
Albirru berjalan dengan menggandeng tangan wanita yang berada disampingnya. Mereka masuk ke mobil yang Albirru parkir di halaman restoran itu.
"Mas, kita langsung pulang."
"Kamu mau kemana lagi," ucap Albirru.
"Kita mampir ke supermarket dulu mas. Aku pengin jambu," rengek wanita itu.
"Baiklah, kita ke supermarket dulu."
Wanita muda itu bernama Nazwa Thalita yang biasa dipanggil Thalita atau Lita. Istri muda Albirru yang dinikahinya enam bulan lalu dan saat ini sedang hamil muda sekitar dua bulan.
Zahra yang memilihkan wanita buat madunya. Ia masih saudara jauh dari Zahra. Setelah mencoba bertahan selama satu setengah tahun dan sudah mencoba berbagai program kehamilan tapi belum ada hasil, akhirnya Zahra merelakan suaminya menikah lagi.
"Mas, aku mau buah mangga ini." Tunjuk Thalita pada mangga muda itu.
"Kamu yakin akan memakannya. Asam loh," ucap Albirru.
"Aku pengin, mas."
"Baiklah, kita beli." Albirru mengambil tiga biji mangga dan memasukkan ke dalam keranjang belanja.
Setelah Thalita mengatakan cukup, Albirru membayar belanjanya. Dari supermarket barulah mereka pulang.
"Mas, aku mau langsung tidur. Capek ...."
"Pergilah, mas mau menonton sebentar ."
Thalita masuk kamar dan langsung membaringkan tubuhnya .
Albirru menyalakan televisi, tapi pikirannya menerawang entah kemana. Ia teringat akan Zahra yang pergi ke Jakarta seorang diri.
Istrinya itu sedang berobat ke salah seorang dokter kandungan kenalan orang tuanya. Zahra tidak pernah berhenti berusaha berobat demi bisa hamil lagi, walau saat ini Albirru telah menikah kembali.
...............
Zeya pamit ke supermarket terdekat dari rumahnya untuk membeli sesuatu. Azril yang tak mau istrinya pergi sendirian menemaninya.
Zeya memilih beberapa bahan buat kebutuhan toko rotinya. Ia telah membuka toko roti kembali dekat dengan perusahaan Azril.
Saat sedang memilih apa yang akan ia beli, Zeya melihat sesosok bayangan yang sangat ia kenal.
"Mas, bukankah itu Zahra." Zeya menunjuk ke arah Zahra yang seorang diri.
"Iya, tapi tampaknya ia seorang diri. Mana Albirru."
__ADS_1
"Apa aku boleh samperin."
"Terserah kamu aja."
Zeya mengajak Azril untuk menemui Zahra yang sedang asyik memilih belanjaannya.
"Assalamualaikum, Zahra."
"Waalaikumsalam," jawab Zahra. Ia membalikkan badannya, ingin melihat siapa yang menyapa.
"Mbak Zeya!" Zahra langsung memeluknya dan tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi baju Zeya. Lama ia menangis dipelukan Zeya.
Setelah isak tangisnya sedikit reda, ia melepaskan pelukannya.
"Mbak, maafkan aku."
"Kenapa kamu minta maaf?"
"Aku banyak salah dengan mbak. Jika saja aku tak hadir di dalam rumah tangga mbak, dan andai aku tak egois, mungkin saat ini mbak dan mas Albirru pasti berbahagia," ucap Zahra di sela tangisnya.
Zeya memandangi wajah Azril yang tampak sedikit berubah mendengar ucapan Zahra. Ia langsung memeluk lengan suaminya itu.
"Zahra, kamu jangan pernah merasa bersalah lagi. Semua itu sudah menjadi takdir-Nya jika aku hanya bertemu sebentar dengan mas Albirru. Justru aku harus berterima kasih padamu, karena kehadiran kamu dalam rumah tanggaku aku jadi mengenal seorang pria yang sangat baik dan sempurna seperti suami aku saat ini." Zeya bersandar di bahu suaminya itu.
