"Thalita ... Thalita ...."


"Iya, Mas. Thalitanya kenapa?"


"Thalita telah tiada," ucap Albirru akhirnya dengan terbata. Zahra yang kaget mendengar ucapan Albirru juga terduduk di lantai karena tubuhnya terasa membeku.


"Tak mungkin, kenapa Thalita secepatnya ini pergi ...." Tangis Zahra pecah.


"Ini salah, Mas," ucap Albirru terpukul. Ia lalu meninju dinding yang ada dibelakangnya.


"Seharusnya mas tidak mengebut. Dan istirahat dulu sebelum berangkat." Tangis Albirru pun pecah. Tampak penyesalan yang mendalam dari raut wajahnya.


Dokter keluar dari ruangan operasi tadi. Ia menghampiri Zahra dan Albirru yang masih terisak.


"Maaf, Pak. Jenazah bu Thalita telah kami pindahkan ke ruang mayat. Bapak bisa melihat dan mengurus administrasinya."


"Baik, Dok. Kami akan segera ke sana." Zahra yang menjawab ucapan dokter.


"Kalau begitu saya permisi."


"Bagaimana bayinya, Dok."


"Bayinya berada di ruang NICU untuk mendapatkan perawatan yang intensif."


"Terima kasih, Dok. Tolong bayinya. Selamatkan bayi itu, Dok."


"Kami akan berusaha semampu kami."


Dokter itu pamit dan meninggalkan Zahra dan Albirru yang masih menangis menyesali semua yang telah terjadi.


Bersambung

__ADS_1


*****************


Bagaimana keadaan Abi dan Umi? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini. Terima kasih.


__ADS_2