"Maaf, mas." Zahra mengucapkan maaf sambil tertunduk.
"Nggak apa. Aku juga terima kasih padamu, jika kamu tak hadir di rumah tangga Zeya pasti saat ini ia masih bertahan dengan suaminya. Dan aku tak akan pernah mengenal seorang wanita sabar dan baik hati seperti ini." Azril mengecup pucuk kepala istrinya yang ditutupi hijab.
"Terima kasih,mas. Untuk semua cintamu." Zeya makin mempererat pelukannya di lengan Azril.
"Kamu sendirian aja, Zahra," ucap Zeya.
"Ya, mbak."
"Kamu dan mas Albirru tinggal di kota ini?"
"Bukan, mbak. Aku ke Jakarta ini hanya buat berobat."
"Kamu sakit apa?" Zeya tampak kuatir mendengarnya.
"Aku hanya lagi berobat untuk kesuburan rahimku, agar aku bisa hamil kembali," lirih Zahra.
"Kamu belum hamil lagi?"
"Belum mbak, mungkin ini teguran padaku karena pernah membuat mbak keguguran saat tau mas Albirru menikahi aku dulu."
__ADS_1
"Jangan kamu ingat itu lagi. Semuanya telah mbak lupakan. Tak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi. Saat ini mbak hanya memikirkan masa depan bersama pria yang paling baik ini dan anak-anakku."
"Mbak beruntung mendapatkan suami yang baik dan sangat mencintaimu," cicit Zahra.
"Kenapa kamu hanya sendirian, bukankah pengobatan kehamilan itu lebih baik bersama suami."
"Mas Albirru sibuk." Zahra menunduk saat mengucapkan itu.
"Oh ...." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Zeya.
"Mbak, mas Albirru sangat merindukan Raja dan Ratu. Kenapa mbak tak izinkan ia menghubungi mbak lagi. Kenapa nomornya di blokir. Dan saat ia datang ke Jakarta tak bis menemuinya. Mas Albirru memang pernah berbuat salah, tapi bagaimana pun ia adalah ayah kandung Raja dan Ratu,mbak."
"Siapa yang blokir nomor mas Albirru?"
"Ya, bukankah mbak yang memblokirnya?"
Zeya memandangi wajah Azril meminta penjelasan dengan pandangannya. Azril tak sanggup membalas tatapan istrinya. Ia membuang mukanya.
"Oh, itu. Mbak dan mas Azril ganti nomor ponsel. Bukannya sengaja memblokir," ucap Zeya.
"Oh, gitu ya. Bisa aku minta nomor barunya mbak Zeya."
"Maaf Zahra, nomor ponselku hanya ada nomor mas Albirru dan mami. Kalau kamu mau menghubungi aku bisa dengan nomor mas Azril."
"Boleh aku minta nomornya, mas."
Azril memberikan kartu namanya. Di sana hanya tertera nomor ponsel buat bisnis dan juga telepon kantornya. Ponsel itu biasa dipegang asistennya.
"Maaf, Zahra. Kami pamit dulu."
"Baik mbak. Salam buat Raja dan Ratu. Pasti telah besar saat ini.
"Nanti mbak sampaikan." Zeya memeluk Zahra sebelum ia pergi meninggalkan wanita itu.
"Mas hutang penjelasan padaku," ucap Zeya saat kembali ke kasir untuk membayar belanjaan yang tadi ia tinggalkan di keranjang dekat kasir.
Bersambung
********************
Terima kasih buat semua pembaca setia novel NODA MERAH PERNIKAHAN. Tak terasa kita telah sampai di ujung tahun. SELAMAT MENYAMBUT TAHUN BARU. SEMOGA LEBIH BAIK DARI TAHUN SEBELUMNYA. 😍😍😍😍😍😍
Sementara menanti novel ini update, bisa mampir ke novel teman mama. Masih tema berbagi cinta.
__ADS_1